Perkenalan 08 - Locke(Imbrin) dan Marcia(Fionn) - Selamat Tinggal Sayang, Selamat Tinggal, Selamat Tinggal

 DEWASA 18+ (Bahasa dan konten vulgar, kekerasan, gore)




1

Jika gadis Winderyn memberkatiku, menari telanjang dada bundar terbusung. Oh, selamat tinggal sayang, selamat tinggal sayang, selamat tinggal, selamat tinggal …”

Nyanyi pria itu. Bergoyang-goyang membasahi pohon itu dengan kencingnya. Tak peduli suaranya yang sumbang; tak peduli apa dikata orang. Memangnya apa yang akan orang-orang katakan? Memangnya apa yang akan orang-orang mati katakan? Buruannya hari ini sukses besar; satu kafilah penuh oleh pasokan makanan, alkohol, dan bumbu-bumbuan yang sepertinya berasal dari benua utama.

Hatinya bahagia; hati tujuh kawannya pun setuju dengannya. Mereka merayakannya dengan menghabiskan stok vodka sebanyak-banyaknya.

Seketika pendengarannya menangkap suara yang janggal. Seperti suara seorang yang menginjak ranting. “Huh? Grom? Kaukah itu? Buang air busukmu jauh-jauh dariku! Aku tak mau tertular sipilis dari daging menjijikanmu itu!”

Tiba-tiba tubuhnya serasa ditarik. Ia ingin berteriak tapi mulutnya telah dibungkam erat. Di bawah sinaran bulan purnama ia bisa melihat wajah pelakunya; bekas luka yang menggores wajahnya sungguh menyeramkan. Tangannya panik mencoba meraih pedang dari sarungnya; seperti terus menjauh dari gapaian jari. Lantas, pandangannya melihat tanah yang basah oleh kencingnya entah mengapa; seperti berputar ke belakang begitu saja.

Semuanya pun gelap.

Perlukah sesadis itu?” ujar suara seorang wanita merasa terganggu.

Dia pantas mendapatkannya.” Jawab seorang laki-laki yang menggosok-gosokkan sepatu botnya ke tanah.

Kau mematahkan lehernya dan menendang hancur wajahnya!” lanjutnya tak puas.

Tepat.” Balasnya acuh tak acuh selagi mengambil pedang si mayat.

Untuk merampok satu kafilah? Oh, Pahlawanku, kalau kau lupa; tujuan kita di sini adalah untuk merampok mereka kembali!”

Dia menghina lagu pemberontak bangsa selatan dengan lirik vulgarnya.” Sekonyong-konyong laki-laki itu menepuk dahinya seperti menyadari sesuatu. “Kenapa kita berdebat soal ini? Bisakah kau fokus?”

Baik, baik, kita lanjutkan nanti.” Wanita itu pun mengambil langkah maju; mengintip sisa tujuh perampok yang masih berpesta dari balik pohon. “Aku akan mengejutkan mereka dengan bola api, kau mengambil poin di sana dan—“

Aku punya ide yang lebih baik.”

Lantas laki-laki itu melesat pergi membawa dua pedang di dua tangannya. Suara gaduh sepatu botnya cukup menyadarkan sekawanan perampok itu dari mabuk beratnya. Ia melempar satu pedangnya; berputar-putar cepat memotong bersih leher satu perampok yang paling dekat dengannya, hingga menancap di dada kawan belakangnya.

Tak menghentikan momentum, ia menggenggam pedang sisanya dengan dua tangan. Menancapkannya di paru-paru perampok lain didekatnya sebelum bisa bereaksi; sembari mengambil tameng kayu dari tangan lemahnya. Dengan tameng itu, ia melompat tinggi-tinggi, menggetok perampok lain di depannya dengan besi bundar yang ada di tengahnya. Jatuhlah pria malang itu tersungkur; hampir saja mengutuk laki-laki itu sebelum sisi tipis tameng menghancurkan jakunnya.

Tiga perampok terakhir menjerit histeris; mereka menghunus pedangnya tinggi-tinggi; berlari pontang-panting seperti orang gila menuju dimana laki-laki itu berdiri. Darah ada di mata mereka. Laki-laki itu pun bersiap bertahan pada posisinya; tameng curiannya ia genggam erat-erat untuk melindungi tubuh bagian depan.

AAARRRRHHHKKKKKGGGGG …”

Tahu-tahu mereka terbakar hebat. Mata-mata yang sebelumnya dipenuhi dendam berdarah itu perlahan-lahan mencair. Tubuh-tubuh prima berotot itu memerah untuk menghitam kemudian. Bunyi ledakkan-ledakkan kecil yang tak mengenakkan untuk didengar pun terdengar. Laki-laki itu menutup matanya tak kuasa melihat takdir ketiga perampok terakhir itu dari dekat.

Alkohol, Imbrin! Kau tahu? Minuman yang membuatmu lupa diri dan bereaksi sangat bagus dengan api? Oh, tidak! Jangan beritahu aku! Kau ini perawan yang tak mengerti apa itu alkohol?” seru sang wanita dari jauh, dengan satu bola sihir yang masih mengapung di telapak tangannya. Tampangnya mengatakan, kalau ia lebih terganggu oleh ulah si laki-laki dari sebelumnya.

Sang laki-laki, Imbrin, hanya geleng-geleng kepala. “Perlukah sesadis itu, Fionn?”

Sebenarnya tak perlu, jika kau mengikuti rencanaku sebelumnya dan tak berlari dengan dua pedang seperti orang dungu!”

Yang terpenting adalah hasilnya! Berhenti merengek!”

Kau!” Wanita itu, Fionn, ingin sekali melempar Imbrin dengan satu bola sihir yang tersisa. Tetapi, ia memutuskan untuk menghembuskan napasnya panjang. “Aku akan memaafkanmu kali ini! Selagi kau di sana, bisakah kau menyiapkan hasil panen kita? Aku akan berjaga dan mengawasi sekitar!

Imbrin pun mengibas-ngibaskan pedang dari darah dengan rona masam di wajahnya. “Tentu saja, kau terus memberi dirimu tugas yang lebih mudah.”

Apa tadi?”

Ya, Ibu!”

Panggil aku ‘Ibu’ sekali lagi—“

Bisakah kau diam dan membiarkanku melakukan pekerjaan ini dalam damai?”

Cepatlah! Aku kelaparan!”

Dengan itu Fionn menaiki bukit terdekat ditemani bola sihirnya yang berperan seperti obor. Sedangkan Imbrin memastikan lagi apa yang telah mereka curi.

Imbrin menaiki kafilah dari tempat kusir seharusnya berada. Lentera yang masih menggantung diraihnya untuk menyinari bagian dalamnya yang tak tertembus sinaran purnama. Apa yang ada dihadapannya, ia tak begitu yakin. Kereta kuda ini membawa pasokan bahan makanan mentah, rempah-rempah, dan beberapa barel alkohol. Asupan alkohol Imbrin bisa mengerti, tapi siapa yang memerlukan sisanya di Dunia Timur? Semua makhluk rendahan di sini hanya membutuhkan makanan matang untuk bertahan hidup. Tak ada yang punya waktu untuk mengolahnya lebih dari dibakar bahkan sampai membumbuinya—

Kecuali …

Hei, Wajah Serigala!” panggil Imbrin.

Hah?” Fionn tak menyangka akan dipanggil seperti itu, sampai ia tak dapat bereaksi banyak.

Kau bisa melihat pemukiman terdekat dari sana? Atau kedai minum? Semacamnya?”

Apa? Kau gila—“

Jangan banyak protes! Aku lebih mengerti tempat ini daripada dirimu!”

Kalau kau yakin; aku memang melihat beberapa bangunan bercahaya hanya utara dari sini.”

Deskripsikan bercahaya!”

Obor- obor api dan lentera kurasa.”

Jadi memang benar adanya, pikir Imbrin. Itu memberinya sebuah ide untuk menjadikan hasil panen ini lebih menguntungkan. “Kuda? Kau juga melihat ada kuda yang tertambat di sekitar sini? Kuda perampok-perampok itu mungkin?”

Hah! Hanya beberapa langkah ke depan! Sisa dua ekor! Baru saja aku ingin menyarankan untuk mengambil kuda mereka. Ada apa ini? Kau tiba-tiba berubah menjadi pintar. Membuatku takut.” Respons Fionn tak mau mengalah.

Imbrin tak percaya akan mengatakan ini, tapi ia harus mengatakannya, “jadilah lucillan yang baik dan bawa kuda-kuda itu kemari!”

Jika kau ingin membuatku repot; beritahu aku apa yang ada di dalam kepala batumu!” protes Fionn masih tak mau mengalah.

Aku ingin menjual apa yang ada di dalam kafilah ini! Kita akan mendapatkan pasokan makanan, minuman yang lebih baik dan juga grimen1! Puas?”

Fionn pun mengusap-usap dagunya dengan telunjuk lentiknya, tampak tak begitu yakin. “Apa yang sebenarnya ada di kafilah itu?”

Bahan makanan mentah, rempah-rempah, dan alkohol murahan yang tak kau suka!”

Akhirnya usapan telunjuk Fionn berhenti juga. “Baik, baik! Aku ikuti maumu. Aku harap kau bisa berbisnis!” ia menuruni bukit itu dengan setengah hati, menuju dimana kuda-kuda itu terikat.

Kerutan di dahi Imbrin pun menghilang; berdebat dengan Fionn selalu saja membuat sakit kepala. Namun, satu hal yang ia setujui dari lucillan itu adalah harapan bahwa dirinya bisa berbisnis. Membuat kesepakatan di Dunia Timur akan menjadi hal terbodoh yang Imbrin telah lakukan, setelah membiarkan seorang lucillan mengembara bersamanya.


2

Apa yang kau dapat?” bisik Fionn tertutup kerudung jubah bulunya.

Imbrin tak segera menjawabnya. Ia kembali duduk lalu menegak habis vodka yang ada di cangkir tinggi gadingnya. “Bekal perjalanan selama lima hari dan dua ratus grimen.”

Apa? Tapi itu sangat sedikit! Sama sekali tak sepadan!”

Ya.”

Fionn kehabisan kata-kata. Rasa ingin memaki Imbrin sampai pada puncaknya; tapi ia lebih memilih untuk tidak membuat keributan. “Tunggu di sini, biar aku saja yang berbicara pada pak tua licik itu.”

Imbrin dengan sigap menahan bahu Fion yang menaik; mencegahnya untuk berdiri. “Dengar, rumah minum ini dipenuhi oleh bandit dan pemburu bayaran, dan si pemilik tua itu ternyata cukup terkenal di sini.” Dalam keadaan setengah mabuk, Imbrin menuangkan cangkirnya vodka lagi hingga penuh. “Bajingan itu memberi dua pilihan: imbalan yang sedikit, atau mengatakan pada semua orang di sini bahwa kitalah yang telah mencuri persediaan selama satu bulan itu. Mana yang lebih mereka percayai? Lagipula kau ini lucillan. Jika ingin mati, jangan mengajakku.”

Fionn pun menghentikan niatnya; ia hendak membuka mulutnya. “Jika saja—“

Ya, aku akui ini salahku.” Imbrin menegak habis cangkir vodkanya lagi. “Tak memikirkan kemungkinan inilah yang akan terjadi.”

Sepertinya si pemilik itu sudah terbiasa dengan keadaan persediannya yang dicuri.” Reaksi Fionn mencoba menerima nasib selagi memijat dahinya. “Kita harus pergi dari sini, sekarang!”

Hah? Tapi, vodka ini masih banyak, dan kau belum menghabiskan babi bakarmu!”

Hei, Buruk Rupa, kau ini mabuk! Jangan membantah, cepat berdiri!”

Fionn mencengkeram lengan Imbrin, tetapi laki-laki itu tetap bergeming. “Aku ingin kencing dulu.” Lantas melepaskan diri dari genggaman Fionn dan berjalan agak sempoyongan keluar.

Tangan yang dipakainya untuk mencengkeram Imbrin, kini mendarat di wajahnya sendiri. Sekarang, ia benar-benar ingin membakar manusia rendahan itu hidup-hidup. Tak ada hal lain yang bisa dilakukannya sekarang, kecuali memakan babi bakarnya yang tak lagi menggugah selera. Mencoba membaur dalam keramaian dan tak menarik perhatian lebih jauh lagi.

Alasan Fionn ingin segera pergi adalah ia merasa orang-orang di sini mulai menyadari siapa dirinya sebenarnya—seorang lucillan—yang tanpa kehadiran Imbrin, figur tinggi semampainya mulai terlihat jelas. Tidaklah cukup hanya mengandalkan kerudung dan juga jubah.

Fionn tak mengerti apa yang harus dilakukan di situasi seperti ini. Apakah ia harus menyusul Imbrin? Atau tetap tenang dan tak memancing mereka lebih jauh? Ia memilih pilihan kedua. Fionn menuangkan cangkirnya sedikit vodka, lalu meminumnya habis untuk sedikit menenangkan pikirannya. Meskipun ia membenci baunya dan hampir saja muntah.

Imbrin baru saja selesai dengan urusannya. Setidaknya, di dalam kakus tak ada yang mengerti siapa dirimu sebenarnya. Laki-laki dan perempuan sama saja.

Sekarang pikirannya jauh lebih jernih dari sebelumnya, meski belum sepenuhnya. Ia terpikir kembali oleh perkataan Fionn yang ingin segera pergi dari sini, dan baru menyadari itu adalah ide yang bagus. Sayangnya, Imbrin memang terbawa suasana, sudah cukup lama dirinya tak meminum alkohol kesukaannya.

Sekarang ia bergegas kembali.

Tuan yang baik! Apa kau memiliki waktu?”

Suara yang berat nan serak seperti memanggilnya. Ia menengok dan mendapati seorang fujan2 tak jauh dari dirinya. Imbrin hanya menatapnya dingin, berharap makhluk bersisik itu salah orang.

Tapi tidak. Fujan itu mendekatinya. “Tak perlu tegang begitu, Tuan. Aku hanya ingin berbicara sedikit denganmu.” Ujarnya dengan seringaian lebar dari mulutnya.

Hal yang paling tak disukai Imbrin pada fujan. Senyuman mereka terlalu lebar untuk bisa disebut senyuman. Seringai pun bukan deskripsi yang cocok. “Apa maumu?” jawabnya pada akhirnya.

Langsung pada intinya? Baik, Tuan.” Fujan itu pun mengeluarkan sesuatu dari tas kulitnya yang tampak berat. “Ini, sepuluh ribu grimen, untuk Tuan yang baik.”

Sejenak Imbrin tak bisa bernapas. Keterkejutannya bahkan membuatnya melangkah mundur tanpa disadari. Secepat mungkin ia berusaha menguasai dirinya kembali; tak mungkin makhluk bermata kucing itu memberi sepuluh ribu grimen dengan cuma-cuma.

Apa yang kau inginkan dariku, Fujan?”

Hsila Lucillan yang ada bersamamu.”

Imbrin menggenggam gagang pedangnya sedetik itu juga, tetapi sang fujan tak kalah cepatnya untuk melompat mundur.

Perlahan, Tuan. Aku hanya ingin melakukan bisnis denganmu. Aku tak sebodoh itu untuk melawanmu—aku mengerti—tidak selama seribu tahun akan mampu menang darimu, Tuan.” Aneh, tapi perkataan Fujan itu terdengar jujur di telinga Imbrin. Bahkan ia sempat mendegar nada ketakutan keluar darinya

Imbrin masih pada posisinya; tangan masih erat pada gagang pedang. “Apa maksudmu Hsila Lucillan?”

Mata fujan itu tampak melebar. “Jadi Tuan tak mengerti? Lucillan yang ada bersamamu adalah seorang bangsawan; nampak jelas dengan tato di lehernya—Hsila Lucllian. Dia itu telah mengelabuimu, Tuan.”

Imbrin tak begitu terkejut mendegarnya. Ia sudah cukup banyak berurusan dengan aristokrat untuk mengetahui satu yang sengaja bersembunyi di tengah orang-orang biasa. Ia pun perlahan meregangkan kuda-kudanya. “Apa yang ingin kau lakukan kepadanya?”

Fujan itu tersenyum sumringah lagi. Kali ini dengan lidah panjangnya yang bergerak membasahi mulutnya. “Hal ini sepertinya kau mengerti, Tuan yang baik, dan kau pasti juga setuju. Hsila Lucillan adalah spesimen yang sangat … menggairahkan. Bahkan lebih menggoda dari lucillan biasa.”

Jadi, sosok di hadapannya ini tak lebih dari sosok penggila nafsu yang memiliki kegemaran antar-spesies. Imbrin telah banyak menemui makhluk seperti ini; yang membiarkan kelaminnya berpikir daripada otaknya. Itu memberinya sebuah ide lain. Imbrin akan mendapatkan sepuluh ribu grimen itu, dan si fujan tak akan mendapatkan apapun.

Imbrin pun berpura-pura rileks, melepaskan jari-jarinya pada gagang pedang.

Jadi, Tuan, apakah kita mencapai kesepakatan?” lanjut fujan itu. “Bahkan seorang pria tahu kapan untuk berhenti dan membagikan kesenangannya kepada pria lain. Bukankah kau setuju, Tuan yang baik?” ujarnya semakin memamerkan sepuluh ribu grimen yang ada di kepalan tangannya.

Beri aku itu dan enyahlah dari sini.” Balas Imbrin mantap. Tangan kanannya menjulur untuk menerima bayarannya.

Namun, fujan itu tersenyum lagi. Seringainya terlihat jauh lebih menakutkan kali ini. “Tuan yang baik juga memerlukan tas ini untuk membawanya. Apa dikata orang jika mereka melihat Tuan membawa grimen sebanyak ini secara gamblang?”

Imbrin tak bisa menolak fakta itu. Terlebih, si fujan menurunkan penjagaannya hanya untuk memasukkan grimen kembali ke dalam tas kulitnya. Si fujan pun menyerahkan tas kulitnya dengan kedua tangannya disertai seringainya yang lebar dan melebar.

Ini jauh lebih bagus untuk Imbrin. Dengan kedua tangannya yang sibuk, fujan itu tak bisa meraih pedangnya.

Imbrin hanya perlu melakukan tebasan cepat—

Sakit, pening, tak berdaya; dunia serasa berputar di mata Imbrin. Ia terjatuh pada kedua tangannya, merasakan sakit yang teramat sangat pada belakang kepalanya. Seseorang menghantamnya dari belakang dengan benda tumpul.

Dari telinganya yang berbunyi nyaring, Imbrin masih bisa mendengar fujan itu yang tertawa terbahak-bahak beserta suara dua orang asing yang mengikutinya. Dari penglihatannya yang buram, Imbrin masih bisa menyaksikan komplotan bandit yang keluar dari rumah minum, membawa paksa Fionn yang telah terikat dan terbungkam.

Sepertinya kami akan membawa semuanya, Tuan yang baik.” itulah kata terakhir fujan itu sebelum menghilang menyusul komplotannya. Meninggalkan Imbrin bersama dua orang yang telah menyerangnya.

Imbrin mencoba mengatur napasnya, menjaga dirinya agar tak termakan oleh panik begitu saja. Ia meraih pedangnya—

Oh, kau tak bisa.”

Arrghhhh!”

Salah satu dari mereka menginjak tangannya keras-keras. Imbrin kehilangan rasa akan jemarinya dan menjatuhkan pedangnya seketika.

Malam ini masih panjang!”

Aaakkkkhhhhh!”

Satunya lagi mengambil ancang-ancang, menendang Imbrin tepat di perutnya hingga ia terpental terguling.

Tubuh Imbrin masihlah lemah, ia belum bisa melawan. Hantaman di kepalanya masih terasa menyakitkan dan melumpuhkan. Dikeputusasaannya, ia menutupi jemari tangan kanannya dengan genggaman tangan kiri; berharap agar dua bandit itu tak menyadari cincin peraknya. Kepala dan kakinya pun meringkuk masuk, seperti kura-kura yang bersembunyi ke dalam tempurungnya.

Imbrin menenangkan dirinya; meyakinkan diri semuanya akan baik-baik saja.

Lihatlah si pecundang ini!”

Hajar saja sampai mampus!”

Dua bandit itu menendangi Imbrin tanpa kenal ampun. Lebih tepatnya, menendangi punggung Imbrin karena itulah satu-satunya sasaran yang luas. Imbrin pun tak begitu menghiraukannya; gambeson tebal yang dipakainya masih mampu meredam sepatu-sepatu bot itu.

Berlangsung cukup lama sampai dua bandit itu bosan.

Mungkin ini saatnya kita juga menyusul. Tak sabar elangku berada di dua dada yang montok itu.”

Ken, aku beritahu kau! Kenikmatan terbesar wanita itu ada di pinggulnya, lucillan ataupun bukan! Sudahlah, biar aku saja yang membunuhnya!”

Bandit penggemar pinggul itu pun menghunuskan pedangnya ke udara, bersiap memenggal kepala Imbrin saat itu juga.

Imbrin membuka matanya. Ia berguling menjauh membuka telapak tangan kanannya.

Sebuah lingkaran sihir tercipta dari udara kosong. Bandit yang tak siap itu menabrakkan bilah besinya ke lingkaran sihir, dan keduanya terpental jatuh bersamaan dengan meledaknya sihir cincin Dewi Jenew.

Imbrin pun bangkit kembali. “Fionn … Fionn …” hanya itulah yang terus digumamkannya.


3

Imbrin memacu kudanya hingga hewan malang itu merengek dengan suara yang menyedihkan. Pikirannya kalang kabut; trauma-trauma pada kehidupan sebelumnya terus bermunculan untuk menghantuinya. Suara-suara itu terus menyalahkan jiwanya secara bertubi-tubi dan terus tak akan berhenti.

Ia tak bisa memaafkan dirinya sendiri jika sampai kehilangan Fionn.

Imbrin hanya mengerti itu.

Lantas, terjadilah suatu ledakan dahsyat. Hawa panas menyebar secepat angin, hampir menjatuhkan Imbrin dari pelana kudanya. Seketika langit malam purnama berubah menjadi lautan merah. Merah oleh api yang membakar kesemuanya dengan buas.

Fionn!” Jerit Imbrin histeris.

Ia memaksa kudanya untuk membelok ke arah timur segera. Dimana ledakan api itu membakar pohon-pohon dan apa saja yang disekitarnya hingga membumbung tinggi.

Imbrin memacu kudanya, lagi, lagi, dan lagi. Tak memerdulikan hewan itu yang mulai terbincang-bincang dan kaki-kakinya yang berdarah akan robeknya otot-otot itu. Setiap kali kudanya ingin melamban, Imbrin menusuknya dengan pedang tepat ke perut.

Hingga mereka tiba di suatu tanah lapang hitam dan kudanya yang menemui ajal. Imbrin terlempar kasar dari punggung hewan yang sudah tak bernyawa itu.

Satu sosok yang berada di tengah tanah lapang menyadari kehadiran Imbrin. Sosok itu terbaring lemah, jubah bulunya hilang entah kemana, kain panjang yang dikenakannya terobek paksa memperlihatkan bagian-bagian tubuh wanitanya.

Kedua mata mereka saling bertemu.

Imbrin merasakan kelegaan luar biasa sekaligus penyesalan yang mendalam.

Fionn tak mampu merasakan apapun.

Tapi ia mengetahui satu hal.

Kau … menjualku …” suaranya lemah.

Fionn …” Imbrin berusaha untuk bangun sekuat tenaga. Sakit sekali tapi ia tetap memaksanya. Lengan dan kaki kirinya patah. “Ini … bukan seperti yang … kau kira. Biarkan aku … menjelaskannya.”

KAU MENJUALKU!” Fionn berteriak dengan sisa tenaganya.

Ia menjetikkan jarinya. Satu bola sihir yang tercipta langsung saja dilemparkannya. Saat ini, Fionn benar-benar ingin membakar Imbrin hidup-hidup.

Imbrin melihat bola sihir itu yang semakin dekat dengan dirinya. Di kondisinya yang seperti ini, mustahil bagi dirinya untuk menghindar. Meskipun ia bisa menghindar, dirinya akan tetap diam di tempat.

Itu karena ia pantas untuk mendapatkannya.

Imbrin merasakan tubuhnya yang kembali terlempar ke tanah. Menyiapkan dirinya untuk berdamai dengan diri sendiri, sebelum api membakar hangus jiwanya.

Cukup lama Imbrin menunggunya. Namun, api tak kunjung memerahkan penglihatannya.

Ia menengok ke arah Fionn terbaring. Namun, sosoknya juga telah hilang darinya.

Sesuatu seperti menyayat hatinya; sesuatu itu membuat air matanya keluar tak tertahankan.

Ckckck … malang sekali kondisimu.”

Suara asing itu membuatnya kembali waspada. Suara yang kecil dan nyaring; suara anak kecil. Suara itu memperlihatkan raganya tepat di depan mata Imbrin. Sayangnya, ia tak bisa melihat rupa itu dengan jelas dari dekat.

Siapa kau? Kenapa kau bisa berada di sini?” hardik Imbrin dengan kekuatan terakhirnya.

Sssttt … sssttt … tenanglah, aku Clive, satu makhluk imut yang akan menolongmu dengan satu syarat.”

Imbrin menutup matanya, sudah cukup lelah dengan kesemuanya. Ia sudah pasrah, dan tak ingin apa-apa lagi.

Ehh … ngomong-ngomong pasanganmu sudah menyanggupinya dan—“

Pasanganku?”

Ya! Seorang wanita sangat tinggi dengan kondisinya yang—“

Tolong … bawa aku ke Fionn.” Pinta Imbrin sebelum kehilangan kesadaran sepenuhya.



Footnote:

  1. Grimen : Satuan ukuran berat khusus untuk garam yang juga menjadi mata uang di Dunia Timur

  2. Fujan : Humanoid bersisik dengan tubuh seperti ular, kepala seperti buaya, dan mata seperti kucing. Terkenal oleh reputasinya sebagai spesies paling sadis dan licik.








Comments

Popular posts from this blog

Round 1 - Mein/Liebe - Walk In The Park

il Gran Duetto - Ronde 1 - The Nine Tower Challange