Perkenalan 07 - Artos dan Margo - We Are United, Or, Are We?


Mukashi Mukashi, in a long long place, far away from ours.

Ah, aku selalu menggemari parafrasa pengawal kisah seperti diatas. Diperkenalkan temanku dari Far East. Anyway, saatnya aku membuka kisahnya

Suatu waktu, di Fantasy Brittania. Dunia dimana aspek fantasi mendominasi. A Drifted Continent from their path, a Divergent of History, some might say. Kiranya itulah awal dari kisah yang akan kuceritakan saat ini

Ini adalah sebuah kisah, ketika kamu terikat pleh sebuah takdir, yang mana takdir tersebut tidak bisa kamu pisahkan dari dirimu, karena pada akhirnya, yang membentukmu hingga saat ini, adalah takdir yang selalu mengikutimu.

Tapi, apakah benar begitu saudaraku sekalian? Entahlah.


Di suatu waktu yang sulit ditentukan kapan adanya, (karena orang2 pada saat itu belum mengenal konsep penanggalan), Sang Pahlawan yang tak mau disebut namanya, berhasil menaklukkan musuh utamanya. Sebuah kisah klasik, dimana cahaya mengalahkan kegelapan.

"Sejarah ditulis oleh mereka yang menang" ucap si pihak menang, mengacungkan senjatanya, yang berlumuran darah, dari lawan yang menghadang dirinya.


"Tapi sebagai yang mewadahi rekaman sejarah, aku berhak untuk menyegel mana yang kurasa tidak relevan" Sahut si pihak yang kalah. Masih berpegang teguh akan tekadnya, yang sudah hancur berkeping-keping, berserakan seiring kesombongannya luntur, oleh panji kemenangan sang pahlawan.

"Kalau begitu aku pun bersumpah. Bahwa keturunanku, ataupun reinkarnasiku, akan terus membuka apa yang dirahasiakan darimu. Waha aspek bengis"

"Kembali pada mulutmu, sosok pahlawan bengis. Aku pun akan bersumpah, bahwa keturunanku, atau reinkarnasiku, atau bahkan pengikutku, akan meneruskan dendam ini, dan memperebutkan ulang tanah sejati ini"

"Then its settled". Gejolak energy membumbung tinggi, melingkupi mereka berdua, dan lenyap begitu saja.
Bahkan di ambang kematiannya sekalipun, kedua insan ini saling berseteru, tidak pernah menemukan titik terang.



Suatu waktu, di Xerxes, salah katu kota di Fantasy Brittania.

Sosok humanoidnya menyeruak dari kerumunan, berusaha lewat dengan tergesa-gesa. Hawa panas bercampur keringat melingkupi ruangan sempit di lorong perkotaan. Perawakan tinggi darinya membuat siapapun merasa was was. Namun jika kamu memperhatikan siapa dia, maka kamu paham mengapa ia berpenampilan begitu.


Dialah Artos, sang Beast Kind, yang dijuluki Phantasmal Beast. Legenda mengatakan bahwa ia adalah keturunan dari sang pahlawan yang membebaskan tanah F.Brittania dari mara bahaya. Namun benarkah demikian? Tak ada yang tahu. Marilah, kita simak dari sudut pandang si Artos itu sendiri. Shall We?



+++ (Artos PoV)

Perjalanan menuju Xerxes memakan waktu lama. Dan karena aku tak punya banyak waktu, naik kendaraan umum saja. Jadi,. Kuputuskan unntuk berjalan kaki kesana. Entah mengapa, moodku mengatakan aku harus bergerak.

Lorong perkotaan rasanya semakin sempit saja tiap harinya, atau memang postur tubuhku yang semakin membesar? Entahlah. Aku tak terlalu memperhatikan hal itu, karena, sampai sekarang pun, aku tak tahu bagaimana cara mengatur bentuk tubuhku.

Bukan apa apa, ataupun bukannya aku malas, tapi sungguh. Seberapa sengitnya aku berusaha mengubah tubuhku, baik lewat latihan, atau obat kuat sekalipun, rasanya mustahil.

Ah, tapi cukup basa basinya. Keretaku baru saja datang

Menaiki kereta yang baru saja datang, suasana didalam cukup sepi karena tampaknya sebagian penduduk memilih di rumah. Berita bagus karena setidaknya aku bisa duduk.

Petugas yang tampak berlalu lalang, memastikan setiap penumpang yang ada, tapi entah kenapa mereka tampak memperhatikanku. Terserahlah. Aku akan merebahkan diri. Perjalanan pasti panjang.

Lantunan lagu yang menenangkan pikiran membawa alam bawah sadarku untuk mengambil alih, yang artinya, aku sudah terlelap dengan nyenyak.



Belum semenit berada dalam alam lelap, suara itu kembali bermunculan.

Dentingan pedang, bau darah, dan hangus, bercampur dengan keringat, memutar mutar di kepala. Kacau, galau, semua bercampur. Didepan mataku sendiri, pembantaian itu terjadi, hanya karena hal sepele.....

Aku terlalu polos untuk memahami apa yang terjadi. Tapi mengapa, bau darah dan garam masih bisa kucium, meski sudah sepuluh tahun lamanya?

Satu rekam memori menampilkan diriku…menghunuskan pedang?

Dan, satu rekam memori lain mempertemukanku dengan, seorang bertopi lebar?

Lonceng nyaring dari kereta membangunkanku dari tidur, dan aku dibawa ke suatu tempat asing. Tempat itu membuatku harus bergegas, entah kearah mana. Rasanya insting tubuh ini mengatakan: Tempat kerja. Benar sekali, menjadi Wandering Beast. Dia yang berpetualang.

Nampaknya kegiatan ini sudah kulakukan sejak lama. Sejak kapan tepatnya? Aku saja sudah tidak bisa mengingatnya dengan detail. Hanya mampu mengingat….

Berpindah dari satu kota ke kota lainnya, dengan menumpang gerobak sampah. Menghangatkan diri dengan satu alat yang bisa kuselamatkan: Beast Claw. Cakar magis yang menurut warga sini, melindungiku saat aku ditemukan di Danau Kejernihan. Beruntunglah, warga mendapati nama Artos tersematkan pada alat itu. Dan nama itu masih dikenal warga sebagai sirkus, penghibur yang berkelana.

Hingga di Xerxes, saat petinggi disana memperkerjakanku serabutan. Tidak masalah, yang penting aku bekerja. Mendapat uang, mendapat naungan....karena aku tak tahu harus melakukan apa pada saat itu...

"Pembantaian itu. Aku masih mengingatnya. Tapi, Aku masih belum bisa melupakannya. Kenapa?" ratapku di sela sela terlelap. Tampaknya ada sesuatu yang membuat perjalanan ini terasa lama....perlahan rasa kantuk ini menyerang.....mataku berat....

Siang menjelang, di ufuk timur. Menuju sore temaram tepatnya.

"Penumpang yang kami hormati, anda sudah sampai di..." suara tersebut menjadi alarm bagiku untuk bangkit dari kursi penumpang, menggosok mataku, memastikan ini tempat yang kutuju.



Aku turun dan segera bergegas mencari cafe terdekat. Perjalanan ini membuatku lapar.

Antrian Cafe yang panjang. Nyaris 15 menit menunggu....

Dan saat giliranku.....



"Hidangan yang anda pesan akan tersaji 20 menit kemudian" Ucap si pelayan

.....

Ah sudahlah.

"Kalau begitu, bisakah aku tinggal sebentar? aku akan ke kapel untuk berdo'a" Pintaku padanya, dan untungnya mereka membolehkan.

.

20 menit untuk berdoa.....akan lebih baik bila meminta pertolongan pada-Nya saja.

Dan pada akhirnya, aku memang harus bernaung dibawah-Nya, untuk menjawab masa laluku.

Bahwa, gerangan siapakah diriku? Kenapa aku berada disini? Untuk siapa aku hidup?

Biarkan diri-Nya yang menjawab. Agar aku tidak dilingkupi kegelisahan, ataupun rasa ragu.

Dalam doanya yang khusyuk, ia mendapati ada pendaran sinar, yang nampaknya ingin mengajaknya masuk.

Gerangan siapakah kamu?” Namun pertanyaan barusan hanya selewat semu, karena yang diajak, segera mengiyakan, untuk memasuki cahaya tersebut.

+++ (End of Artos PoV)

Oya oya, sang Wandering Beast kita Nampak kebingungan dengan dirinya sendiri, fufufu. Poor things, ia tak menyadari potensi sebenarnya dari siapa dirinya, apa tugas sesungguhnya dirinya. Pada akhirnya, ia menerima ajakan cahaya tersebut. Menarik menarik,

Hmmm, secara mengejutkan, tindakan Artos barusan memunculkan satu entitas yang bergerak selaras dengan garis takdirnya. Ah, gerangan siapakah ini? Getol sekali ingin diceritakan. Baiklah baiklah, mari kita simak sajian kisah dari sanak saudara…….Margo?

Ya. Margo. Mari mari kita berpindah ke sudut pandang kisahnya. Shall we?



+++



+++ (Margo PoV)

Sejarah. Bukti bahwa kau pernah ada, bukti valid bahwa masa lalu itu tak bisa diubah.

Bentuk validasi dari sikap seseorang. Apapun bentuknya, catatan fisik, berita dari mulut ke mulut, garis darah keluarga. Semuanya adalah bukti sejarah. Tak terkecuali buku-buku di perpustakaan ini.



Oya, ada buku rekaman terbaru yang muncul di ruangan ini”. Gumamnya menggeser tubuhnya, meraih buku tersebut.
“Allow me to see this…Black-Scarred Book”. Desisnya mengelus buku tersebut.

Dibukanya buku tersebut. Sebuah telematrik magis menampilkan ilustrasi dari buku tersebut.

" 14 Tahun berlalu, tapi tidak ada yang berubah." Senyumnya mengembang setelah menginjakan kaki di gerbang masuk kota Kaldera, kampung halamannya.

" Hwua! Ramai sekali,~" teriakan riang gembira terdengar di sebelahnya. Ekspresinya cukup senang melihat isi kota tersebut. Dia hanya gadis dengan kelakuan imut yang membuat orang disekitarnya menjadi gemas. Termasuk aku.

" Shinka, apa menurutmu kita bisa acuhkan dulu misi dan bersenang- senang dulu? Astaga! Dadanya besar sekali!"

Aku tahu kau mesum tingkat akhir. Tapi setidaknya, kontrol teriakanmu itu, dasar Okama!

" Udara disini membuatku muak , Kufufufufu"

Sosok tadi hanya menghela nafas mendengar komentar pemuda disebelahnya kini.

" Tidak hanya kau, Mafioso Palsu. Tidak hanya kau."

Tidak ada yang berubah dengan kota ini. Tetap terlihat gemerlap walaupun keadaan masih sore dan penuh sesak dengan orang-orang memuakkan.

Sebenarnya aku hanya cuek berjalan dan mengacuhkan semua itu, tapi kurasa yang lainnya tidak. Mereka, ah, tidak, sebenarnya hanya Zayn, si mesum barusan, |dengan beraninya ikut masuk dalam pertarungan yang berakhir dengan kekacauan.

Benar-benar dia itu.

Denting lonceng menarik perhatiannya. Membuatnya menunduk, hanya untuk menemukan sebuah lonceng yang terjatuh di dekat kakinya.

" Hampir saja. Rasakan ini!"

" Mou~ jangan dekati aku!"

Mengacuhkan apa yang terjadi didepannya, ia menengadahkan kepalanya. Melihat bagaimana seekor burung yang terbang bebas diatas sana. Sayap yang terkebas tanpa ada apapun yang membebani.

Kebebasan, ya. Hm...

End of Story”. Gusarnya menutup paksa buku tersebut.

A Freedom is a mere illusion”. Kembali ia pada sifat pesimisnya. Merapikan buku yang berserakan, air mukanya Nampak kesal.

Margo. Orang orang mengenalnya sebagai Historian. Sang Penjaga Sejarah. Tak banyak informasi yang didapat, selain bahwa ia berasal dari Altar Premonisi. Ditemukan dan dirawat oleh petualang yang menemukan Margo disana. Selebihnya? Tak banyak datanya.

Sungguh sosok misterius.

Well, in a well of well. Deretan buku hari ini memenuhi kuota. Tapi aku curiga…..” Kesalnya menata buku-buku yang berserakan lagi. Menyusun dan mengembalikan ke tempat semula.

dan gerangan apa ini”. Ia mendapati sebuah buku kosong, tanpa nama, tanpa isi. Putih polos. Seperti buku tulis.

Hmmmm, saatnya mengembalikan dirimu—“ Belum selesai ia berbicara, buku tersebut menyedot seluruh fisik Margo, seolah mengajak masuk kedalam dimensinya.

Whaaa”



+++ (End of Margo PoV)

Kenapa semua sudut pandang mengakhiri kisah mereka dengan scenario tersedot portal ajaib? Entahlah. Namun rasanya, aku tahu arah kemana mereka berdua bergerak.

Shall we observe them? Which one did you choose to saw? =====================================================================

Kedua sosok barusan mendapati diri mereka menerima “ajakan” untuk masuk kedalam Portal. Klasik, tapi itulah salah satu cara terbaik untuk mengajak mereka agar bertemu.

Posisi Margo hadir didalam sebuah ruang kelas, dimana ia mendapat sesosok…atau tepatnya sebilah pedang, yang berbicara padanya.

Bermain peran?” Responnya sudah diduga. Dan yang memberikan perintah hanya mengangguk.

What if your role is not just a mere role, but also your destiny?” Ucap sang pemberi tugas.

Maksudmu?”. Keduanya bertanya.

Try to reveal it by yourself. Sekarang, kubekali pengetahuan, peralatan yang nantinya akan membantumu dalam jalankan peranmu, Artos. Kudoakan agar sukses, O King of Knight” Ucap sang pemberi ujian, sebelum melenyapkan dirinya, dari hadapan mereka.

+++

Posisi Margo? Berada di luar ruangan kelas. Dan ia mendapati, buku yang ia berusaha kembalikan, kini berbicara padanya.

Seperti yang sudah sudah, sang buku magis mengutarakan fakta, bahwa eksistensi Margo ada karena ia memiliki peran didalamnya.

Peran katamu? Yang ditanya hanya mengatupkan buku sihirnya. Menandakan perannya harus ia jalankan. “Kubekali dirimu dengan informasi, pengetahuan, dan peralatan yang akan membantumu dalam mewujudkan peran sejatimu, O Black Queen”

Satu letupan cahaya membumbung tinggi, dan sajian acara dimulai.

Suasana kelas mendadak senyap. Karena ternyata sudah selesai beberapa jam yang lalu dan sialnya, salah satu dari mereka ketiduran. Tentu saja itu Artos.

Artos hendak pergi keluar kelas sebelum melihat sosok Margo yang tengah berdiri diambang pintu. " Selamat sore, Artos-san." senyum itu seperti biasanya. Hanya saja, wajah putih pucatnya kini terkotori cairan pekat berwarna merah. " Kau lama sekali tidurnya, aku menunggumu lho~" Artos melirik waspada pada tangan kanan Margo yang memegang buku paket, yang kini berganti warna menjadi merah.

"Sekarang apa yang kau lakukan, hm?" ujar Artos lantang. Tangan kanannya mewujudkan cakar emas Beast Claw. " Aku heran kenapa kau tidak dipenjara oleh petinggi Brittania"

Margo tersenyum. " Kau tahu. Mereka gampang tertipu. Tidak seperti kau. Uang menyelesaikan semuanya kok. Dan. Yeah, ini untukmu" Margo melempar sesuatu kearah Artos.

Bola Kristal yang menampilkan seisi Kota Xerxes yang berlumuran darah.


Kau”



" Aku bermain-main dengan mereka karena kau terlalu lama tertidur," kata Margo. Tangan kanannya memutar buku itu dengan gerakan menakjubkan. Tapi bukan itu masalahnya sekarang.

" Kau sialan!" dengan segera Artos menghunus cakarnya dan segera menyerang. Margo. Yang diserbu hanya melompat mundur sambil menyeringai, memproyeksikan buku yang dipegangnya menjadi tameng lembaran buku"

Untuk seorang King of Knights, kau lumayan.". Ejek Margo menyeringai. Tersentak, cambukan cahaya melesat dari kedua sisi cakar Artos. “Tahu darimana kata kata itu? Jawab aku, Black Queen”

Hebat". Air muka Margo Nampak dipenuhi kebengisan. Sesaat Artos melihat mata Margo berkilat. "Aku tidak membunuhnya! Kamu sendiri yang melakukannya!" Artos tersentak sebelum melompat mundur, kepalanya mendadak sakit. Apa maksudnya? Apakah ini premonisi yang ia dapati saat terlelap? Kilatan memori seperti saat itu?

" Apa yang kau katakan, Margo?" Margo menjilat bibir bawahnya. " Well, bisa dibilang tidak ada sih, Artos." kekehan gila terdengar dari mulutnya. "Aku diceritakan bahwa aku adalah reinkarnasi dari entitas jahat." Artos membelalakkan matanya. " Apa maksud—“ Belum selesai ia berbicara, bola api kegelapan besar melesat kearahnya. Reflek cepatnya membantunya menghindar.



DHUAR!

" Che! Apa-apaan itu!" Artos melirik Margo tajam. Ruang kelas kini terbakar. Margo hanya terkekeh. Bukunya kini sudah diselimuti kegelapan sedangkan tangan kirinya teracung kepada Artos. Siap untuk menembakan api lagi. Tunggu!? Menembakan lagi!?

Dirinya berguling untuk menghindari bola kegelapannya lagi. Hanya saja sekarang lebih kecil.

DHUAR!

Memanfaatkan asap yang ditimbulkan, dengan cepat Artos berlari menyusuri lorong untuk menghindari serangan- serangannya. Dibelakangnya, Margo mengejar dengan terus menembakan serangannnya membabi buta. " Jangan lari dariku, King of Knight!" Artos melirik kebelakang. "Kau tahu dari siapa sebutan itu?" melihat Margo menyeringai, membuat kewaspadaannya semakin tinggi. Margo tidak menjawab dan terus menyerang.

Brak!



Atap hancur dan itu artinya jalan buntu. Che! Opsi untuk melompat dari gedung tinggi dengan selamat? Nihil.

" Jalan buntu, hm?" Artos menoleh kearah belakang dan mendapati Margo disana. Tidak ketinggalan seringaian psikopatnya. "Aku heran." Ia mencoba untuk tenang menghadapinya. Tangannya mencengkram cakar dengan erat. " Kenapa kau baru melakukannya sekarang? Kau bisa membunuhku seperti yang lainnya jika kau mau dari dulu."

Memang benar, Artos pantas heran padanya. Bukan 'kah dia pembunuh? Dia menyadari bahwa kelakuannya selama ini tidak dapat dimaafkan. Tapi dia hanya diam dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Dan, ia sempat bernafas lega karena itu.

" Entahlah aku juga tidak tahu." Margo menjawab sekenannya. " Mungkin karena dulu aku masih ingin hidup?" Artos hanya mengerutkan dahi.

DHUAR!

Keduanya merasakan gedung ini mulai bergoncang. Che! Matahari mulai terbenam dan yang mereka lakukan saat ini hanya saling bertatapan. Skenario ini membuat Artos mengingat sebuah kisah. Di kisah itu, tepat saat matahari terbenam, lelaki itu bertatapan dengan wanitanya sebelum berciuman dan bunuh diri bersama dengan melompat dari gedung. Mana mungkin aku melakukannya bersama Margo 'kan?

Tidak sudi!

" Kau melamun lagi, hm?" Yang disinggung tersentak sebelum kembali menatapnya waspada. Margo menghela nafas. Langit yang sudah gelap semakin gelap berkat kobaran kegelapan dari serangannya, namun anehnya, Artos bisa melihat mata sedih Margo yang menatap nanar kearah langit.

" Kau tahu?” Margo membuka pembicaraan. “Aku muak dengan kehidupan ini." Yang diajak bicara hanya diam mendengarkan ceritanya sambil memutar otak untuk kabur dari sini.

Sial! Gedung ini kembali bergetar. Cepat atau lambat pasti runtuh!

" Semuanya punya Keluarga, baik yang lengkap atau tidak. Harta yang tidak kekurangan. Populer dan lain sebagainya. Tapi semuanya berubah…."Ia sengaja memutus pembicaraannya. Artos mendengarnya terkekeh.

Hehe, GEHAHAHAHAHA”

Eh? Kenapa dia membuang bukunya? Melenyapkannya sih tepatnya. Serta merta, dia langsung merogoh dua sisi bajunya dan mengeluarkan dua buah plakat magis, seperti kubus. Dengan perlahan, dia berjalan mendekat.

" Aku muak dengan semua hal yang kujalani," terangnya dengan tenang. Jarak antara kami semakin dekat. “Dan sekarang, mendapat peran yang juga takdirku? Screw that. I will walk with my own.”

" Aku sudah bosan kau tahu?" Margo tersenyum dan menyerahkan salah satu plakat magis pada Artos. Tindakannya semakin membuatnya heran. Setelah menyerahkan plakat itu, Margo mengedarkan kepalanya dan berhenti saat melihat sebuah meja.

DHUAR!

Gedung bergetar lagi! Sialan! Cepatlah! Artos hanya terpaku melihat Margo tetap berjalan tenang sambil membawa meja tepat di hadapan mereka. "Aku pernah membaca buku tentang ini, aku jadi ingin mencobanya kau tahu." Margo tersenyum sebelum membongkar plakat magisnya dan menyuruh Artos melakukan hal yang sama. Dituruti tanpa banyak komentar, karena Artos benar-benar ingin keluar dari sini.

" Kau tidak marah karena aku membunuh temanmu?" Margo kembali berujar

Artos tidak menjawab.

Setelah keduanya selesai membongkar plakat magis dan meletakannya diatas meja, Margo berkata : " Nah, ini permainannya. Kau dan aku akan bertanding siapa yang lebih cepat merakit plakat ini. Yang lebih cepat mempunyai kesempatan untuk menghabisi lawannya. Bagaimana?"

Dia gila. Benar-benar gila.

" Siap?"

" Eh!? Tunggu!"

Margo menyeringai.

" Mulai!"

Dengan reflek Artos mengikutinya untuk merakit kembali plakat itu. Ia terus berkosentrasi merakit plakat yang dimaksud. Tinggal memasang kembali segelnya dan!!

Ceklek!

Artos berhasil lebih dulu mengacungkan plakat magisnya.

"khe, Gehahaha!" Artos mendengar Margo terkekeh. " Benar-benar seperti di buku. Dimana sang penjahat yang kalah."

Artos hanya diam.

" Tidak menyerang?"



DHUAR!

Gedung kembali bergetar.

" Kenapa kau lakukan semua ini? Kau bahkan dengan sengaja membuatku menang," Artos memberangus, sambil melirik plakat magisnya yang sudah siap ditembakkan.

" 'Kan sudah kukatakan." Margo berujar lirih." Aku sudah bosan."

Artos merasakan tangannya bergetar, saat Margo menuntun tangannya yang memegang plakat. Artos kembali melihat bibir Margo bergerak. Sebelum jemarinya mengguratkan sesuatu.

"Aku ingin bebas." Ucap Margo lirih.
“Tapi aku tak mau kau mati sia sia” Kali ini Artos mengutarakan kekhawatirannya.

Jangan gegabah jika ingin memenuhi takdirmu, Artos” Ucap Margo lagi. Mulutnya semakin komat kamit merapalkan sesuatu.

Stop it” Artos berusaha menepis jemari Margo, yang berusaha menekan plakat magis itu

“Say the Word, Artos” Perintah Margo.

No. I wont”

SAY IT ARTOS, O KING OF KNIGHT” Teriaknya melengking, seiring ledakan gedung semakin keras

NO, I DON’T WANT TO” Teriak Artos, yang kini menggelegar layaknya raungan hewan buas.

OHHHH STUPID MAN THING” Berangus Margo merebut paksa Plakat magis dari tangan Artos, meninju wajah Artos dengan plakat magis barusan, menarik lidahnya dan menancapkan Plakat tersebut pada lidahnya.

Wha..>” Tidak bisa merespon apa yang barusan terjadi, Artos hanya bisa terbelalak, saat tindakan Margo selanjutnya berada diluar kuasanya.

History Access: Arthurian Form!!” Rapal Margo, yang sejurus kemudian membuat sekujur tubuh Artos diselimuti cahaya terang benderang, melebur fisiknya menjadi sebilah pedang keemasan yang begitu indah, tergenggam di tangan Margo, seiring ledakan di gedung semakin keras, disusul pijakan mereka yang runtuh. Menjatuhkan kedua insan tersebut.

+++

Kau puas?” Ucap Margo pada sosok yang menariknya ke dunia ini.

Fufufu. Sebuah kesalahan memang menunjukmu sebagai reinkarnasi—“ Ucapannya dipotong oleh ayunan pedang dari Margo.

Save that for Later. Kalau aku memang reinkarnasi darinya, berarti si monster ini juga?”

Betul sekali”

Berarti takdirnya sama denganku”

Fufufu. Kenapa repot sekali mau membantunya melawan takdir yang ia emban?”

Bukannya aku mau membantunya, hanya saja….”

Ia melirik kembali sosok Artos, yang kini sudah dalam bentuk Excalibur, Holy Sword That Promising A Future.

Melihat kekuatannya, dan responnya saat menghadapi kekuatanku, aku sudah tahu, dia adalah reinkarnasinya”

Aku selalu muak atas kisah dimana seseorang harus hidup terikat dari takdirnya”.



-End-

Comments

Popular posts from this blog

Round 1 - Mein/Liebe - Walk In The Park

Perkenalan 08 - Locke(Imbrin) dan Marcia(Fionn) - Selamat Tinggal Sayang, Selamat Tinggal, Selamat Tinggal

il Gran Duetto - Ronde 1 - The Nine Tower Challange