Perkenalan 06 - Usri dan Yusra - Kemana Lagi Kita Harus Pergi?
Tangan kirinya selalu terasa kebas. Bukan karena gangguan fisik yang jelas, bukan kesemutan biasa, lebih seperti rasa tidak nyaman yang terus mengganggunya. Mulai dari ujung jari, menyelimuti seluruh pergelangan tangan sampai akhirnya menjalar ke dada atau kepala. Kalau tidak sesak, ya rasanya bikin kepala berdenyut tidak karuan.
“Errghhh...,” Usri kembali menenggak Rum yang belum habis. Bahkan alkohol-alkohol begini pun tidak bisa menghilangkan rasa tidak nyaman di tangannya.
Ingin rasanya dia membuka lilitan kain itu, kemudian menonjok satu-satu makhluk yang ribut di belakangnya. Yang mereka kicaukan hanya tentang reruntuhan Eifel yang tidak ada harganya. Buat Usri, apapun jenis teknologi lama yang ditemukan, tidak ada harganya. Dia lebih memilih judi poker, yang lebih jelas uang dan emas yang terpampang di depan matanya.
Makhluk dengan kepala burung biru berkata, “Teknologi ini milik perancis yang membawa kisah historis besar, harganya pasti mahal kalau dibawa ke kolektor besar ataupun para ilmuan tengik itu. TAPI! Yang berhak menjualnya hanya aku, yang punya DNA dari keturunan perancis ini. Kalian yang bukan keturunan sama denganku hanyalah makhluk-makhluk tidak beradab yang ujungnya akan merusak nilai jualnya. Paham?”
Makhluk lain yang mendengarnya tidak senang, satu persatu makian dilontarkan. Kondisi ruangan makin panas.
Usri melirik ke arah mereka tapi perhatiannya kembali ke kartu di tangannya. “Apaan sih ini, ga ada yang jelas banget keluarnya.” Dia mengangkat dua kartu dan membuangnya ke meja, “tukar!”
Bandar meloloskan permintaannya dan memberikannya dua kartu baru.
“ANJ—AGH,” umpat usri dalam hati.
Tidak seburuk yang tadi, tapi tetap buruk kalau dibandingkan kemungkinan kartu lawan-lawan di depannya.
Manusia setengah robot di kiri Usri menyeletuk, “udah? Hold? Call? Yang jelas ga bisa raise kan?” dia tertawa keras.
Kegeraman Usri beralih dari si kepala burung ke si muka robot di depannya.
Argumen-argumen omong kosong terlontarkan dari keduanya, kedua pemain lainnya hanya menyaksikannya dengan senyum menyeringai. Sepertinya mereka sudah merencanakan ini untuk menyudutkan Usri dan mengambil keuntungan darinya.
Usri selalu kalah dalam judi begini, dan itu membuatnya frustrasi. Kehilangan uang, kehilangan modal untuk makan dan membeli perlengkapan. Tapi hanya ini jalan cepat yang terpikir olehnya untuk memperoleh uang saat tidak ada yang menywa jasanya sebagai pemburu bayaran.
Di tengah cekcok keduanya, kelompok yang ribut di belakang tadi sudah mulai saling lempar tonjokan, mereka menyebarkan amarah ke satu ruangan dan akhirnya perseteruan merembet kemana-mana.
Usri pun tersenggol dan terdorong oleh mereka dan seakan tombol di kepalanya tertekan, SNAP! Usri berbalik dan langsung menghantam satu persatu orang yang berkelahi di belakangnya.
Badannya yang tinggi besar membuat orang-orang yang mulai terpicu karena amukannya, kesulitan melandaskan satu pukulan pun.Cukup dengan Hantaman tangan kanan, satu orang terpelanting, dan menghempaskan lima orang di belakangnya. Itu belum kekuatan penuh Usri.
Tiga orang yang bersekongkol untuk merampok usri dengan menipunya lewat Poker pun tidak mau melewatkan kesempatan ini. Mereka menyerang usri dari belakang.
Darah mengucur dari punggung Usri, salah satu pisau milik mereka menancap dalam menembus dagingnya. Walaupun sebelumnya berhasil menghalau serangan teman si muka robot, tapi dia tidak bisa mencegah semuanya.
“Heh, mati kau!” teriak si muka robot. Kembali meluncurkan serangan lanjutan dengan pisau tersembunyi lainnya.
Usri mencoba mencabut pisau yang menempel di belakangnya walau susah, “AAAAAAAAAA!!!!!!!” Pedih, tapi berhasil dicabut, dan dia langsung menggunakannya untuk melawan balik si muka robot.
Selagi mereka bertarung, ternyata ada satu figur yang bersembunyi dan menunggu kesempatan untuk menyerang Usri. Dia sudah mengikuti Usri dari beberapa hari lalu untuk merencanakan membunuhnya. Dan kini, kesempatan itu datang tanpa perlu merencanakan lebih jauh dan menunggu lama lagi.
Usri yang berhasil meremukkan si muka robot dan ketiga kawannya terkejut karena tiba-tiba area perutnya terasa panas dan sakit, dia memandang muak ke figur misterius ini. Usri pun melepas lilitan tangan kirinya dan tanpa babibu langsung menempelkannya di wajah si pembunuh misterius.
“MAMPUS KAU NGENTOOTTTT!!!!!!!” Kemarahannya tidak terbendung lagi. Seluruh makhluk di ruangan kecuali Usri dan si pembunuh misterius mulai bergelimpangan. Ada yang tiba-tiba tergelincir air dan kepalanya terbentur, ada yang tersedak makanan sampai susah bernapas, ada yang kejatuhan lampu. Seakan semua kesialan terjadi beruntun di satu ruangan besar itu.
Tidak ada satupun yang selamat dari efek tangan kiri milik Usri. Usri mengangkat si pembunuh misterius dengan tetap memegang mukanya dan membawanya keluar gedung. Dia meronta mencoba melepaskan dir dari Usri tapi tidak bisa. Anehnya Usri tidak meremukkan kepalanya walau dia bisa. Yang terlihat hanyalah Usri yang menyeringai kesakitan tapi juga tertawa penuh amarah.
Usri tiba-tiba melepaskannya. “Larilah, karena kalau kau masih di sini, kuremukkan kepalamu di sini sekarang juga. larilah, kemanapun kau sudah tidak terselamatkan lagi. Semua kesialan di dunia sudah ada di dalam dirimu! HAHAHAHAH!”
Si pembunuh misterius merasakan kegamangan yang luar biasa, keberaniannya hilang, entah apa yang dia lihat, tapi dia benar-benar ketakutan. Dia berlari dan berteriak tidak karuan. Dan setiap lokasi yang dia lalui, semuanya seakan berantakan seketika.
“LARILAH. LARILAH SEBELUM KAU BENAR-BENAR MATI OLEH APAPUN YANG KAU LIAT DI MATAMU DAN KAU RASAKAN DI HATIMU!!!” tawanya lepas, seakan Usri lega karena sudah bebas dan lepas dari hal yang menahannya sejak tadi.
***
Beberapa menit sebelumnya...
“Nah, ini untuk kalian makan siang ini, dan ini untuk malamnya. Ingat, kalian tidak boleh egois. Ini cukup untuk kalian semua, jangan rakus dan dimakan sendiri-sendiri ya!” Himbau Yusra ke anak-anak Panti.
Sudah hampir setahun Yusra dan saudaranya singgah di sini. Yusra banyak membantu orang-orang di sekitar tempat mereka tinggal, terutama ke para gelandangan dan anak-anak panti. Banyak orang-orang yang terkesima dengan kecantikannya, tapi lebih banyak lagi yang terenyuh hatinya karena kebaikan dan keramahan Yusra.
Yusra bukan hanya membantu dalam hal logistik, tapi juga dalam bentuk “ramal”. Dia punya sedikit kemampuan membacakan masa depan, tapi ini hanya digunakan untuk membantu orang lain, tidak pernah untuk keuntungan pribadi ataupun saat bertarung. Jikapun aktif saat bertarung, itu kemungkinan besar karena pertahanan dirinya yang mau tidak mau bergantung dengan instingnya untuk bertahan hidup.
Yusra yang cukup senang dengan situasinya saat ini, mulai berpikir untuk menetap, “kota ini lumayan nyaman, yah...walau di bagian situ...” dia melihat ke lokasi biasa tempat usri berada mencari pekerjaan.
“Yang penting aku tetap bisa membantu orang yang membutuhkan dan Usri juga bisa tetap beraktivitas banyak,” gumamnya dalam hati.
Dia mulai mengarah ke klinik tempat dia bisa membantu untuk melakukan pengobatan-pengobatan ringan. Karena ketelatenannya, dia juga memiliki pengathuan sekitar perawatan medis dan konseling umum. Dia dipercaya untuk menjadi tenaga bantuan di klinik itu.
“Yus, bantu di ruangan 2 ya, ada nenek Ima. Keluhannya seperti biasa,” dokter di sana memberi arahan ke Yusra dari ruangan utama.
“Oke dok!”, dia bergegas ke sana. “Nek Imaaaaaa, nenek sehaaat???”
Sambutannya yang riang dan penuh perhatian membuat si nenek yang awalnya merenung jadi tersenyum kecil.
“Sehat kok cu...ini nenek Cuma sesak sedikit saja.... “
“Sini, Yusra bantu biar badan nenek enakan.” Yusra mendekati nenek dan menyentuh punggung dan dada nenek bersamaan, “tarik napas selama mungkin, pelan-pelan ya nek...”
Nek Ima pun menarik napasnya dengan sangat pelan, perlahan dan bertahap.
“sekarang, Hembuskan perlahan, selama yang nenek bisa ya...”
Yusra menutup matanya, merasakan aliran energi yang terbawa napas nek ima. Dengan hati-hati dia meluruskan kembali aliran energi yang kacau agar nenek merasa lega.
“.......fuuuuh”, Nek Ima menarik dan menghembuskan napasnya berulang, “Sudah enakan cu...”
“Syukurlah, mau rebahan? Atau nenek mau duduk aja?”
“Duduk aja...,”
“Oke, aku ambilin air murni ya. Nenek tunggu di sini.”
Nek Ima melihat Yusra pergi keluar. Raut wajahnya kembali merengut dan seakan sedih saat melihat sosoknya dari belakang. Kelihatannya yang menjadi masalah bukan hanya sesak napasnya. Dia memiliki kekhawatiran sendiri.
Yusra yang kembali dengan membawa air, merasakan kegelisahan nenek.
“Nek, nenek kenapa? Ada yang bisa Yusra bantu?” kini giliran Yusra yang khawatir dengan sosok renta di hadapannya.
“.....”
“Gak apa-apa nek, bilang aja ke Yusra apa yang nenek pikirin, nanti Yusra bantu sebisa Yusra kok.” Dia jongkok di hadapan nenek dan menebarkan senyuman khas miliknya.
Dan seperti biasa, nenek pun terenyuh melihatnya.
“Tadi nenek mimpi... Ada sosok raksasa. Di dahinya ada simbol bulan sabit. Wajahnya tidak jelas dan semuanya kayak ditutup kegelapan pekat. Terus, semuanya hancur berantakan. Tetangga-tetangga berlarian, rumah0rumah hancur. Gelap. Gak ada yang selamat. Yusra juga gak ditemukan di manapun pas nenek mau selamatin Yusra. Usri juga ga keliatan. Terus pas raksasa itu deketin nenek, nenek kayak spontan manggil nama usri gitu...”
Yusra tertegun. Dia mengerti bahwa kemungkinan besar ini pertanda lagi. Selalu ada “pemberitahuan” seperti ini jika ada kejadian tak biasa yang akan hadir.
“Nek,” Yusra mengeluarkan kartu ramal andalanya. Lalu mengocoknya dengan cepat lalu menyodorkannya ke nenek. “Coba ambil satu ya.”
Nenek yang sudah biasa melihat kemampuan Ima tidak banyak bertanya dan langsung mengambil satu kartu.
“The Tower!” simak Yusra dalam hati. Dia menyembunyikan ekspresi tidak senangnya dari nenek.
“Gimana cu? Apa yang terjadi?”
Yusra tersenyum dan menenangkan nenek. “Ga ada apa-apa nek. Kemungkinan besar nenek Cuma kelelahan dan khawati sama Yusra yang lompat sana sini, hehe”
Yusra melirik ke arah tangan kanannya yang mulai semakin menghangat dan aliran energinya menumpuk. Tepat setelah itu, suara teriakan-teriakan datang dari luar, dari arah kawasan para pemburu bayaran berkumpul.
Yusra membuka sarung tangannya dan mememluk nenek.
“Nek, kayaknya di luar lagi ada masalah, Yusra mau bantu keluar dulu. Nenek...istirahat di sini aja ya. Jangan kemana-mana. Kalau ada perintah dari dokternya, ikuti aja ya...Kalau kita ketemu lagi, nanti Yusra bantu nenek lagi ya.”
Nenek Ima hanya bisa diam dan tersenyum, dia merasakan kehangatan dari Yusra.
Yusra merebahkan nenek dan menyalurkan sedikit energinya agar nenek semakin tenang. Setelahnya Yusra langsung mengarah ke pintu keluar.
“Yus,” panggil nenek dari tempat tidur, “.....hati-hati ya...”
Yusra tersenyum dan mengangguk. “Siap nek!”
***
Yusra berlari secepat yang dia bisa. Dia sudah melihat sosok Usri di ujung jalan.
“USRI! USRI!!” dia berusaha memanggil usri dengan keras.
Dia terus berlari untuk menghentikan Usri, lalu matanya terpaku pada orang yang dicengkram saudaranya itu.
“Jubah hitam..., simbol menara?!” Yusra semakin fokus menambah kecepatannya, “Benar ternyata, tapi kenapa bisa?”
Usri terlihat melepaskan si jubah hitam dan tertawa meringis. “LARILAH! LARI!”
Teriakan Usri pada si Jubah hitam juga menjadi pemicu untuk Yusra berlari lebih cepat untuk menenangkan Usri.
Tangan kanannya dia gapai sejauh yang dia bisa dan....
Akhirnya dia bisa meraih tangan kiri Usri!
“USRI! Tenanglah! Aku sudah di sini! Atur napasmu!”, Yusra yang sebenarnya penasaran dengan si jubah hitam yang sudah berlari jauh, tahu untuk mengabaikannya dan fokus pada Kembarannya.
Usri yang melihat Yusra langsung mereda amarahnya dan membungkukkan bahunya. “Yus...”
Yusra meraih leher Usri, mengeceknya sekaligus membantunya mengalirkan energinya kembali normal. “Sudah, dia sudah pergi...biarkan takdir yang menentukan nasibnya,”
Yusra meraih tangan kiri usri, menggenggam erat dan mengalirkan kehangatannya ke Usri.
Semuanya mereda seketika. Kemarahan usri, Rasa sakitnya, tekananannya, bahkan seluruh kejadian buruk di sekitar yang kacau pun mereda. Semuanya tenang dan melemas.
Yusra tahu, hanya ini kesempatan mereka untuk segera pergi dari sini.
“Us, ayo...” dia menggenggam Tangan kiri usri dengan tangan kanannya. Dia tahu dia harus begini untuk sementara waktu, agar semuanya kembali tenang.
Ini sudah kesekian kalinya di 50 tahun terakhir. Dan Pihak Menara pun semakin lama semakin dekat ke posisi mereka.
Usri akan mudah terdesak. Selain karena sifatnya yang mudah diprovokasi, pihak Menara dan organisasi lainnya benar-benar tidak paham apa efek dari misi mereka untuk menemui dua kembar ini. Yusra sudah merelakan harapannya untuk tinggal di kota ini.
Yang bisa dia lakukan terakhir kalinya hanyalah berdoa dan melemparkan harapan ke semesta agar orang-orang yang disayanginya di kota ini tetap hidup sehat dan bahagia tanpa gangguan dari siapapun.
***
“Yus, kemana lagi kita harus pergi?” Usri yang terlihat jinak di sebelah Yusra, gelisah. Dia khawatir dengan yusra yang belum makan selama tiga hari perlarian mereka ini. di antara puing-puing bekas perang akhir zaman ini, mereka hanya bisa terus berjalan, menyusuri dinding-dinding beton yang dingin dan gelap.
Yusra tersenyum, yakin sang Semesta akan memberikan jalan terbaiknya untuk mereka berdua kali ini. sama seperti sebelumnya.
Tiga hari ini dia semakin fokus pada Ritualnya, dan menyerahkan hati dan langkahnya sepenuhnya ke semesta, “Kita jalan dulu ya, pasti kita ketemu tempat yang pas untuk istirahat dan bersembunyi. Sabar ya, saudaraku sayang.”
Usri, si lelaki sangar itu mengangguk, percaya dengan yang diucapkan Yusra. “Tapi, kemana?” ucap mereka berdua dalam hati.
“Gimana kalo ke sini aja?” ada suara anak kecil bergema. Bukan satu, tapi dua!
“Siapa itu?” Yusra bersiaga, dia kaget dan mencoba memfokuskan pendengarannya, “Apa kalian dari menara?!”
“Duh, bukan...,” satu suara menyahut.
“Ke sini aja dulu deh.” Sebuah pintu di salah satu reruntuhan terbuka, yang terlihat hanya cahaya terang.
Usri yang biasanya tidak peduli dengan apapun, melangkah duluan dibanding Yusra yang Waspada.
“Us!”, Yusra memanggil usri, tapi tidak mencegahnya. Entah kenapa dia merasakan ini adalah arahan semesta berikutnya.
Dia diam. Lalu mulai mengikuti Usri yang berjalan memasuki Pintu itu.
Cahaya terang yang menyelimuti mereka, perlahan memudar, dan pandangan mereka kembali normal. Ruangan yang besar dan dipenuhi buku betumpuk-tumpuk.
“Halo, Aku Clive!”, sahut salah satu gadis kecil.
“Aku Carol,” senyum gadi yang lainnya.
“Selamat Datang!” ujar keduanya.
Usri dan Yusra hanya bengong melihat mereka. Apalagi yang disuguhkan semesta pada mereka?
Dua menara - Dua saudara yah.
ReplyDeleteSaya bisa melihat beberapa bagian self insert dari Bang Dhiko terhadap Usri ini, kwkwkwkwk
Self insertnya di 2-2 nya ini ekwkek
DeleteThanks for commenting ❤️