Round 1 - Artos/Margo - Fantasy Brittania Story 1: Reasoning From Each Side
Fantasy Brittania Story 1
Reasoning From Each Side
Mukashi
Mukashi, in a long long place, far
away from ours.
Ah sorry sorry. It’s a bit habit to use that
word. Hehehe, padahal kita baru bertemu tempo lalu. Baiklah tanpa basa basi,
mari kita melanjutkan sepak terjang dari debut dua karakter kita ini.
“Melihat kekuatannya, dan responnya saat menghadapi
kekuatanku, aku sudah tahu, dia adalah reinkarnasinya”
“Aku selalu muak atas kisah dimana seseorang harus hidup
terikat dari takdirnya”.
Dialog barusan terpaksa diselesaikan, karena rekahan
dimensi menyeruak diantara mereka, dan membawanya ke sebuah tempat, sangat
asing bagi mereka.
“Gerangan siapakah…”
Di jeda antar semesta, IRSS
Chekov melayang. Sekumpulan boneka beruang setinggi 150 cm melayani tamu dari
IRSS Chekov. Beruang beruang itu menyediakan makanan, minuman, bahkan ada lima
beruang memainkan musik jazz di pojok ruangan.
Carol
dan Clive berdiri di atas panggung.
Carol,
gadis lima belas tahun berambut karamel tersenyum penuh percaya diri, buku
bertuliskan, “Bagaimana berbicara di depan publik,” terlihat di tangannya.
Sementara itu Clive, gadis sepuluh tahun mengenakan baju musim dingin, terus
menyenggoli Carol agar segera memulai pembukaan acara ini.
“Oke,
aku akan mulai!” Carol membalas, “Halo semuanya, namaku Carol. Dan nona ini
adalah Clive. Admiral dari kapal antar semesta ini. Kami...menculik...ehem,
membawa kalian ke sini dengan satu tujuan: Bertarunglah!”
Kira
kira itu yang diucapkan si gadis yang memperkenalkan diri sebagai Carol ini.
“Bertarung?
Kami sudah melakukannya setiap hari” tukas Margo, yang segera disanggah Artos,
karena serta merta, wujud pedangnya sudah lenyap, kembali memunculkan fisik
Artos, yang didominasi warna salju. Postur kekarnya segera menarik perhatian
khalayak yang berada disana, dan dalam waktu singkat, ia menjadi pusat
perhatian.
“Keren
sekali tato tubuhmu”, sahut anak yang…rasanya memperkenalkan dirinya sebagai
Child. Nama aslinya? Nanti saja kita cari tahu.
“Bo….bobobo…BOOOO”.
sang gadis Tungsten pun ikut menyuarakan antusiasmenya. Artos yang menjadi
pusat perhatian hanya bisa tersipu malu.
“Ehehehe, kalian juga keren sih” balas Artos berusaha hangat dengan sekitarnya.
Mungkin
karena suasana yang begitu mendadak, dan tak tahu harus melakukan apa, membuat
Artos dengan bawaan sifatnya yang mampu mencairkan suasana, sehingga bahan
obrolan pun selalu ada, setidaknya mengurangi ketegangan yang tercipta karena
ucapan Carol tadi.
“Tch,
suit yourself aja lah” ketus Margo melengos pergi.
Margo
yang lebih memilih menghindar, kini menelusuri ruangan yang katanya akan
menjadi persinggahan mereka. Ruangan futuristic? Bukan. Ruangan abad
pertengahan? Juga bukan. Tapi mereka mengaku mereka orang yang melintasi
dimensi dari berbagai sector.
“Tidak
ada dalam rekam sejarah. As usual, suspicious” gumamnya menelisik, sesekali
memunculkan Book Maker miliknya, menulis sesuatu didalam sana. Kadang
membukanya, kadang menutupnya. Kadang tertawa sendiri. Mendapat tatapan sinis
dari kolega sekitarnya.
“Umm..Hei
Aneh” si tangan kiri menghardik Margo. Yang dihardik hanya melirik sekilas.
“Apa
masalahmu?”
“Kauu….”
Margo memperhatikan, kedut di tangan kiri lawan bicaranya siap terbang kapan
saja menghajar rahangnya, tapi rekan dari si tangan kiri Nampak menenangkannya.
“Maafkan
saudaraku yang mudah naik pitam ini. Aku Yusra, adik dari Usri” ucap Yusra
sopan, membungkukkan badannya.
“Kau
juga” ucap Yusra memaksa Usri menunduk hormat.
“Howdy”, mengetuk topi sihir lebarnya, ia berlalu dari si saudara kembar.
Kembali membuat sang kakak marah.
“Onoree….”
Berapi-api Usri mendaftarkan sumpah serapah dari lidah kotornya, yang dianggap
angin lalu oleh Margo karena rupanya, rapat briefing (?) segera diadakan.
Carol
dan Clive kembali mengumpulkan para peserta untuk melakukan briefing dadakan
(?). Para boneka beruang secara ajaib berjejer rapi bak serdadu militer,
semuanya berbaris, membentuk pagar betis.
“Sorry
for the inconvience….inconvenience….”
“n·con·ven·ience”,
Clive membetulkan ejaan kakaknya (?)
“Ah
thanks”
“Anyway,
lanjut lagi, ada alasan tersendiri kenapa kami menculik…errr…..mengumpulkan
kalian disini, karena satu aturan yang kami setujui bersama: bertarunglah”
“Turnamen pertarungan ini ada satu hal yang berbeda: Kalian
bertarung sebagai dua orang, kalian akan menang sebagai dua orang,” Carol
kemudian menekan sebuah remot di tangannya dan sebuah layar besar turun dari
langit-langit, “Kami tak perduli kalau kalian harus mengikat yang lebih lemah
supaya ia tidak terluka atau bekerja sama menyelesaikan misi dari kami. Selama
misi selesai dan dua orang berhasil selamat, kalian menang.”
“Dan ini dia misi kalian,” Clive menepukkan tangannya dan
kemudian tulisan besar muncul di layar.
Sebuah
Layout peta, menampilkan rentang tiga buah Tower di masing2 deretnya. Beberapa
memiliki lambang elemental yang tak asing. Beberapa segmentasi deret gedung
terhalang bebatuan besar, beberapa lagi memiliki sejenis preferasi miasma.
“Kembali,
tak ada dalam rekam sejarah” gumam Margo, membuka lembar Book Maker miliknya,
mereplika skema gambar yang ditampilkan Carol. Iris matanya menangkap tingkah
Clive yang Nampak gelagapan, seperti takut akan sesuatu.
“Hiiiiikkk”
Bergidik
ngeri karena merasa diperhatikan, sontak Clive merasa kaget.
“Nine Tower Area, itu namanya kak”,
Clive membuka suaranya, sedikit parau, lalu kembali meringkuk dibalik tubuh
Carol, merasa takut akan tatapan intimidatif dari Margo.
“Astaga, kau tak boleh begitu pada
gadis kecil sepertinya” Artos menegur perlakuan Margo, yang raut wajahnya
Nampak ingin mengatakan “Apa dosaku, singa badung?”.
“Singkat cerita Nine Tower Area akan
menjadi ladang ujian pertama kalian, ada pertanyaan? Tidak ada? Baiklah. Mari
kita absen dulu”. Carol mengeluarkan secarik kertas magis dari kantung
celananya.
“Ada Usri, ada Yusra, ya kamu ke
Beruang Timur” Carol menyebut lantang dua nama tersebut, yang dipanggil segera
bergerak mendekati beruang dengan marka penanda “Timur”
“Ada Mein ada Liebe. Hmm, Liebe.
Terasa asing di lidah. Ich…Liebe….Yak kamuuu. Juga bergabung di timur sana ya
sodara sodari” Carol menunjuk beruang yang dimaksud.
“Lanjut, ada Nicol Rocca, Christina
El La, kalian ke beruang Barat”. Langkah gontai dari kedua nama yang disebut,
entah gerangan apa yang membuat mereka seperti itu.
“Ada Aran Nanjan, Zea Bakena,
bergabung sana ya sama sector barat”. Kontras dengan kombo Nicol dan Christina,
Ara Nanjan dan Zea Bakena berjalan…..dengan angkuh? Entahlah. Observasi dari
seorang History Keeper seperti Margo perlu kau ragukan, terlebih tendensi
negative darinya patut dipertanyakan.
“Ahhh, capek ngabsen, ayo Clive,
bagianmu….” Ujar Carol, memberikan kertas magis barusan pada Clive, seiring
langkahnya mendekati beruang Barat dan Timur, nampaknya ada sub briefing
darinya.
“Uhh,…Etto” Clive merasa gugup, tapi
dengan cepat ia beradaptasi dengan suasana yang…sudah non intimidatif.
“Etto, sector Selatan, Regalia Banks,
Peter Gumn? Ada?” Yang dipanggil mengacungkan tangan.
“Lalu, Locke dan Marcia?” Ingin merasa berbeda, dua kombi ini malah
mengacungkan kaki mereka.
“Uhh…..ke Beruang Selatan ya” Clive
memberi perintah singkat.
“Dan…terakhir, sector
Utara,,,,sisanya….masih perlu disebut kah?” Clive mengkonfirmasi peserta yang
tersisa.
“Tidak perlu, wahai nona manis. Udah
paham kok. Semoga pertarungan kita menyenangkan, Artos-sama” Child menjabat
tangan Artos, disusul antusiasime dari Bonno yang memukulkan dadanya dengan
semangat.
“Ahahahaha, semoga yang terbaik
menang ya” senyum Artos benar benar Messiah di sesi seperti ini.
Terkecuali Margo, yang kini harus
memutar otak, gerangan apa yang akan terjadi kedepan.
“Apa?” raut wajah kesalnya kini ia
arahkan pada Clive, yang masih menjaga jarak darinya.
“Margo, ayo, ternyata beruang2 ini akan
menjadi Teleportation Pod buat kita loh” sahut Artos dari kejauhan, menunggu
Margo, rekan bertarungnya untuk bergabung padanya.
“By Melusine” ketus Margo, melangkah dengan kasar menuju tempat tujuan.
Teleportasi yang dimaksud ternyata
adalah perjalanan lintas waktu, melewati jejak rekam dunia, semata-mata
berdasarkan alasan klasik dari Carol: “Kami tak mau mengganggu rentang sejarah
kalian yang kami culik…Ekhm….kumpulkan. karenanya kalian menggunakan para
Beruang sebagai pengantar kalian menuju tempat yang disediakan.”
Cukup masuk akal. Terlebih eksistensi
Margo dan Artos yang nampaknya sudah terikat dalam sejarah, memaksa mereka
untuk ikut “patuh” pada aturan dunia yang mereka tinggali, semata supaya mereka
bisa benar benar bebas dari belenggu takdir yang mengikat kehidupan mereka ini.
“Takdir bahwa aku dan dia, adalah
reinkarnasi tak berkesudahan dari legenda yang membentuk Fantasy Brittania.”
Nine Tower Area. Sekilas terlihat
seperti daerah apartement di sector sebelah Xerxes malam hari. Warna merah,
biru dan ungu pekat mendominasi setiap puncak dari Tower disana. Cara menang?
Siapa yang pertama mendarat ke daerah pilar merah, yang artinya selesai
melewati tiga baris tower.
“Dan ya, tolong diingat, kalau musuh
kalian sesi kali ini, adalah pasangan yang berada pada tujuan yang sama dengan
kalian”. Ucap Carol dan Clive berbarengan, sebelum kami “lepas landas” oleh
para Beruang barusan.
“AND START” suara menggelegar entah
darimana asalnya, memberikan sinyal untuk kami bergerak. Child yang pertama
merespon dengan menunggangi Bonno, yang bergerak terlebih dahulu dengan
kecepatan tingginya.
Artos? Masih sibuk melihat2 suasana
dari Nine Tower Area.
Hanya bisa menghela nafas, Margo
menyeret paksa tubuh Artos.
“Bebatuan itu takkan menghancurkan
diri mereka. Sana lawan”
“Tidak mau. Suasananya terlalu indah
untuk dihancurkan begitu saja”
“By Melusine, kenapa kau ini”
Perdebatan keduanya harus
ditangguhkan karena lemparan bongkahan es nyaris mendarat pada kedua wajah
mereka, memaksa pertahanan dinaikkan.
“Book Maker: Paper Field”
“Beast Claw: Copy”
Belasan lembar kertas yang memadat
dengan kegelapan, disusul replica dari cakar emas milik Artos mengitari posisi
mereka berdua, perlahan menyusuri jalanan yang beku. Ternyata tower pertama
adalah Ice Realm. Begitu dari info peta elektronik yang dibekali oleh Carol
(atau Clive).
“Maju”
Keduanya maju, saling menjaga satu
sama lain, meski sesekali lembaran kertas mencoba menyayat kulit Artos, tapi
cakar emas pun tak mau merasa kecolongan, pendaran sinarnya yang menyilaukan
memaksa Margo untuk “bermain” aman.
“BO…BOO!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Sergapan dari Bonno di arah kiri
mengejutkan keduanya, fisiknya yang separuhnya sudah terlapisi Tungsten rasanya
akan sangat sakit apabila mendaratkan tinju menggelegarnya pada Artos maupun
Margo.
Respon Artos yang Nampak terlambat
memaksa Margo untuk mengarahkan lembaran kertas dari Book Maker sebagai bentuk
proteksi barikade kegelapan, namun daya hancur dari dentum serangan Bonno
memaksa mereka berdua terpental menabrak beberapa bangunan kosong di
sekitarnya.
“UAGHHHH”. Erang keduanya yang masih
berusaha pulih dari serangan barusan. Margo yang cepat pulih karena mampu
“mengantisipasi” sergapan Bonno, menyadari bahwa serangan Bonno hanyalah
distraksi darinya.
“Babylon Whore” dampratnya melihat
dua butir granat terbang bebas menuju arah mereka.
“Hahahaha, kerja bagus adik
seperguruan” puji Child melalui Drone yang mengitari Bonno. Sedari tadi ia
mengobservasi bagaimana kami bergerak.
Tak ada waktu, Margo berpikir cepat
apa serangan yang bisa ia lakukan.
“RGHHHHH, FUAKKKKKKK”. Emosinya
memuncak, rasanya ia ingin merobek-robek isi jeroan tubuh seseorang.
“MORGAN FORM!!!!”
Luapan kegelapan menyeruak bak
pancuran air, bergerak cepat seiring gumpalan barusan Nampak “menelan” dua
granat barusan, melenyapkannya, dan kemudian memadat menjadi sebuah jubah magis
berwarna hitam pekat, seiring dua lembar sayap tajam terbentuk dari sisa
gumpalan kegelapan, kini tersampir pada tubuh Artos.
“Mar…go”
“STFU Singa bodoh. Karenamu aku
terpaksa memakai form ini”
“Sorry”
“DON’T SORRY ON ME BLOODY STEAM LION,
LOOK AT FRONT. AAARGHHHHH”
Kekesalan Margo karena melihat Artos
sedari tadi pasif, nampaknya mulai mempengaruhi stabilitas kekuatan mereka.
Bahkan Bonno pun segera menjaga jarak dari mereka.
“Boo….Booooo”
“Diam dan perhatikanlah, adik
seperguruan. Cari sisi aman ke bebatuan kedua” Child mengarahkan Bonno kepada
jalur evakuasi apabila ia tidak bisa menahan gempuran balik dari kombinasi
Artos dan Margo.
“Ugh….Not Again” Margo mulai
mengerang kesakitan, yang nampaknya dapat dirasakan Artos dari aktivasi Robe of
Regressed Past.
“AAARGHHHHH”
Belasan
tahun silam. . . . .
Di
satu Altar; penuh akan bebatuan, alam liar, bangunan seadanya, karena mayoritas
adalah pengelana. Lama2 daerah itu menjadi tempat menetap, yang hampir seluruh
penghuni pulaunya merupakan pekerja pekerjaan berat. Ketika suatu hal memiliki
kelebihan, mereka cenderung rentan melihat 'hal' lainnya. Pihak tak berdosa,
dengan kepolosannya menatap langit dan bermimpi; tak ada. Tak seorangpun
anak-anak dibiarkan bermimpi disini.
Mereka
pekerja. Memeras keringat, mendapatkan gaji. Berfoya-foya, dan mengutang.
Lingkaran setan yang tak pernah berhenti kini harus dirusak dengan paksa.
Harus
ada yang memberontak.
Harus
ada yang memiliki tekad.
Harus
ada yang melawan arus.
Harus
ada yang menumpahkan darah.
Impian
tidak diraih dengan semata-mata. Membunuh atau dibunuh. Ideologi langka
tersebut hanya terpikirkan oleh satu orang bocah berambut hitam dengan tatapan
mengenaskan miliknya, sekilas seperti zombie yang baru saja bangkit.
Namun
ketika membunuh menjadi takdirmu; menjadi jalan hidupmu, kau tak bisa berbuat
banyak. Terutama ketika kau hanyalah seorang bocah berambut coklat yang
memiliki hati lugu.
Harus
hidup. Harus memiliki impian. Harus terus bernapas selagi terus bertarung.
Harus membunuh demi impian; tidak buruk, itulah yang dilakukan orang-orang
disekitarnya, bagi mereka yang sudah dilabeli kriminal. Ya, membunuh atau
dibunuh. Ideologi yang keji bersatu dan menciptakan perpaduan tekad baja yang
tak dapat dibengkokkan. Membunuh atau dibunuh, ah, ideologi yang terdengar
mengerikan tapi itulah kenyataan kehidupan. Ketika petinggi-petinggi suku,
kaum, negara, dan dunia sudah melenceng.
Harus
ada yang menghimbau mereka.
Harus
ada yang memberikan isyarat.
Harus
ada yang memberikan contoh.
Mati.
Mati
adalah cara terbaik untuk membenarkan mereka. Persetan dengan acara 'memaafkan
mereka' atau 'menyadarkan mereka.' Manusia adalah makhluk linglung. Tak satupun
kata-kata mereka benar, tak satupun juga dari mereka memiliki kewarasan apabila
sudah berurusan dengan UANG dan KEKUASAAN.
Dunia
ini penuh akan sampah. Sama seperti tempat dimana mereka berdua lahir, besar,
dan hidup.
Residual kebencian, kekesalann dan
rasa kecewa yang dibawa Margo sepanjang hidupnya, dapat Artos rasakan tiap
detiknya melalui jubah ini, seiring imbas dari luapan memori ini, menjadi
sebuah rapalan kegelapan yang mengalir di tangannya. Begitu ganas dan menguar
bak api yang membara karena merespon sumber oksigen sebagai pemicu baranya,
dalam hal ini: kebencian yang dibawa Margo semasa hidupnya.
“Kegelapan ini, terlalu jahat Margo”,
gumam Artos,
“Just Do Ittt. SLITHERING DARK. There, I chant it”
“Okai” balas Artos ragu, sembari mengarahkan aliran kegelapan kedepan, menjadi
sejenis sulur penjerat yang bergerak liar menyusuri jalanan yang dipenuhi
serpihan es, salju, dan angin dingin. Sektor gedung kedua yang didominasi oleh
es membuat perjalanan mereka terhambat. Belum lagi tindakan Bonno yang sedari
tadi bersikukuh untuk menumbangkan mereka.
“Booo Boooo? BOOOOOOOOOOO” pekik
Bonno menunjuk2 sulur kegelapan barusan.
Bonno yang emosi, kini menyerok
serpihan es dengan tangan besarnya, melemparkannya secara sembarangan pada Duo
Brittanian. Kalau dibiarkan, akan
semakin ganas ia mendaratkan serangannya yang brutal namun terlihat presisi
karena badai es yang diciptakan oleh tower sector ini.
“Abaikan mereka, singa bodoh. Terus
maju” perintah Margo dalam sesi telepatis, seiring kegelapan dari jubahnya
memadatkan diri menjadi belasan lembar sayap, yang menangkis rentetan serangan
Bonno.
“Yabe, menghindar dulu” pekik Child
dari tempat persembunyiannya, karena Drone yang menemani Bonno sebagai mediasi
pembicarannya mendadak mati. Nampaknya ia berusaha kabur dengan tergesa-gesa.
Jatuhnya Drone yang menemaninya, nampaknya menjadi sinyal bagi Bonno untuk
menghentikan serangan dan harus mundur karena laser es dari tower nomor dua
akan meletuskan serangannya.
“MARGO, SERANGAN LASER” panik Artos,
mencari2 inkripsi magis untuk menonaktifkan Morgan Form yang menyelimuti
tubuhnya, memberikan isyarat bagi Margo untuk mengakses form Excalibur miliknya
untuk mengatasi laser es yang semakin mendekat.
“Oh by Brittania Sake, Arthurian
Form”. Rapal Margo, secara cepat membatalkan form Morgan yang dikenakan oleh
Artos, dan membuat Artos berubah bentuk dengan cepat, mengakses bilah pedang
berkilau yang dikatakan merupakan pedang dalam legenda Fantasy Brittania.
“Kinetic
Slash” Rapalan Margo
dibuat seadanya, karena berpacu dengan laser es dari tower barusan. Penyebutan
mantra terkonfirmasi, pendaran keemasan menyelimuti bilah Excalibur. Satu
sabetan melesat, mencoba beradu pukul dengan laser es dari tower nomor dua.
Ledakan terjadi, namun nampaknya Tower masih utuh berdiri kokoh. Namun getaran
yang ditimbulkan dari ledakan barusan, nampak memberikan retakan pada batu yang
berada diantara tower-tower, dan salah satu dari mereka pecah, memberikan jalan
untuk mereka melanjutkan perjalanan.
“Kalau kau seperti ini terus, kau
takkan bisa menjadi pahlawan yang kau incar selama ini, singa bodoh” umpat Margo
lagi, menampar wajah Artos bolak balik.
“Tapi…Tapi….mereka orang2 tak
bersalah” keluh Artos gontai.
“YA LALU KENAPA? MEREKA SETIAP SAAT
BISA MEMBUNUHMU!! By Merlin’s Beard, kenapa takdirku terikat pada singa bodoh
seperti dia”
“…Sorry”
“Diam”. Ketus Margo melangkah dengan
kesal, memaksa Artos mengikutinya.
Perjalanan menuju baris Tower kedua.
Hanya keheningan diantara mereka, saling diam satu sama lain. Tidak ada
interaksi sama sekali. Keduanya diselimuti oleh problematika masing2. Margo
dengan luapan emosinya, residual dari Morgan Form, dan Artos, yang diselimuti
rasa bersalah, karena merasa menjadi beban bagi Margo.
Perbatasan Sektor pertama dan kedua
dari Nine Tower Area.
Hawa panas menerpa wajah mereka
seiring debur api menjilat kulit mereka, menguapkan moistur air dengan
kecepatan diluar nalar. Bahkan keping es dari sector sebelumnya mencair dengan
cepat.
“By Gritty Horn. Panas sekali” umpat
Margo, mengedarkan pandangannya pada sekitar, suasana di Sektor kedua dari Nine
Tower Area merupakan perkampungan (?) dengan ladang yang tandus. Mirip seperti
Wild West.
“Margo. Lihat mereka” tuding Artos,
pada interaksi Child dan Bonno, yang nampaknya sudah sampai di sector ini
terlebih dahulu. Keduanya terlihat sedang bertengkar hebat, dengan gestur tubuh
saling menunjuk satu sama lain. Sesekali barang2 terbang diantara mereka.
“Emosi sekali itu gadis Gorilla”
komentar Artos. “Seperti Margo pada umumnya” Batinnya lagi, berusaha memikirkan
sesuatu.
“Menemukan sesuatu, Margo?” ucap
Artos, menyadari keberadaan Margo tidak ada di tempatnya semula.
“Eh, Hei…apa yang kau lakukan?”
“Book Maker: Dark Scripture”. Lembar
kertas tersebar dalam radius 30 sentimeter darinya, dan pendar kegelapan
menguar dari lembar kertas yang tersebar.
“Menganalisa daerah ini. Ada efek
samping dari Tower yang membuatku curiga. Dan diam pada tempatmu” tuding Margo
pada posisi Artos berdiri.
“Ano, daripada dianalisa segala
macam, maksudku, mumpung itu dua orang tidak berfokus pada kita, kenapa kita
gak coba melewati mereka gitu loh?” ucap Artos, hanya bisa menyengir lebar.
Margo, yang sedari tadi berfokus pada
mantranya, seketika menutup Book Maker miliknya.
“Bangsat, kenapa gak bilang dari tadi
sih”
“Ya kamunya kalo sama aku kayaknya
kenapa banget deh”
“AHHHHHH Bacot. Gapake lama berarti.
Sana berubah jadi Excalibur”
Melipat tangannya di dada, Margo
menunggu Artos untuk berubah menjadi senjata yang dimaksud.
“err, aku lupa kemarin caranya
gimana”
“…….”
Facepalm so hard, Margo menarik paksa
lidah Artos, dan menuliskan inkripsi magis sesuai pola tato yang ada di
lidahnya.
“There. Baca apa tulisannya” tunjuk
Margo pada inkrpsi yang ada di hadapan Artos.
“Uh….Arthu….rian Form”
Pendaran keemasan menyelimuti tubuh
Artos, seiring kilatan barusan bertransformasi menjadi bilah pedang Excalibur,
yang tergenggam di tangan Margo sekarang.
“Trus sekarang apa?” Margo masih
mengayunkan paksa Excalibur yang ada di genggamannya.
“Aduh aduh aduh pusing. Coba cari ada
gak batu segel yang sama kayak di Tower sebelumnya?”
“Ah, kliatan” Margo mengkonfirmasi
eksistensi batu yang memiliki pola sama dengan batu di sector pertama.
“Kayaknya itu bisa dihancurkan sih”
“Trus mau pake Kinetic Slash lagi?”
“Ya sesuainya kamu aja Margo.
Kayaknya urusan rapal merapal kamu jagoan sih”
“Ugh, this is why I hate people like
you”
Merapikan topi lebarnya, ayunan
pedang diarahkan presisi dengan menarik posisi tangan kedepan, seolah ingin
menusuk kedepan.
Menarik nafas…
“Excali…Spear!!!”
Menusuk kedepan, laser padat dari
ujung pedang melesat kencang pada target yang dituju: bebatuan magis di Sektor
Dua barusan, dan rekahan kemerahan Nampak terlihat dari sana.
“That’s our Signal Margo. Sedikit
lagi” pekik Margo, ditandai dari kedip antusias pada Excalibur.
“Shut Up, aku belum terbiasa memegang
bentukmu seperti ini”
“Oh jangan merasa malu malu,
Margo-kyun. You can touch me whenever you like, Ehe”
“OH NOW YOU ASK IT SINGA GANJEN”
Kesabaran Margo benar benar diuji oleh singa edan seperti Artos ini.
“PREPARE YOUR BODY FOR A LOT OF
SMASH. CLOSE BEAT: CONCUSSIVE SLASH!!”
“Ohohoho, Margo kun mengganas. My
Body Is Ready”
Namification Step terlaksana,
inkripsi mengenai proses serangan dan eksekusi seperti apa, diterima.
Seketika, sekujur tubuh Margo
diselumit lapisan tipis dari cahaya, yang membawa langkah kakinya cepat bak
cahaya, melesat mendekati batu magis yang sudah berlubang separuhnya berkat
serangan barusan, dan tebasan demi tebasan mendarat pada batu tersebut.
Ayunan ganas tanpa ampun meluncur, diselingi erangan dari Artos, karena
yah…bentuk pedang Excalibur adalah transformasi fisik seutuhnya dari Artos.
Bebatuan hancur, membuka jalan bagi
mereka berdua untuk meneruskan perjalanan….
“Atau tidak” ucap Artos, yang
mendapati hawa panas dari Tower Api semakin intens menjilat sisi pedang
darinya. Dan insting yang ia terima mendapati bahwa kombi dari Child dan Bonno
jelas takkan tinggal diam melihat lawannya lolos dari mereka begitu saja.
Dan benar saja, tanah bergetar karena
hantaman dari objek yang dirubuhkan paksa.
“Pasti ulah Bonno” Batin Margo, terus
melaju masih menggenggam bilah Excalibur. Kecepatan gerak yang ia dapatkan dari
residual cahaya yang menyelimutinya membawa kakinya melesat menuju sector
ketiga dari Nine Tower Area: Daerah petir. Bila peta yang dibekali Carol kala
itu benar2 menunjukkan layout dari arena pertarungan mereka kali ini.
“Kalau sudah masuk ke sector petir,
artinya titik pilar merah ada di….”
“Tiga ratus meter didepan” ucap Artos
lantang, ternyata ia sudah terlebih dahulu memperkirakan jarak yang harus
mereka tempuh melalui rambatan cahaya yang dipancarkan titik pilar merah dengan
radiasi cahaya dari Excalibur miliknya.
“Tumben kau sigap hari ini” sindir
Margo pada rekannya (?) ini.
“Entahlah, Rasanya jejak listrik
statis yang terpancar di daerah ini membuat segalanya dipermudah” ucap Artos,
mencoba meresonansikan cahaya Excalibur darinya pada badai petir sekitar.
“BOOOOO….BOBOBOBOOOOO”
“Yeah Artos, keluarkan cakarmu, singa
ganas. Jangan beri ampun musuh kita didepan”
Kali ini, Child berada diatas tubuh
Bonno, yang sekujur tubuhnya sudah terlapisi oleh Tungsten. Fisik Child juga
terselimuti sejenis Armor, yang sekilas mengingatkan duo Brittanian ini akan
film laga fiksi fantasi yang sempat popular di tanah tinggal mereka.
“Kita lawan?”
“Can you face it?”
“Maybe, but wait. Did he said, my
name?”
“Did he?”
“He did”
“Well, sejujurnya….”
“Rasanya tidak akan kubiarkan
halusinasi ini akan menguasaiku. Because I know it damn well how Brittanian
Spells Works.“
“Maksudmu?”
Halusinasi yang dialami Margo
semenjak memasuki sector Tower Api membuatnya melihat dan mendengar suara Artos
sebagai Bonno, yang jelas jelas merupakan musuhnya. Namun sayang saja,
kebencian dan kekesalan yang ia bawa sejak sadar bahwa kehidupannya adalah garis
reinkarnasi dari sistem pendahulunya, dipicu aktivasi dari Morgan Form yang
semakin meluapkan emosi negative darinya, membuat isi pikirannya sudah dipenuhi
kebencian yang membutakan segalanya, karenanya, efek halusinasi yang ia rasakan
tidak separah yang dialami dua kombi ini.
“How do we fight them, Margo?”
“Gatau. Kepalaku pusing daritadi.
Efek halusinasi dari radiasi Fire Tower semakin kencang saat disini….”
“Awas Petir” pekik Artos yang
“mengarahkan” ayunan Excalibur—Alias tubuhnya sendiri, melentingkan fisik Margo
kekiri, meloloskan diri dari sambaran petir. Musuh pun merespon sama, dengan
bertolak dari posisi mereka, karena sambaran petir baru saja menembak dari
salah satu Tower.
“Booooooo…BOOOO”
Tungsten Fist terpadatkan pada kedua
tinju Bonno. Lengkap dengan duri. Nampaknya siap menghabisi musuh didepannya.
“Wild Plan Margo. Kau menunggangiku,
gunakan mantra bukumu. Biar aku berubah ke bentuk semula. Aku percaya kamu bisa
mengatasi mereka. Gimana?’ tawar Artos pada solusi yang ia ajukan.
Hanya bisa menghela nafas, Margo
terpaksa menuruti permintaan egois Artos.
“Hahh, suit yourself, singa bego”
“Okay then, Hop Step Up, Arthurian
Off” Artos kembali pada bentuk Phantasmal Beast, alias tubuh singa miliknya.
Beast Claw terhunus, dan kopian darinya termanifestasi dalam jumlah belasan,
melayang dengan ganas di sekitar mereka.
“Ayo naik”.
Dipenuhi rasa emosi, Margo terpaksa
memenuhi permintaan Artos, dan belum sedetik mereka sepakat, butir2 granat
sudah melayang didekat mereka. Serangan dari Child.
:HAHAHAHAHAHA, TAKKAN KUBIARKAN
KALIAN KABUR. KEJAR DIA”
“BOOOOOOOOOOOOOOOOO”
“Punch it”
Kedua makhluk hewaniah kini memacu
pergerakan. Meski lambat, langkah Bonno yang lebar mampu memotong jarak
diantara mereka, memaksa maneuver liar dari Artos untuk menghindari proyektil
Tungsten yang melesat bak roket kluster dari sekujur kulit Bonno.
“MARGO”
“BACOT, Book-Maker: Rubber Paper”
Belasan kertas terwujud dalam formasi 4x4 dengan mengaplikasikan sifat
elastisitas dari karet, mencoba memblokir roket tungsten yang mendarat dan
mementalkan balik mereka. Disusul serbuah Beast Claw yang bergantian melesat
bak roket.
“Rocket with Rockets Baby” kekeh
Artos bangga. Tak membuang waktu, Margo mengalirkan jerat magis kegelapan dari
mediasi kertas sihirnya untuk menjebak Bonno, memaksa Child agar mengejar
mereka. Tapi rasanya nihil baginya, karena armornya Nampak malfungsi karena
intensitas listrik skala tinggi.
“Natural EMP ya” gumam Margo.
Jarak tersisa limapuluh meter lagi,
seharusnya perjalanan akan mudah, namun sambaran petir dari Tower kini meluas
dalam radius lima meter.
“Serangan petir”
“Terlalu cepat. Book Maker belum
sepenuhnya pulih. Bangsat. Brace for Impact”
Sambaran petir jatuh dari langit
begitu keras, yang seharusnya menggoreng siapapun yang tersambar disana, namun
nampaknya fisik Artos begitu sehat wal afiat.
“How in the world……..”
….
Ternyata Margo sudah
mentransformasikan dirinya menjadi Morgan Form, menyelimuti mereka berdua
dengan Dark Dome, meski berimbas
pada beberapa robek di kain jubahnya. Cairan gelap nan kental Nampak merembes
dari setiap robekan jubah.
“Margo….”
“Just…Go….Black Whip”, Rapal Margo didalam Regressed Past, melesatkan sulur
kegelapan yang mengarah pada Bonno yang mendekat, mencoba menjerat paksa sang
target. Child yang semakin berang, melemparkan kembali granat, serangan misil,
dan menepuk2 tubuh Bonno, memerintahkan tunggangannya melepaskan serangan skala
besar. Namun semuanya dientaskan oleh Margo.
“I see it Margo. Sisa sepuluh meter
lagi” langkah Artos yang sedikit ragu karena merasa kasihan akan fisik Margo,
tapi demi mengembalikan semuanya.
“Terimakasih, and I will move it forward”
Langkah kakinya terasa ringan, entah
mengapa. Perasaan lega, karena berhasil melihat rekannya mau sedikit “berubah”,
atau sesuatu, apapun itu, akan menjadi catatan sejarah yang keren kedepannya.
Memaksakan diri, Artos berhasil
mendarat di titik tujuan, yaitu daerah merah sebagai tujuan akhir. Dan serta
merta keduanya terhisap masuk dengan cepat, seolah ruangan barusan adalah
proses teleportasi, dan mereka kembali disambut Carol dan Clive.
“Welcome back, and congratz. Karena
sisa waktu kalian….5 menit” Ucap Carol, memerintahkan para beruang untuk
mengurus Artos dan Margo.
“Well, at least we know the Reasoning
From Each Side, eh?”
“Diamlah, singa bodoh”
-End-
Comments
Post a Comment