Round 1 - Imbrin/Fionn - Panthenna Selalu Bersamamu
1. Ritual
Fionn menyandarkan tubuhnya pada material
sejenis logam yang sama sekali ia tak mengerti. Tapi ia tak mengindahkannya;
yang ada di pikirannya sekarang hanya apa yang ada di dalam pintu yang bisa
membuka sendiri tanpa bantuan sihir. Sejak kejadian itu, semuanya tak masuk
akal baginya.
Ia terus memainkan bastard sword-nya; menghunusnya, menyarungkannya kembali. Hingga
detik ini, akhirnya ia memantapkan tujuannya.
Pintu ruangan itu terbuka dengan
sendirinya, di dalamnya terbaring seseorang yang telah mengkhianatinya dan satu
gadis kecil dengan kekuatan setara dewa. Siapa yang menyangka, seorang gadis
kecil sepertinyalah yang bertanggung atas semua kegilaan ini.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Fionn
dingin.
“Apa yang aku lakukan di sini?” Gadis itu, Clive, membalikkan
tubuhnya. “Apa yang kau lakukan di sini? Ini kapalku!” Clive pun menyadari
sesuatu. “Hei, bagaimana dengan tubuh anggota gerakmu? Semuanya … lancar?”
Fionn
memandang lengan kanannya. “Semua tampak baik-baik saja.” Lalu berganti pada sosok
yang terbaring itu, Imbrin. Fionn cepat-cepat ingin menyelesaikan urusannya.
“Bisakah kau tinggalkan aku sebentar dengannya?”
Mendengar
itu, jelas Clive tak menyukainya. “Hah? Kau dungu? Dia ini sedang berjuang
keras melawan kematian dan aku akan menghidupkannya kembali! Sebuah keajaiban
ia masih punya setitik kesadaran setelah menerima serangan seperti itu.”
“Kau
tak akan pergi?”
“Tidak!
Sekarang diam di situ atau keluar! Yang mana saja, asal jangan ganggu aku!”
Fionn sangat membenci rasa ini; rasa yang
telah ditanggunggnya selama bertahun-tahun. Ia tak punya kekuatan; tak di sini,
tak di Dunia Timur, ataupun tempat tinggal asalnya. Tapi ia belajar untuk
menerimanya; belajar untuk mengenal keadaan ketika ia harus membuang semua
kehormatannya.
Seperti sekarang ini.
Fionn pun duduk dengan lutut yang menjadi
tumpuannya. Tubuhnya terus menurun dan menurun; hingga semuanya mencium lantai
yang dingin. Ia merasa seperti anjing yang hina; tapi inilah satu-satunya cara
untuk meminta seupah makanan kepada tuannya.
Fionn bersujud sebagai pilihan terakhirnya.
“Aku memohon kepadamu.”
“Sudah kubilang! Jangan ganggu ak … ah?”
Clive terkejut melihat pemandangan yang ia
tak mampu duga sebelumnya. Makhuk asing yang berkali-kali lipat lebih besar dan
tinggi daripadanya, kini tampak jauh lebih kecil darinya. “Apa yang kau
lakukan? Bangun!”
Fionn tetap diam dan mempertahankan
posisinya.
“Aku bukan tuanmu! Kau bukan beruang!”
Fionn masih bergeming.
“Atau kupanggil beruangku dan kusuruh
merobek-robekmu sekarang juga?”
Fionn telah menjadi batu
“Kau akan seperti itu terus, ya?”
Fionn tak bereaksi.
“Ergh! Baik-baik!” Clive mengangkatkan
kedua tangannya penuh frustasi. “Silahkan, aku beri kau lima menit! Tapi ingat!
Aku tahu rekam jejak kalian! Jika kau membakarnya lagi, aku tetap bisa
menghidupkannya kembali sampai kalian tersingkir dari turnamen antar semesta
ini, paham?”
Fionn akhirnya terbangun, masih duduk
dengan lutut sebagai tumpuannya. “Terima kasih, aku tak akan lama.”
“Sebaiknya seperti itu!” Clive pun
menghentakkan-hentakkan kakinya selagi berjalan keluar. “Dasar makhluk udik
zaman pertengahan!”
Fionn tak mengerti apa yang dikatakan gadis
itu, tapi itu bukan masalahnya.
Fionn memosisikan dirinya untuk duduk di
sebelah Imbrin. Ia melihat yang sepertinya adalah peralatan medis yang
sepenuhnya ia tak mengerti. Kedua mata merah pudarnya kini berganti memeriksa
Imbrin. Kondisinya sangat mengenaskan: seluruh tubuh bagian tengah hingga
bawahnya menderita luka bakar yang serius, tangan kirinya hilang, dan kulit
kepalanya melepuh. Yang tersisa utuh seperti tak tersentuh adalah tangan
kanannya.
Itu tak mengejutkan untuk Fionn; cincin
sihir Imbrin masih lekat di jari manisnya.
Waktunya tak banyak. Ia menghunuskan
pedangnya, lalu mengambil posisi duduk yang khusyuk. Sejujurnya, ia tak yakin,
ini adalah pertama kali untuknya.
Tangan kirinya pun menggenggam lengan
satu-satunya Imbrin dan membuka telapaknya.
Ia memulai.
“Wahai
Dewi Panthenna, Ratu dan Ibu pada hamba-Mu yang penuh kasih. Sang Pelindung hamba-Mu
yang telah terkotori dan terlecehkan. Di hadapan hamba adalah seorang yang
ingkar yang telah membanjirkan bencana tiada akhir pada kesucian hamba. Oh,
Dewi Panthenna, hamba yang berputus asa
hanya memohon. Jika yang ingkar ini memang bersalah, jatuhkanlah balasan yang
sepadan untuk mendamaikan hati hamba. Jika yang ingkar ini mengatakan
sejujurnya, dekatkanlah hamba padanya untuk menghukum hati ini yang telah gelap
akan kebencian buta. Dewi Panthenna, sekarang aku memanggilmu. Kuatkan hati
hamba.”1)
Fionn lantas mengangkat pedangnya untuk
mengiris telapak kirinya hingga darah keluar cukup banyak. Telapak tangannya
itu ia tempatkan pada bibir Imbrin; perlahan-lahan darah pun membasahi mulut
Imbrin dan terus mengalir turun hingga tertelan ke tubuhnya.
Kini Fionn harus melakukan hal yang sama.
Ia mengiris telapak Imbrin;. Lambat namun pasti, darah mulai melumuri sebagian
telapak tangannya.
Fionn mengambil napas panjang, dan
membuangnya perlahan. Ia menyandarkan pedangnya untuk mengenggam lengan Imbrin
dengan dua tangan. Lalu menegak darah Imbrin cepat agar rasa yang memuakkan itu
hilang di tubuhnya.
“Hanya
inilah yang bisa kulakukan untukmu. Semoga kata-kata terakhirmu masih bisa
dipegang.” bisik Fionn masih mencegkeram erat lengan Imbrin. “Dewi Panthenna
mengerti apa yang terbaik un—“
Kepala Fionn seketika seperti dipukul benda
tumpul. Tapi ia tak lekas panik, itu adalah tanda Dewi Panthenna mengabulkan
doanya. Fionn harus bisa menahannya atau Dewi Panthenna akan menganggapnya tak
layak dan yang ia telah lakukan akan terbuang percuma.
Sakit kepala Fionn disebabkan oleh masuk
paksanya kilas-kilas balik kehidupan Imbrin. Sebagai tanda bahwa mereka
sekarang terikat satu sama lain melalui Hukum Dewi Panthenna.
Perlahan-lahan Fionn bisa melihat sesuatu.
Seorang gadis muda yang mirip dengan Imbrin bersama teman-temannya.
2. 2. Turnamen Dimulai
Clive menembakkan sesuatu seperti energi
sihir ke udara yang meledak dengan indah. Pertarungan pada arena berbentuk persegi
panjang ini pun dimulai. Masih tak begitu paham akan situasi yang telah menjadi
nasib mereka beberapa waktu ini, ketiga peserta hanya berlari maju hingga
ketiga menara itu menyerang mereka bergantian.
Terkecuali Imbrin. Ia masih butuh waktu
untuk mencerna kesemuanya. Ketika bocah itu datang entah darimana; menawarkan
bantuan dengan satu syarat; ini bukanlah bayaran yang ia pikirkan.
Tapi Fionn di sana, mundur kembali agar
tiga menara itu tak bisa menyerangnya. Sebagai gantinya, Fionn menjentikkan
jarinya. Bola sihir yang melayang diubahnya menjadi guyuran panah api, lalu
dijatuhkannya kepada dua peserta lain.
Mereka adalah Peter Grummy, si tua bangka;
dan Regaila Banks, si gadis muda.
Tubuh Peter tampak mengeras seperti baja.
Ia menjadikan dirinya sebagai tameng manusia yang mampu menahan tembakan elemen
dan juga guyuran api Fionn.
“Akh! Dia membakar bajuku!” seru Regalia
yang berlindung di balik tubuh kakeknya.
“Jangan hiraukan, Nak. Fokus ke depan dan
tetap dibelakang Kakek!” balas Peter menjawat tangan cucunya lebih keras.
“Lepaskan, Kek! Aku ini petarung! Aku
datang kesini untuk bertarung!” ronta Regalia mencoba melepaskan diri.
“Tidak. Tak akan ada yang terluka hari ini
hanya untuk mencapai garis akhir.” Namun tangan baja itu memang terlihat sangat
solid dan keras.
Mereka hampir melewati barisan menara
pertama. Sedangkan Fionn masih susah payah berpikir bagaimana caranya untuk
melewatinya secara aman.
Imbrin menghembuskan napasnya. Ia mengerti
Fionn membencinya dan tak akan mungkin memaafkannya. Tapi ia tak punya pilihan
lain.
"Jangan jauh-jauh dariku. Aku akan
menggunakan sihir pelindungku agar kita bisa mengejar mereka!” sergah Imbrin
tiba-tiba.
Fionn tak menjawabnya. Ia melirik Imbrin
dingin lalu menolak untuk melihat wajahnya sepenuhnya.
Imbrin merasakan seperti ada yang menusuk
jantungnya. “Dengar, kita harus cepat. Kau tahu sihir cincinku hanya bisa
menahan serangan dalam satu waktu. Kau siap?”
Fionn masih tak menjawabnya, tapi
pandangannya berganti ke celah yang akan membawa mereka maju ke rintangan
kedua.
“Aku anggap itu sebagai ‘ya’.” Imbirn pun
berkonsentrasi kembali. “Tunggu aba-abaku … sekarang!”
Imbrin berlari memasuki jarak serang ketiga
menara. Menara-menara menyerang dengan waktu acak, tapi Imbrin tak kalah
cepatnya. Ia memanggil sihir pelindung cincin Jenewkka; hancur ketika satu menara
menembakkan proyektil listrik; lalu memanggilnya lagi. Fionn berlari
mengikutinya tak jauh. Berkali-kali Fionn mencoba menembakkan bola sihirnya ke menara-menara
itu tapi tak membuahkan hasil sama sekali.
Baris
pertama berhasil dengan mudah mereka lewati. Mereka hanya tahu akan ada kejutan
di baris kedua.
“Bang!”
Seketika
ledakan terjadi. Ledakan yang kuat bahkan menghancurkan sebuah batu di antara
barisan kedua menara-menara itu.
“Regalia!
Aku Pete, Kakekmu! Lihatlah, siapa lagi yang bisa mengeraskan tubuhnya di
sini?”
“Kakekku
atau bukan, aku lega akhirnya bisa bertarung! Bang! Bang! Bang!”
Itu adalah
panorama yang melibihi akal sehat. Imbrin menyaksikan Fionn bertarung dengan
Fionn lain di depan matanya. Salah satu memiliki tinju yang bisa meledak;
satunya lagi mampu membuat tubuhnya kebal.
Secepat
kilat Imbrin membalikkan badannya; melihat Regalia sudah berada di belakangnya.
Satu bola sihir sudah melayang di telapak tangannya, kemudian berubah menjadi
semburan api yang cukup besar.
Imbrin
memanggil sihir pelindung tepat pada waktunya. Tapi itu tidak menghentikkan
serangan Fionn yang seketika berubah menjadi Regalia. Serangan itu datang
bertubi-tubi, lebih cepat dari Imbrin mampu memanggil sihir pelindungnya
kembali.
Ia yakin
itu Fionn. Satu penjelasan yang bisa Imbrin terima adalah sejenis sihir mencoba
mengubah penampilannya menjadi musuh. Namun, itu tidak mengubah kemampuan dan
kepribadian.
Fionn yang
sekarang adalah sosok yang pendiam. Sementara Fionn satunya tak bisa berhenti
berteriak ‘bang!’ disetiap dirinya menyerang. Seperti anak-anak di desanya yang
selalu membuat suara saat mengayunkan pedang kayunya.
Hal yang ia tak sadari, Imbrin terpukul
mundur sampai berada di jarak serang menara barisan pertama kembali. Proyektil
menyerupai petir kecil itu telak mengenai pingganggnya. Imbrin terpental dan
terguling berkali-kali; jatuh tersungkur meringis kesakitan sembari memegangi
bagian gambesonnya yang menghitam.
Fionn yang menyerupai Regalia menatapnya
seperti makhluk rendahan. Jari-jarinya yang lentik mulai menjentik lagi.
“Tunggu apa lagi? Cepat bunuh aku!” bentak
Imbrin, “itu yang kau inginkan, benar? Aku memang berhak menerimanya, benar?”
Fionn tak mengucapkan kata-kata; tapi
jari-jarinya terus bergerak untuk menjaga kedua bola sihir itu tetap melayang.
“Fionn …” Imbrin melembut. “Aku tak akan
membenarkan tindakanku waktu itu.” Ia berusaha untuk duduk agar bisa menatap
dua mata merah tajam itu. “Tapi aku bersumpah pada dewiku, Jenewkka, bahwa aku
tak pernah berniat untuk menyakitimu. Aku hanyalah seorang yang bodoh. Yang tak
pernah belajar dari pengalamanku sendiri.”
Kedua bola sihir Fionn genggam hingga
tangannya berguncang. “Vatō!2)”
Semburan api besar menyerbu keluar dari telapak tangannya. Membakar Imbrin
hidup-hidup.
3.
3. Anak
Haram
Oh, József,
kau hanyalah si pandai besi
Tinggalkanlah sang kekasih, József,
minumlah
Oh, József, wajahmu pucat pasi
Tinggalkanlah sang gadis, József, menarilah
Oh, Sang Mulai tak lagi menahan nafsunya …
Nyanyi Imbin bersama teman-temannya. Mereka
melingkar pada sebuah api unggun yang cukup besar; saling bersulang dengan
kantong kulit yang terisi penuh oleh vodka. Tentu saja, mereka belum boleh
minum-minum seperti orang dewasa. Tapi, itu tak menghentikan Imbrin untuk
mencuri satu barel vodka dari rumah bordil di mana ibunya bekerja. Lalu
mengajak teman-temannya untuk menghabiskannya di hutan agar tak ketahuan.
Mereka mengobrol tak tentu arah, bernyanyi
dengan lirik yang berantakkan, bahkan muntah hingga pingsan. Setelah
berminggu-mingu kerja keras di perkebunan, peternakan, pandai besi, dan
tentunya bersih-bersih rumah bordil; inilah rekreasi yang pantas mereka
dapatkan. Orang dewasa selalu melakukannya, kenapa mereka tidak bisa?
Akhirnya, Imbrin kembali ke rumahnya di
pagi hari masih dalam kondisi mabuk. Ia mendobrak pintu ingin segera merebahkan
diri di ranjangnya.
Namun, nahas, ibunya sudah berdiri di
hadapannya; sapu ada di genggaman dua tangannya.
“Hah! Kemana saja kau?” bentaknya.
“Ibu, kita hanya … bersenang …”
Tak menunggu penjelasannya, Ibu menghantam
Imbrin dengan sapu rantingnya, tepat ke wajahnya. Imbrin pun tersandar lemah
pada dinding kayu rumahnya; wajahnya penuh lecet yang berdarah. Tapi, tubuhnya
terlalu gemetar untuk melakukan sesuatu soal itu.
“Kau yang mencuri vodka kemarin!” Ibu
menghantam dengan sapu lagi. “Kau tahu betapa mahal barang itu? Bagaimana aku
harus membayarnya?”
Imbrin tak menjawab.
Satu hantaman lagi mendarat di wajahnya.
“Kau pikir aku ini ratu Handevar? Aku ini hanyalah pelacur!”
Imbrin masih membisu.
“Sedari dulu aku tahu, memilih untuk
membesarkanmu adalah kesalahan besar, kau, Anak Haram!” Satu hantaman lagi
dilayangkan. “Kau harusnya dibuang untuk makanan serigala! Andai saja kau ini
laki-laki; setidaknya kau akan berguna di pasukan retribusi! Perempuan, anak
haram, pembuat masalah, pencuri pula; kau ingin jadi apa?” ibunya mengangkat
gagang sapunya tinggi-tinggi; bersiap untuk menghantam Imbrin lagi.
“Lalu, kenapa kau … tidak membuangku saja
waktu itu?” Imbrin menatap mata ibunya tak berkedip sekalipun. Tubuhnya masih
bergetar hebat, napasnya memburu berat, tangisnya telah membasuh bersih darah
di wajahnya. “Kenapa kau tak melakukan hal-hal sadis yang ada di kepalamu?
Apakah kau ternyata menginginkan budak murah yang selalu membersihkan rumahmu? Dan
menjadi sasaran amukanmu ketika kau mabuk atau uang yang kau dapatkan dari
bermandi mani tak cukup?”
“Anak Haram tak tahu diuntung!”
Lagi, Ibu mencoba menghantam Imbrin dengan
sapunya. Namun kali ini Imbrin mampu mengusai kakinya lagi dan lari
sejauh-jauhnya. Hanya saja ia masih teler berat; ia selalu tersandung pada
undakan tanah dan jatuh untuk menciumnya. Menabrak tiang kayu ataupun pohon
karena jumlah mereka tampak sangat banyak.
Itu sama sekali tak menghentikannya.
Dengan hidung yang patah, ia berlari menuju
hutan agar tak ada yang bisa mengikutinya. Terus memaksa kakinya hingga
matahari tepat berada di atas kepalanya, tepat dengan adrenalin di tubuhnya
terbakar habis tak bersisa. Imbrin menemukan pohon tua rindang dan memutuskan
untuk beristirahat di bawahnya. Kedua kakinya mati rasa, perutnya serasa
diputar-putar. Ia muntah lagi dan lagi sampai isi dalam tubuhnya terbuang
habis.
Imbrin baru menyadari betapa lelah dirinya
ini. Matanya berkunang-kunang, lalu tergeletak tak sadarkan diri.
Pagi hari berganti malam lagi sekejap mata.
Imbrin baru saja mendapatkan kesadarannya
kembali. Kepalanya masih berputar dan ia sangat lapar. Ia tak memikirkan
akibatnya terlalu jauh, hanya sedikit rasa lega akhirnya bisa pergi dari rumah
yang dingin itu.
Imbrin tak akan lagi pulang.
Disusurinya hutan perlahan-lahan, dipandu
oleh cahaya kunang-kunang yang sedang dalam musim kawin. Satu keberuntungan
dalam kesialannya.
Perutnya berbunyi. Mengingatkannya pada
satu tabiat kunang-kunang yang suka berkerumun di dahan- dahan buah bgyó. Ia menunduk, mencari pohon-pohon yang ramai akan
hewan bercahaya itu dan memetik buahnya. Ia memetik sebanyak mungkin, bahkan
yang belum matang turut diambilnya. Imbrin tak memiliki pilihan yang banyak.
Imbrin
memakan buah-buah itu dengan lahap, tak pedulis rasa buah itu yang pahit
kemasaman. Tak terlalu mengisi perut kosongnya, tapi setidaknya ada yang bisa
dikunyah. Ia harus tetap terjaga untuk tak menjadi makan malam kawanan
serigala.
“Lihat apa
yang kudapat.”
Suara
seorang pria menghentikannya dari pesta kecilnya. Imbrin menggeletakkan
buah-buahnya begitu melihat dua anak panah ditujukan padanya.
4.
4. Satu
lawan Satu
Fionn benar-benar melakukannya. Ia belum
seutuhnya bisa percaya, tapi dirinya benar-benar membakar Imbrin hidup-hidup.
Meskipun itu adalah tubuh Peter yang hangus yang terlihat di mata telanjangnya.
Apakah itu kepuasaan balas dendam yang dirasakan Fionn saat ini? Atau
penyesalan yang semakin menggerogoti hatinya?
Kenapa beban berat itu masih belum
terangkat dari tubuhnya?
Mungkinkah karena Imbrin tak bisa
sepenuhnya mati di sini? Atau fakta ia mampu membunuh seorang yang telah
membantunya selama ini dengan sangat mudah?
Akhir-akhir ini, Fionn seperti kehilangan
dirinya sendiri. Itulah yang keluarganya inginkan ketika mengasingkannya.
Ia tak lagi mempunyai siapapun.
“Step! Step! Step! Bang!”
Insting Fionn tiba-tiba berseru. Ia
melompat mundur menghindari pukulan dari sosok yang mengambil wujud
Imbrin—Regalia. Kepribadiannya dan mulutnya yang selalu berteriak seperti anak
kecil tak akan menipu siapapun. Regalia tak bisa menghentikan laju momentumnya
sampai ia menabrak sebuah batu di menara baris pertama.
Regalia berwujud Imbrin tak membuang waktu.
ia melompat dari sana dengan ledakan di kakinya dan kembali lagi berhadapan
dengan Fionn.
Fionn menjentikkan jarinya. “Kau melihatku
sebagai kakekmu?”
Regalia melompat-lompat kecil, kedua
tangannya ia ayun-ayunkan. “Ya, heh, jadi memang benar tua bangka itu adalah
yang asli.”
“Apa yang kau lakukan padanya?”
“Pak tua itu tak akan menggangguku lagi,
setidaknya tak sekarang, bang!”
Fionn sudah menduga itu. Ia melompat mundur
menjauhkan diri dari jangkauan Regalia. Kecepatan Regalia setara dengan Fionn
yang memanfaatkan panjang kakinya untuk terus menjaga jarak. Gadis itu tetap
menyerang; tinju kiri dan kanan. “Bang! Bang! Bang!” teriaknya tak bosan-bosan.
Fionn akhirnya mengenggam bola sihirnya,
mempertahankan posisinya sekarang.
“Kena kau sekarang! Ban—“
Seketika semburan api datang menyambar
wajah Regalia. Ia bergulig ke samping tepat pada waktunya. “Jadi, dia yang tadi membakar bajuku.”
Lanjutnya mengusap-usap rompinya yang bolong di bagian pundak.
Fionn menjaga jarak lagi. Ia berlari
sembari melemparkan bola-bola sihirnya tak tentu. Penglihatannya pun menangkap
wujud Imbrin lain yang tergeletak tak berdaya pada batu yang telah hancur di
baris menara kedua. Wujud Imbrin yang juga telah rusak dibombardir serangan
elemen menara.
Itulah mengapa tak ada proyektil sihir yang
menyerang ia dan Regalia.
Fionn membuat kubah api yang mampu
melindunginya untuk sementara. Ia memapah tubuh itu dengan tangan satunya begitu
melihat Regalia tak jauh darinya. “Lihat! Ini adalah kakekmu yang asli! Kau
telah membunuhnya!”
“Aku memang meninggalkannya di sana untuk
umpan menara. Bah! Dia tak pernah membiarkanku untuk bertarung.” balasnya
hampir tak ada emosi. “Toh, dia juga akan hidup lagi nanti setelah ini.”
“Kau …” Fionn tersentak mendengarnya.
Apakah ada aspek lain di arena persegi ini yang ia tak ketahui?
“Kau juga membakar temanmu sendiri.
Kata-katamu tak ada harganya di sini.”
Ya. Apa yang Fionn pikirkan? Kata-katanya tak
akan berharga dan ia telah membuang-buang napasnya. Apa yang Fionn harapkan?
Sebagian dari dirinya menganggap bahwa Imbrin masih hidup dan akan membantunya
jika ia bisa mengulur waktu.
Fionn harus fokus, ia tak bisa kehilangan
dirinya sekarang.
Regalia menggosok-gosokkan sepatunya ke
tanah pasir, menancapkannnya mantap. Sebuah ledakan di kakinya tercipta,
melontarkannya ke arah Fionn dengan tinju yang sudah terkepal kencang.
Fionn menghilangkan kubah apinya, ia
melempar tubuh itu ke arah datangnya Regalia sebagai pertahanan terakhir.
Ledakan yang cukup besar pun terjadi, Fionn terlontar masuk ke baris menara
ketiga. Terguling-guling di atas pasir yang kasar. Ia merintih tak bisa
merasakan kaki kirinya yang telah berceceran darah.
Ia tak mampu lagi berlari. Mungkin ini memang
saatnya untuk berhenti berlari dan mulai menghadapinya. Fionn mencoba untuk
berdiri lagi, membantu kaki kirinya untuk sekadar menapak. Rambut panjangnya ia
alihkan ke sisi, tato lehernya ia bersihkan dari debu-debu yang menempel. Rasa
panas dalam arena yang mensimulasikan gurun pasir ini sedikit demi sedikit
memberinya kekuatan.
Sejak pertarungan ini dimulai, lucillan itu
memang tak sempat memperhatikan dimana ia sebenarnya berada.
Fionn menjentikkan jarinya empat kali.
Ingin mengakhiri ini sekarang juga.
Asap dari ledakan tadi pun kian menghilang.
Regalia kembali terlihat menggosok-gosok sepatunya, menancapkannya cukup dalam
ke pasir. Ia memiringkan tubuhnya, melebarkan jarak antar dua pahanya, lantas
melompat lagi seperti itu hari terakhirnya di sini.
Fionn
menutup telapak tangan kanannya, menelan keempat bola sihir itu bersamanya.
Tangan kirinya menggenggam pergelangan tangan kanannya yang tak mampu berhenti
bergetar.
Jarak
antar mereka semakin dekat dan dekat. Regalia tak ragu masih mengepalkan
tinjunya tinggi-tinggi.
Arena itu tiba-tiba menyala terang.
Semburan api raksasa dan ledakan yang menyertainya membuat mata siapa saja buta
jika mencoba melihatnya secara telanjang mata. Bahkan dua panitia bocah itu
yang menyaksikan semuanya menggunakan kaca mata hitam.
Tak ada yang mengerti apa yang sebenarnya
terjadi.
Waktu dua jam hampir berakhir dan api baru
saja mengecil serta asap tertiup pergi.
Regalia
di sana, tergeletak tak berdaya. Tubuhnya dibanjiri luka-luka yang membuat semua
kulitnya berwarna merah. Ia telah kalah oleh Fionn atau terlalu memaksa
tubuhnya sendiri; tak ada yang mengetahuinya.
Namun di sanalah Fionn. Lagi dan lagi
terhempas dan mendarat di belakang baris menara ketiga. Di mana garis akhir itu
berada dan ia hanya perlu menyentuhnya. Hanya saja, yang terisa dari dirinya
hanyalah tangan kiri dan tubuh bagian atas. Ia menggaruk-garuk pasir dengan
sisa kesadarannya. Dua mata merahnya hanya tertuju pada garis hitam itu.
5.
5. Pergi
dari Rumah
“Makanmu lahap sekali, Nak. Kau yakin hanya
tersesat satu hari?” tanya seorang pria dengan busur panah di punggungnya.
Imbrin tak memiliki niat untuk menjawabnya.
Ia masih terus melahap daging rusa itu hingga ke tulang-tulangnya.
“Apa dia ini anak hutan?” sahut rekannya
yang juga menemukan Imbrin.
“Anak hutan atau bukan, kita tak bisa
memeliharanya!” potong seorang pria yang paling tua dengan jampang panjang
tubuhnya. “Kenapa kau berdua membawanya kemari?”
“Apa lagi yang bisa kita lakukan, Kapten
Gregon? Dia hanya bocah yang tampak tersesat ketika aku menemukannya.”
Kapten Gregon pun mengusap-usap wajahnya.
Menyandarkan pipi kurusnya ke kepalan tangannya. “Nak, makananmu sudah habis
dan tak ada tambah. Sekarang beritahu kami di mana rumahmu. Kami juga ingin
pergi dari sini.”
Imbrin yang sedang menggigit-gigit
tulangnya dari sisa serat sekonyong-konyong membuangnya. Ia memeluk kedua
kakinya dan menggeleng.
Kapten Gregon menghembuskan napasnya berat.
“Dengar, Nak, aku tak memiliki waktu untuk bermain denganmu; ataupun peduli
jika kau kabur karena bertengkar dengan keluargamu. Beri tahu aku di mana
rumahmu, dan kita akan berpisah di jalan masing-masing.”
Imbrin semakin kencang memeluk kakinya,
menenggelamkan wajahnya sekalian padanya.
Kapten Gregon melihat ke arah dua naka
buahnya, mereka hanya saling menatap tak mengerti apa yang harus dilakukan. Pak
tua itu pun melepaskan topi bundarnya, mendekatkan diri pada Imbrin. “Kami
adalah tentara bayaran ‘Rusa Hitam’ untuk melindungi rombongan kafilah Tuan Beriszl.
Bertugas mengawalnya dari Norjien dan berakhir di kota Tir untuk menjual
seluruh hasil panen gandum dan tembikar Tuan Beriszl.”
Imbrin membuka wajahnya kembali, agar bisa
mendengar cerita itu lebih baik.
“Kami berangkat pada dini hari. Ada puluhan
dari kami, moral kami sangat bagus waktu itu.” Kapten Gregon melanjutkan, “tapi
setelah melewati Prodgar, kami diserang bandit yang berjumlah lebih banyak dari
kami. Beberapa dari mereka bahkan mampu memanah dari kuda. Mereka tampaknya
lebih pintar dari waktu ke waktu.”
Imbrin melepaskan lingkaran tangan dari
kakinya. Ia melihat Kapten Gregon dan menunggu apa yang selanjutnya terjadi.
“Apa yang selanjutnya terjadi?” kedua
telapak tangan Kapten Gregon mengeras, ia menghantam tanah hingga daun-daun di
sekitar berloncatan. “Pembantaian, itu
yang terjadi. Prajuritku sama sekali tak siap; mereka hanya memberi kami
bertiga waktu untuk kabur bersama satu kereta kuda ini dari lima yang berangkat
bersama kami waktu itu.”
Imbrin mengalihkan wajahnya, tak mengerti
harus menjawab apa.
-“Mengerti, Nak? Kami tak punya apa-apa
untuk membawamu turut serta. Kami hanya ingin pergi ke Tir, menjual satu ini
yang tersisa, dan menghilang.”
“Mungkin kita bisa mencoba Madren.” Sahut
dua rekannya hampir bebarengan. “Atau Hinder—“
Imbrin seketika berdiri. “Tidak! Jangan bawa
aku lagi ke desa itu!”
“Kau tak punya pilihan di sini, Nak.” Jawab
Kapten Gregon mencengkeram lengannya.
“Tidak! Bawa aku ke Tir bersama kalian!
Jual aku di sana! Dandani aku sebagai laki-laki jika itu lebih menguntungkan!”
seru Imbrin masih tak ingin mengalah.
Ketiga pria itu pun saling berpandangan.
Kapten Gregon akhirnya membuka mulutnya.
“Kau mengerti apa yang kau ucapkan itu, Nak?”
“Ya … aku hanya ingin pergi dari sini.
“Imbrin terjatuh pada tumpuan lututnya. “Kumohon.”
Footnote:
1) Fionn
melantunkan doa untuk ‘Hukum Takdir Panthenna’. Adalah hukum adat bangsa lucillan ketika mereka
terdesak (tak ada bukti nyata, waktu, dll) untuk menentukan seseorang yang
telah berbuat salah kepada mereka benar bersalah atau tidak. Dengan ganjaran yang
cukup ironis untuk sang penghakim jika sang tertuduh tak bersalah sama sekali.
2) Bahasa
Latem untuk burn!
Comments
Post a Comment