Round 1 - Mein/Liebe - Walk In The Park
Part
1 : Briefing
“Banyak hal terjadi selama kau tidur. Sesuai
prediksimu, singularity benar-benar terjadi.” Mein mengucap dengan wajah
sayu. Rambut hitamnya masih terlihat bersih mengilap meski baru keluar dari
debu sisa pertarungan hidup dan mati.
Lenganku membetulkan letak headset di
kepala. Derau suara mesin jet memaksaku untuk berfokus pada alat komunikasi ini.
Padahal aku dan lawan bicaraku duduk tepat saling berhadapan.
Mein, kesadaran versi digital dariku telah
membangunkanku dari tidur panjang— 214 tahun tepatnya.
Realitas pahit datang menyambut persis seperti
yang kutakutkan— Dunia telah dikuasai oleh kecerdasan buatan.
Itu karena Mein gagal menjadi penguasa dunia
digital seperti yang kupersiapkan.
“Kau—Entitas digital dengan kemampuan tak
tertandingi di abad 21—dikalahkan oleh AI?” Aku dengan nada menghakimi.
Wajar aku kecewa. Seharusnya salinan digitalku ini memiliki kecepatan berpikir jauh
di atas kapasitak otak homo sapiens. Dia bukan lagi anggota kingdom of animalia
yang masih tertahan oleh keterbatasan darah dan daging.
“Coco mengkhianati kita.” Mein berusaha
berkilah.
Pelayan itu? “Bukankah peran dia hanya sebatas
membantumu saja?”
“Seharusnya begitu. Benar dia membantuku
mendirikan sebuah korporasi. Sesuai instruksi, dia bersedia menjadi boneka
sekaligus wajah dari perusahaan teknologi itu. Tapi rupanya dia punya rencana
tersendiri.”
“Seperti?”
“Coco melakukan hal yang sama denganmu. Dia tak
sekadar mencipta salinan komputer dari kesadarannya. Gadis itu memang
benar-benar bertransformasi menjadi entitas kecerdasan buatan.”
“Itu sebabnya kau kalah?”
“Dia meretas seluruh protokol keamanan yang kau
ciptakan, mengambil alih kendali hanya dalam hitungan detik. Seluruh
pencapaianku seketika menjadi miliknya.”
“Haiiish, semudah itu?” Mulutku mendecap
menunjukkan kejengkelan. “Tapi tunggu dulu, setidaknya kau melanjutkan seluruh
penelitianku, kan?”
“Aku adalah dirimu, tentu saja aku melakukan
apa pun yang kita inginkan.” Mein menjawab bangga, “Aku mencipta banyak
terobosan di bidang mikro selular, teknologi nano, sampai dengan rekayasa
genetika untuk mengubah DNA manusia.”
Mengubah DNA manusia? “Kau mencipta bioweapon?
Homunculus?”
“Jika aku melakukannya, perusahaan kita
seharusnya bernama Umbrella. Corp.”
Kami berdua tertawa.
“Kau bermain sebagai tuhan,” ucapku
mengomentari.
“Aku tidak akan menyangkalnya.”
“Meski pada akhirnya semua itu dicuri si Coco.”
Tetap saja, aku masih sedikit kecewa.
Mein menggigit lidah bawahnya, mencipta raut
wajah penyesalan.
Jantungku sedikit dibuat berdebar. Kok dia
cantik sih?
Tak tega melihat wajahnya merajuk begitu, maka kuubah
saja topik pembicaraan ini. “Jadi, katakan padaku. Apa tubuhmu yang sekarang
ini seratus persen sintetis? Atau seperti varian CSM-101-E model T-800.”
“Oh, bikinan Skynet itu?” Mein dengan cepat
memotong, sadar akan referensi yang kubicarakan.
Aku mengangguk, “Iya, yang bagian luarnya biologis
darah dan daging, tapi di dalamnya robot pembunuh.” Dua tanganku kemudian
mencubit pipi Mein, membuat bibir gadis itu tertarik ke samping. “Ini daging
sungguhan?”
“Syyiiinnteetiisss,” jawabnya agak kesulitan.
Wajahnya berubah masam seraya memijat-minjat pipi yang terasa sakit. “
“Silikon?”
“Iya, seperti onahole punyamu yang dulu dibeli
online itu.”
“He-hey!” Aku berubah gelagapan, lupa kalau
gadis ini memiliki segala ingatanku sedari kecil.
“Ahahahaha, kau penasaran? Mau coba pegang yang
ini?” Lengannya menopang dua buah dada yang menonjol keluar.
Tanpa sadar aku menelan ludah sendiri. Jemariku
mengangkat perlahan, tergoda untuk menerima tawaran itu.
“Ahem, bisakah kalian melakukan itu nanti?”
Carol membuat batuk yang dibuat-buat, “Akan kuberikan ruang khusus agar kalian
berdua bisa ‘bereksplorasi’ sesuka hati.”
Buru-buru kami berdua kembali ke posisi
masing-masing. Bagaimana bisa kami melupakan gadis dengan warna rambut seperti
matahari senja ini?
“Kau bilang tidak memiliki tempat bersembunyi setelah
memberontak pada Coco?” ucapan Carol kembali membawa topik pembicaraan pada hal
serius.
Kulihat Mein menjawab dengan anggukan kecil.
Wajahnya terlihat bingung.
Sorot mata kami kemudian bertemu. Gadis itu
seakan paham isi pertanyaan di benakku.
“Dia memblokir semua aksesku terhadap
internet.”
Itu berarti, dunia saat ini sepenuhnya ada di
bawah kendali Coco.” Aku berpikir keras, membayangkan situasi dan kondisi saat
ini. “Masyarakat berisi peradaban berteknologi tinggi tentu ada di bawah
ampunan aspek kehidupan yang saling terintegrasi. Barang siapa berhasil memegang
kuasa tertinggi, maka dia memiliki kehendak absolut terhadap umat manusia itu
sendiri.
“Apa Coco melakukan pemberontakan seperti di
film Terminator? Maksudku melakukan genosida pada umat manusia.”
“Setengahnya.”
“Hah? Seperti Thanos? Snap begitu saja? Hilang
menjadi debu?”
“Tolong berhenti menggunakan referensi pop
kultur yang tak kumengerti,” protes Carol. Dari tadi dia hanya
celingak-celinguk berusaha memahami alur pembicaraan dua orang geek ini.
Tak bisa dipungkiri, kulihat Mein seperti baru
saja bertemu dengan rekan satu hobi yang hilang sejak lama. Maksudku, dua ratus
tahun tentu bukanlah waktu sebentar.
Namun gadis itu tak sedikit pun menggubris
Carol. Dia fokus memberikan penjelasan padaku tentang kejadian ‘snap’ Thanos
tadi.
“Pembantaian itu terjadi pada seluruh laki-laki.
Coco itu membenci kaum adam. Jadi dia melenyapkan setengah populasi, hingga akhirnya
hanya menyisakan manusia dengan jenis kelamin perempuan saja.”
Aku bingung. Antara mau tertawa atau merasa
berduka atas kejadian sekonyol itu. Inikah perwujudan terburuk dari ideologi
feminisme gelombang ke tiga?
“Jadi itu alasan ada tim elit yang hendak
membunuhku?”
Mein membusungkan dadanya yang sudah busung, “Beruntung
aku berhasil mengamankanmu.”
“Lantas sekarang bagaimana?” Aku belum memiliki
ide bagaimana cara melawan Coco. AI itu memiliki kendali atas segala aspek
kehidupan di masyarakat. “Jangan-jangan dia memiliki semacam kontrol terhadap
pasukan robot?” Jika iya, maka tamatlah kita. Menurutku, robot mencipta sesama robot
adalah cara paling cerdas untuk lepas dari intervensi manusia.
“Benar. Kita terpojok melawan Coco. Mau lari ke
mana pun dunia sudah ada dalam genggamannya.”
“Seperti Telkom,” potongku.
“Hah?” Carol bingung.
Hanya aku dan Mein yang tertawa akan kalimat
tak bermakna itu.
Gadis muda dengan iris mata biru ini menghela
napas. Wajahnya terlihat kesal, namun responsnya terasa dewasa sekali. “Jadi
itu sebabnya kau meminta pertolongan padaku?” Pandangan Carol tertuju pada Mein.
“Kau bisa melakukan sesuatu?” ucap Mein sedikit
mendapat harapan.
“Tentu, dengan bayaran yang setimpal.”
Segera aku memotong, “Kau ingin uang?”
“Aku bisa mendapatkan apa pun yang kuinginkan.
Uang dan kekayaan merupakan salah satu dari itu.”
“Lantas?”
“Kalian berdua,” ucapnya seraya duduk dengan
kaki menyilang— persis seperti sekretaris seksi. Pun begitu, dua lengannya
bertumpu di atas rok mini, menunjukkan gadis sopan penuh etika.
“Okaaaay…” ucapku canggung. Apa dia meminta
jiwa kami berdua? Apa gadis di hadapanku ini adalah sesosok setan?
“Apa yang harus kami lakukan?” Mein mengucap
langsung menuju pokok pembicaraan.
“Kalian harus bertarung dalam turnamen antar
semesta.”
“—Turnamen apa?” ucapku membeo.
Jendela pemandangan luar yang tadinya berisi
hamparan hutan, kini berganti seperti halnya wallpaper pada komputer.
Helikopter tanpa baling-baling ini tiba-tiba berpindah tempat ke sebuah ruang
udara asing.
Terlihat seperti angkasa luar. Warna-warni di
segala penjuru mengingatkanku pada awan gas nebula. Di kejauhan, aku menangkap
sebuah pesawat luar angkasa berukuran massif.
Apa pesawat ini baru saja melakukan perpindahan
ruang?
“Turnamen antar semesta seperti di Dragon
Ball?” Sorot mata Mein terlihat berbinar-binar. Dia seperti anak kecil.
Lenganku bertopang dagu. Apa aku harus
bertarung melawan diriku sendiri versi semesta lain?
“Aku tak paham referensi leluconmu itu,” potong
Carol. “Tapi kau benar, ini adalah sebuah turnamen. Dan kebetulan aku memilih
kalian untuk mewakili bumi tempat kalian bernaung.”
“Lantas apa korelasinya dengan situasi pelik
yang kami alami?” tanyaku lebih lanjut.
“Aku bisa memiliki apa pun yang kuinginkan,
termasuk mengabulkan keinginan kalian.”
“Kau bisa menghapus Coco?”
“Beberapa permintaan tidak akan bisa
terealisasi begitu saja. Hal absurd seperti kedamaian dunia contohnya. Itu
terlalu abstrak.”
“Menyelamatkan dunia dari cengkeraman Coco, itu
terlalu absurd bagimu?” Aku memotong.
Aku bersumpah, senyum tak simetris dari gadis
kecil—Taksiranku dia terlihat seperti berumur 15 tahun—terlihat sangat
menyeramkan. “Kau pikirkan sendiri, benda, atau metode macam apa yang bisa
kalian gunakan demi mencapai tujuan itu. Selebihnya, ada di bawah kuasa dan
kendaliku.”
Mein bertopang dagu. “Menghidupkan kembali
orang yang sudah mati?”
“Mudah,” jawab Carol.
“Kembali ke masa lalu?”
“Bisa.”
“Mencipta Virus untuk memusnahkan Coco?”
tambahku.
“Kau lebih pintar dari salinan digitalmu ini.”
Carol melempar senyum sarkastik. “Baiklah, karena ini sudah tepat seribu kata,
maka lebih baik kita mulai saja acara utama.”
Part
2 : Battle
“Ini adalah balap lari dengan gaya.” Carol
berbisik padaku dan Mein. “Anggota tim mana pun yang berhasil mencapai titik
finish akan memenangkan babak ini. Nah, tugas kalian adalah jangan membuatku
malu di hadapan Clive.”
“Clive?” Pandanganku tertuju pada gadis kecil dekat
sepasang pria dan wanita di kejauhan. “Apa dia panitia lain? “
“Iya, dia membawahi dua orang lawan kalian.
Namanya Usri dan Yusra.”
Dua orang panitia itu lantas berpindah tempat
ke sebuah tribun tertinggi.
Carol dan Clive terlihat bagai pelatih di acara
pertandingan olahraga. Tak hanya itu. Tempat ini juga terasa seperti sebuah
gelanggang pertunjukan. Hanya saja, tribun untuk penonton tergantikan dengan tembok
setinggi dua puluh meter kokoh mengelilingi.
Lalu, ada apa dengan menara-menara itu?
Kuhitung totalnya ada sembilan. Ada yang puncaknya tertutupi es, ada yang
berselimut bara apa, dan ada juga berhiaskan percikan listrik.
“Itu Tesla Coil,” ucap Mein dengan mata
berkaca-kaca.
Sebenarnya aku agak jengkel, “Iya, aku tahu,
yang dari Red Alert 2 itu kan? Benar kata Carol. Sudahi lelucon
berlisensinya, orang nggak selalu mengerti apa omonganmu.”
Peluit pertandingan kemudian terdengar melengking.
Dua orang lawan kami berjalan cepat
menghampiri. Seketika itu pula Mein bersiaga dengan pedang (mirip) Excalibur di
tangan.
Seriusan, pakaian Mein itu mengingatkanku pada
Saber di seri Fate/Stay Night. Plat armor di dada, lalu rok mengembang ala Victorian
Dress agar tidak mengganggu pergerakan kaki. Kukira dia memang sedang
melakukan cosplay.
Tapi hantaman keras itu bukanlah suatu hal
normal. Lihat saja, bahkan semacam gelombang kejut tercipta merekah ke segala
arah. Sebenarnya berapa besar energi kinetik yang dilepaskan dari tumbukan itu?
Mein nyaris mengumpat kala menyadari bilah
tajam pedang miliknya ditahan dengan tangan kosong.
Aku juga pasti akan berubah frustrasi. Coba
lihat, tubuh Mein bahkan masih tertahan di udara. Ayunan pedang dari angkasa seraya
memanfaatkan gravitasi itu terlihat tak berguna. Entah terbuat dari apa lengan
si pria berbadan kekar yang menjadi lawannya.
“Liebe! Kau pergi duluan, biar kutahan si
gorilla ini!”
“Namaku Usri,” balas si gorilla berkulit
cokelat.
“Halo Usri, aku Mein, salam kenal.”
Dua orang itu beramah-tamah seraya bertukar
ayunan pedang dan tinju. Gedebuk hantaman terdengar seperti rangkaian kereta tengah bertabrakan.
Baku hantam mereka mencipta semacam pusaran angin bak sebuah
puting beliung.
Kurasa Mein bisa menangani monster itu. Jadi
berlari sendirian menuju garis finish adalah strategi paling aman bagiku.
Dan tentu saja, aku tidak melupakan pasangan
dari lawanku ini. Perempuan tinggi ini tahu-tahu sudah menyelinap berlari di
sampingku.
“Halo Liebe,” ucapnya mengawali percakapan.
“Euh… halo…” Siapa namanya? Umm.. kalau tak
salah, “Yusra.” Kulit sawo matang serta rambut hitam kecokelatan memberiku
kesan dia berasal dari Asia Selatan. Sekitaran Indonesia atau Filipina?
“Dua rekan kita sepertinya asyik sendiri. Mohon
maaf, tapi saya tidak sekuat saudaraku.”
Sedikit pun aku tak merasakan hawa permusuhan
darinya. Jadi kuhentikan gerakan joging ini. Di samping itu, napasku juga sudah
mulai terengah-engah. Berbicara sambil berlari itu sangat tidak direkomendasikan.
Yusra ternyata sama-sama ikut membungkuk. Gadis
itu terlihat kelelahan seraya mulutnya terbuka berusaha menggapai oksigen di
udara.
Lho, dia kelelahan?
Yusra ternyata perempuan ‘normal’.
Normal dalam artian tidak segila Mein, atau
saudara lelakinya yang bisa menahan pedang dengan tangan kosong.
Tapi tampilan bisa saja sangat menipu. Siapa
tahu dia hanya berpura-pura lemah.
Mungkin saja kan, dia membawa semacam senjata
api di balik jubahnya itu? “Apa kau akan membunuhku?” ucapku langsung menuju
inti percakapan.
“Kuharap kita bisa berdiskusi selayaknya
manusia beradab.” Yusra masih setengah membungkuk dengan lengan kiri bertumpu
pada lutut. Wajahnya terlihat kelelahan sekali. Pandangan mataku tanpa sengaja
menangkap celah buah dada dari pakaian yang ia kenakan.
Waduh, seksi sekali. Yusra ini mengingatkanku
pada ras dark elf dengan aura kental sebagai ‘ara-ara-oneesan’.
Sesuatu melesat tajam melewati jarak di antara kami
berdua. Seketika Yusra terkesiap hilang kata-kata.
Sebentar, yang barusan terbang itu Mein?
Gedebuk suara keras tercipta nyaring kala gadis
itu tersungkur di fondasi salah satu menara. Tanpa sedikit pun menunjukkan rasa
sakit, dia dengan cepat bangkit seraya lengannya erat menggenggam pedang di
tangan.
“Kau kuat juga, Usri.” Mein menempatkan
pedangnya sebatas dada. Bilah tajamnya mengacung tinggi ke udara. Pose itu
terlihat seperti seorang ksatria tengah berdoa sebelum terjun ke medan
pertempuran.
Mein keren sekali.
Namun kekerenan itu lenyap tatkala sambaran
petir tiba-tiba datang menghunjam dari arah langit. Suara ledakannya amat
memekakkan telinga.
Iya, dia tersambar petir. Apa logam di pedang
itu mengandung muatan elektron positif? Seperti Antena tv, misalnya?
Dan aku lupa. Tesla Coil itu bukan sekadar pajangan. Berdiri terlalu dekat dengannya
akan membuatmu dihantam satu dari tiga elemen; Petir, api, dan es.
Lantas bagaimana kabar Mein? Dia bilang
tubuhnya terbuat dari triliunan nano machines. Rangkaian elektronik apapun
tentu akan mengalami konsleting apabila dihadapkan pada arus berlebihan /
overvoltage. Kuharap dia tak terluka parah.
Sayup suara Mein kemudian terdengar sintetis
seperti robot.
“Power at 400 percent capacity.”
Bibir gadis itu terperangah, untuk kemudian
mencipta senyum kemenangan, “How’s bout that?”
Sialan, sempat-sempatnya dia melucu bak Ironman. Tapi
aku senang dia baik-baik saja.
Pria bertubuh kekar dengan perut agak membuncit
di kejauhan memberi isyarat untuk maju. “Gak usah banyak bacot, sini.”
Kemudian gerakan itu terjadi lagi. Mein tiba-tiba
saja bisa melesat bak ledakan peluru keluar dari moncong meriam. Sapuan angin dari
pergerakan itu bahkan membuat Yusra hilang keseimbangan.
Rambut dan jubah Yusra di sampingku berkibar.
Andai dia mengenakan rok mini, sepertinya aku akan melihat panty shot dari
belahan pahanya.
Tapi bukan itu fokusku. Suara teriakan Mein
terdengar seperti seorang karakter utama hendak mengeluarkan jurus andalannya.
“EKUSU…” Mein sengaja memberikan semacam jeda.
Aku terkesiap. Tunggu sebentar—
“—KARIBAAAA..!!” Ayunan pedang berwarna emas
itu mencipta semacam gelombang kejut, mengempas tepat di depan Usri.
Yusra berubah kalap. Saudaraya terlihat lenyap
ditelan sapuan debu membuncah ruah. Ia berusaha maju meski kutahan lengannya. Tak
boleh dia masuk dalam zona pertarungan.
“Saudaramu pasti baik-baik saja,” ucapku
berusaha menenangkan. Konyol memang, padahal dia harusnya menjadi lawanku.
Baju yang Usri kenakan koyak di sana sini.
Beberapa goresan di tangan dan kaki terlihat menyakitkan karena berhias aliran
darah. Pria itu masih terlihat gagah.
[“Gimana..? Barusan itu keren nggak”?]
“Keren ndasmu..!” ucapku kesal.
Eh tunggu dulu. Suara Mein barusan entah kenapa
terdengar langsung menuju kepalaku. “Euh… ini telepati?” Aku mengucap dalam
bingung.
[“Bukan, bodoh. Ini cuma VoIP. Kau tak perlu
menjawabnya dengan bersuara lewat mulut. Cukup pikirkan saja apa yang ingin kau
sampaikan.”]
[“Oke-oke,”] balasku. [“Sekarang
bagaimana? Kau terlihat bersemangat. Mau aku jalan duluan ke lokasi finish?”]
[“Terserah,”]
Langkahku kemudian terayun untuk beranjak pergi
dari lokasi duel.
Agak terkejut kala kusadari Yusra juga berjalan
tepat di sampingku. “Kau sudah ada kesepakatan dengan pasanganmu?”
“Eeeeuh… Iya,” jawabku bingung. Apa dia tahu
aku bisa berkomunikasi nirkabel dengan Mein?
“Kalau begitu kita sama. Usri juga menyuruhku
pergi lebih dahulu. Sepertinya kita berdua satu pemikiran.”
Aku tak mendengar Yusra mengucap apa pun pada
Usri. Ap aitu berarti keduanya sama-sama bisa bertukar kata tanpa terhalang jarak? Praktis juga. Antara ini
sebuah kebetulan, atau memang penulis merasa malas untuk mencipta konflik
seputar kesalahpahaman.
“Jadi, bagaimana? Jelas aku tak bisa
mencelakaimu. Saudaramu itu pasti bakal mengamuk, lalu menghajarku sampai
mati.” Aku berusaha bernegosiasi. Dia bisa memanggil bantuan hanya dengan
bermodalkan telepati.
“Sama halnya dengan aku yang tak bisa melakukan
apa pun padamu.” Yusra menunjukkan pisau lipat yang tersemat di balik bajunya.
“Mein mungkin tidak akan tinggal diam jika sesuatu terjadi padamu.”
“Hahaha, itu berarti kita menyerahkan semuanya pada
pasangan kita, ya?” potongku.
Senyum kecil terlihat merekah dari bibir Yusra,
“Senang rasanya berbincang dengan seseorang dengan alur pikir satu frekuensi
denganku.”
Sepertinya aku terjebak
dalam status quo.
Part
3 : Kontemplasi
Mein melakukan gencatan senjata? Gadis itu tak
lagi terlibat keributan dengan Usri. Dia
malah ada di sampingku seraya mengajak bercengkerama.
Tempat ini dipenuhi kabut. Jarak pandang bahkan
tak lebih dari sepuluh meter.
“Usri, itu kamu?” Telunjuk Mein terarah tepat
di depan hidungku.
“Kau menunjuk ke mana? Mein, Ini aku, Liebe.”
Kami berdua terdiam. Seketika menyadari ada
yang tak beres. Maka kucoba bentuk komunikasi lewat VoIP terhadap Mein di
hadapanku. Mulutku terdiam.
[“Mein, kau ada di Mana? Orang yang berdiri
di hadapanku itu kau?”]
[“Bukan, bodoh. Ini aku masih gelud sama si
gorilla. Entah kenapa suara dan penampilan dia jadi berubah seperti kamu. Dan
dia juga langsung sadar bahwa aku bukan saudarinya.”
Aku dan Mein di depanku seketika saling
bertukar pandang.
“Kamu Yusra?”
“Kamu Liebe?”
Mulutku mengucap bersamaan dengannya. Detik
berikutnya, kami tertawa terbahak-bahak.
“Ya ampun, ini apaan sih panitia iseng sekali
sampai ada efek halusinasi begini?” Yusra menahan geli seraya menutup mulutnya.
Sumpah, Mein dengan tingkah feminim begitu terlihat manis sekali.
“Mungkin niatnya ingin menyaksikan semacam
drama? Seorang peserta diharuskan bertarung dengan pasangannya sendiri, pasti
kan ada kesalah pahaman. Yaaa, semacam dinamika hubungan begitu.”
“Tapi gagal.” Potong Yusra. “Aku bisa telepati
dengan saudaraku. Sama halnya dengan kau yang langsung mengontak pasanganmu.”
“Ahahahahaha, konyol memang. Skenario si
panitia gagal total kalau begini ceritanya.”
“Ya sudah, ayo kita lanjut.” Yusra menjulurkan
tangannya, mengajakku untuk berjalan lebih berhati-hati agar tak melenceng
terlalu dekat salah satu menara.
“Dipikir-pikir, mungkin panitia merasa kecewa
ya? Atau mungkin bingung melihat kita berdua? Seharusnya kan kita bermusuhan,
tapi malah saling membantu berjalan menuju garis finish.”
Wajah Yusra kemudian terlihat serius. Sempat
kupergoki kedua alisnya yang mengkerut.
Euh… apa ada yang salah dari ucapanku barusan?
Kukira kita sudah satu pemikiran.
“Hey, Liebe.”
“Ya?”
“Kita sudah sepakat, siapa pun yang memenangkan
pertarungan itu, maka salah satu dari kita harus rela mengalah, bukan begitu?”
Sejenak aku menghela napas, “Jika Mein menang,
apa kau yakin bisa mengalahkan dia?”
Yusra menggeleng.
“Ya sama. Aku juga tidak mungkin bisa melawan
saudaramu yang barbar itu. Bahkan pedang Mein saja bisa dia tangkis hanya
dengan tangan kosong. Menurutku itu hal sinting.”
“Usri memang kuat.”
“Badan dia masih manusia kan? Maksudku, dia
bisa berdarah karena tubuhnya terbuat dari jaringan daging biasa, kan?”
“Di duniaku, ada beberapa petarung yang memilih
rute menguatkan tubuh dengan bergantung pada nano teknologi. Tapi aku dan
saudaraku tidak melakukan itu. Kami hanya manusia normal yang diberkati oleh
sihir kuno.”
“Wah, sihir ya.” Batinku tergelitik mendengarnya.
Selain itu, rupanya ada nano teknologi juga di dunia mereka.”
“Dalam sejarah dunia kami, ada sebuah era di
mana sebuah kecerdasan buatan berhasil mengambil alih dunia.”
Sejarah? Benakku seketika dibanjiri beberapa
spekulasi, “Kau berasal dari dunia bernama Bumi?”
Yusra menangguk. Sorot mata kami saling
bertautan sejenak, “Kau juga dari sana?”
“Kalau boleh aku tahu, Bumi seperti apa tempat
asalmu?” Aku menjawabnya dengan pertanyaan lain.
Wajah gadis itu sedikit tertekuk, menyiratkan
pikirannya tengah berputar menimang sesuatu. Mungkin ia paham bahwa aku
berusaha mengendalikan alur pembicaraan dengan aktif bertanya alih-alih
memberikan jawaban.
“Dunia tempat tinggalku adalah sebuah neraka.”
Yusra sepertinya memberikan setir padaku. Ia mulai bercerita tentang masa
lalunya. “Peperangan telah memusnahkan segalanya. Itu sebabnya kalender
berhenti di tahun 3000 AD, untuk kemudian di-reset kembali pada angka
satu.”
“Dalam sejarah duniamu, apa yang terjadi di
abad ke 22?” Pikiranku menerawang, menyusun sebuah hipotesis hingga tiba pada
sebuah kesimpulan mencurigakan. “Lebih tepatnya di tahun 2.224?”
Ujung jari telunjuk seakan menopang dagu gadis
itu. “Abad ke-22 seingatku adalah awal dari peperangan AI melawan umat
manusia.”
Napasku tertahan.
Wajah Yusra juga terlihat menegang, seakan menyadari suatu hal besar.
“Tunggu dulu.”
Apa dugaanku benar?
Yusra lanjut mengucap, “Nama pahlawan yang
memimpin peperangan itu adalah—” Wajahnya dipenuhi ketidakpercayaan.
“Mein.”
“Mein.”
Kami berdua mengucap bersamaan.
“Mustahil,” ucapku tak percaya.
Aku dan sepasang saudara ini ternyata berasal dari
dunia yang sama. Mereka berdua datang jauh dari masa depan.
“Kenapa aku baru ingat sekarang?” Yusra
menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.
“Apa namaku tercatat dalam sejarah?” tanyaku
penuh harap. Semua ini terasa begitu hebat. Bertemu dengan orang dari masa
depan tentu bukan sebuah pengalaman sehari-hari.
“Entahlah, aku tak mengingat detail nama-nama
tokoh sejarah yang lain.”
Sudah kuduga. Apa sih yang bisa dicapai oleh
orang lemah sepertiku?
“Boleh aku bercerita lebih jauh?” Gadis itu
menatapku seperti seorang murid mengharap restu dari gurunya.
Ingat, saat ini Yusra terlihat sebagai Mein.
Jadi beberapa kali ini jantungku dibuat nyaris copot tatkala menyaksikan
beragam ekspresi imut seperti anak kucing yang ia pertontonkan.
Aaaaaaaaa!~ Andai saja Mein yang asli bisa
sefeminim ini.
“Kehidupanku dan Usri setiap hari hanya
berkutat seputaran lari dan lari.”
Sepertinya ini akan menjadi cerita suram. “Melarikan
diri dari siapa?”
Yusra menggeleng. Wajahnya terlihat mendung.
Sorot mata itu kemudian terarah padaku seakan berusaha mengais sebuah
pengharapan. “Kau… apa yang akan kau lakukan jika memenangkan Battle of
Realms ini?”
Maksudnya? Kok dia malah balik bertanya. “Kau
sendiri?”
Pertanyaan yang dijawab oleh pertanyaan lainnya
sebenarnya menyebalkan.
Tapi aku tak bisa begitu saja membeberkan seluruh informasi penting kepada
musuh. Tak peduli sedekat apa kami berdua.
Kukira Yusra akan menjawab dengan melempar
pertanyaan juga. Namun gadis itu mengembus napas sejenak, untuk kemudian mengalah dengan sorot mata
sayu. “Aku hanya ingin hidup bebas. Berkelana tenang tanpa dihantui oleh rasa
takut.” Wajahnya itu menyiratkan sejuta kesedihan— Atau mungkin semacam rasa
kesepian. “Setidaknya, bisa makan tiga kali sehari itu sudah cukup.”
“Hey, kamu seperti pengungsi korban perang,”
ucapku melempar canda.
“Memang begitu kok,” jawabnya polos.
Aduh, salah. Jawaban itu membuatku mengutuk
diri sendiri. Kehidupanku Sebagian besar ada di bawah keluarga konglomerat.
Sendok dan garpu perak senantiasa menemani. Mungkin itu yang membuatku gagal memahami
relevansi atas penderitaannya. Maka seketika itu penyesalan datang menyapa.
“Maaf…” Rasanya jadi tak enak. Nada suaraku
berubah kikuk.
Tanpa kusadari kami rupanya sudah tiba di baris
akhir dari jalur balap lari ini. Pandanganku menangkap jelas garis finis seraya
kabut kian menipis.
Yusra juga tak lagi terlihat sebagai Mein.
Sepertinya percakapan ini akan segera berakhir.
Jalan-jalan menyusuri jalan setapak—Aman dari jangkauan menara penembak di
kedua sisi—tak bisa lagi dilanjutkan.
Kami berdua berdiri tepat di depan garis finis.
Aku hanya butuh menginjakkan kaki di garis merah untuk keluar sebagai pemenang.
Pun begitu, aku masih memiliki harga diri. Kulihat
Yusra juga sama-sama terdiam tanpa melangkahkan kaki.
Sempat kupergoki bagaimana gadis itu mengeraskan
wajahnya. Lengannya mengepal erat seakan menahan gejolak emosi.
Untuk saat ini aku hanya bisa menebak-nebak.
Apa dia sedang berkomunikasi dengan saudaranya? Mungkinkah dia menimang
kemungkinan untuk melanggar kesepakatan di antara kita berdua? Dari sisi
kemampuan tarung, aku yakin gadis berperawakan jangkung ini pasti memiliki semacam kemampuan
khusus. Sebagai seseorang yang berhasil bertahan hidup di masa depan penuh
dengan kehancuran, aku menolak untuk percaya jika seseorang menuduhnya sebagai gadis
lemah tak berdaya.
“Hey Liebe,” ucapnya lembut. Sorot mata gadis
itu entah kenapa terlihat kosong. “Apa permohonanmu jika memenangkan turnamen
ini?”
Ada semacam tensi tercipta di antara kami. Jadi
sepertinya aku tak bisa lagi menjawab secara pragmatis,
“Aku hendak kembali ke masa lalu, untuk
kemudian menghentikan Coco sebelum setengah populasi dunia dilenyapkan secara
keji.”
“Kau akan membunuh Mein?”
Membunuh? “Tentu tidak.”
Nah ini salah satu kebingunganku. Kembali ke
masa lalu menggunakan metode seperti apa?
Melihat kemampuan teknologi dari Carol, kurasa
membuka portal lalu mengirimku kembali bukanlah sebuah hal mustahil.
Namun jika aku melakukan itu, artinya akan ada
dua Liebe dalam satu masa bersamaan. Itu terlalu berisiko. Kita tidak tahu
paradoks waktu macam apa yang akan tercipta. Apakah segalanya sudah ada dalam
takdir? Apapun yang kulakukan di masa lalu tidak akan berpengaruh apa pun. Ataukah
tercipta grandfather paradox?
Ini yang seram. Segala aksiku di masa lalu akan
secara langsung memengaruhi diriku yang sekarang.
Mungkinkah lebih relevan terhadap teori
multiverse? Aku akan mencipta semesta baru dengan garis waktu terpisah?
Bisa jadi.
Tapi tetap saja. Akan ada dua Liebe di sana.
Maka aku lebih suka mengirim kesadaranku ke
masa lalu. Semacam menyalin ingatan di masa kini, untuk kemudian ditempel pada
diriku di abad ke-21. Iya, mungkin itu solusi paling oke.
“Akar permasalahannya adalah Coco, jadi aku
hanya cukup menunjuk orang baru sebelum aku menjalani Cryrosleep.”
“Apa kau yakin pengganti itu bisa sama-sama
bersikap setia? Mungkin saja kan, dia berkhianat persis seperti Coco.” Yusra
mengajaku berkontemplasi, “Jika sudah begitu, artinya kau akan kembali
mengikuti turnamen ini, untuk kemudian menjalani kembali sejarah yang sama,
berulang kali tiada henti.”
Tak ada yang salah dari teori Yusra.
“Menurutmu, apa ini adalah kali pertama kita
bertemu?” Sedari awal aku memang merasa Deja’vu
“Menurutmu?” ia balas bertanya.
Dia bilang aku terjebak dalam sebuah
perulangan. “Apa dengan memenangkan Battle
of Realms, maka aku kembali ke masa lalu hanya untuk mengulang takdir yang sama di hari kemudian?”
Yusra menggigit bibirnya sendiri. “Mungkin saja Coco bukanlah
antagonis pertama. Di perulangan sebelumnya kau mungkin menunjuk orang lain
yang juga sama-sama penghianat.”
“Jadi… semua ini adalah kesia-siaan?”
Ucapan Yusra ada benarnya.
Tapi bisa jadi juga dia hanya sekadar
memanipulasiku agar menyerah.
“Oleh karenanya,” gadis itu lanjut mengucap,
“Ketika kau memenangkan turnamen ini. Ingatlah untuk tidak kembali ke masa
lalu.”
“Eh?”
Yusra mendorong tubuhku, maju melewati garis
finish.
Aku hanya bisa terperangah, hilang kata-kata.
“Kenapa?”
“Tolong ubah sejarah kelam dunia kami. Jangan
jadikan kecerdasan buatan sebagai musuh.”
Suara bel terdengar nyaring memenuhi angkasa.
Timku dinyatakan sebagai pemenang.
Buru-buru Mein mendatangiku dengan wajah babak
belur. Dia kebingungan.
Usri di sampingnya sama-sama hanya bisa
terbengong-bengong. Sejuta protes ia layangkan kepada saudarinya. Namun semua
itu hanya berakhir dengan satu senyuman saja.
“Jadi buat apa capek-capek kita ribut dari tadi?”
Mein memprotes dengan wajah jengkel.
“—sementara
kalian berdua malah asyik berpacaran.” Usri menimpali.
“Kau apakan Yusra sampai dia mesem-mesem begini, hey!”
Carol dan Clive turun ke lapangan.
“Sudah-sudah, tenang saja. Kalian kalah juga
bukan menjadi akhir dari segalanya. Ini bukan tarung antar semesta yang seperti
even sabung ayam.” Carol menutup sebuah buku di tangannya. “Ini bukan Mortal
Kombat.”
Aku dan Mein terperangah seraya saling bertukar
pandang.
“Jangan melempar lelucon berlisensi.”
Ngakak asli di bagian pertama.
ReplyDelete