Perkenalan 03 - Nicol Rocca dan Christina El Laguz - Tanpa Judul

Nicol mendapati dirinya kembali berada di ruangan luas, yang nyaris kosong. Tak ada apapun selain peti mati yang rusak, dan sesosok anak berambut merah yang duduk di hadapan peti tersebut. Pecahan kayu, rantai, dan cabikan kain menghiasi podium di mana peti itu diletakkan. 


Anak itu bergeming, duduk memeluk satu lututnya dengan ekspresi datar, menatap nanar. Kehadiran Nicol sepertinya baru disadarinya setelah jarak di antara mereka hanya dipisahkan oleh tangga podium tempatnya berada. Tatapannya beralih pada Nicol.  Anak ini bukan makhluk yang memahami emosi, tapi, tampaknya dia sedang tenang - setidaknya itulah yang dirasakan Nicol. 


Nicol menarik nafas panjang, lalu duduk di satu anak tangga di bawah anak itu. 


Ada banyak sekali yang harus dikerjakan, tapi, salah satu yang menduduki peringkat atas daftar “harus dilakukan”nya adalah, memahami makhluk ini. Nicol belum paham bagaimana bisa memasuki tempat ini - terlepas ini adalah bagian dari alam bawah sadarnya - tapi karena sudah ada di sini, kesempatan tak boleh disia-siakan. 


Sigurdr”


Anak itu menelengkan kepala mendengar nama yang terucap dari mulut Nicol.


Itu namamu. Kalau menurut Snow… Artinya pedang kemenangan.” Nicol menoleh, tersenyum kecil. “Nama yang bagus.”


Sigurdr, anak berambut merah itu menatap Nicol agak lama, kemudian membuka, lalu menutup mulutnya selama beberapa kali. Seolah ingin mengucapkan sesuatu, tapi belum mampu untuk itu. Tidak ada perubahan ekspresi, tapi, Nicol merasa dia mulai sedikit terlihat ‘hidup’.  Sigurdr mau merespon, berarti ada kemajuan. Mungkin. 


Merasa senang atas perkembangan ini, Nicol hendak melanjutkan obrolannya ketika bahunya mendadak ditepuk keras. 


<Gantian, bocah. Keluar sana, temani Chris.>


Hah!?” 


Hii!?” 


Nicol tersentak bangun, kaget setengah mati. Tapi jeritan tertahan yang didengarnya langsung menghalau semua hal lain dari benaknya. 


Tuan Putri!? Ada apa…” Nicol mengerjapkan mata, dan menyadari kalau dirinya sudah kembali ke dunia nyata, dan ada Chris…. Tunggu. Kenapa Chris terduduk di lantai? Kenapa dia duduk di sofa mewah…Rasa nyeri langsung menyerang saat Nicol berusaha mencerna apa yang terjadi. 


Nicol…?” Chris yang menyadari perubahan ekspresi Nicol segera beranjak dan mengelus punggungnya. “Jangan memaksakan diri, sana, berbaring lagi!” 


Tidak apa… Cuma, agak bingung…” walau berkata begitu, Nicol menurut dan kembali merebahkan tubuh, sembari berusaha mengenali di mana mereka berada saat ini. 


Ini lantai dua kedai minum Vate’s Garden,” seolah paham yang dipikirkan Nicol, Chris menjelaskan. 


Vate…?” samar-samar ingatan Nicol mulai kembali. Hal pertama yang diingatnya adalah, dia agak pusing dikarenakan ramainya kota yang mereka kunjungi ini, jadi mereka memutuskan beristirahat sebentar di kedai minum, lalu...


Kamu ingat? Kita tiba di Lowfall, mau beristirahat sebentar sebelum melanjutkan ke Zaltes, terus...”


Ya… Aku ingat…” Nicol menutupi wajahnya dengan sebelah tangan.  “Aku tumbang… iya kan?” tanyanya pahit. Malu dengan ketidak kompetenan dirinya. Chris mengangguk, lalu mengelus kepala Nicol dengan lembut.


Jangan memikirkan yang tidak penting.”


Chris sudah terbiasa menyerah tentang dirinya; kasih sayang orang tua, rasa hormat dari orang lain, perhatian teman dekat - semua bagaikan kisah fiksi dalam buku baginya. Ada, tapi tidak untuk dirinya.  Tetapi, karena tak pernah berharap, maka ketika semua benar-benar lenyap darinya - seperti sekarang -  tak ada rasa sakit yang terlalu berarti. 


Tapi, tidak demikian dengan Nicol. 


Selama beberapa hari ini, mereka fokus pada melarikan diri sejauh mungkin dari Vanures. Selain serangan di perbatasan, memang tak ada masalah berarti, tapi itu tidak menjamin mereka sudah seratus persen aman. Otomatis, Chris tidak sempat menanyakan pada Nicol, apa yang terjadi selama beberapa hari perpisahan mereka. Chris hanya bisa berharap Nicol tidak mengorbankan masa depannya sendiri. 


Setidaknya saat ini, kalau berdua denganku, cukup pikirkan aku saja.”


Nicol mengerjapkan mata mendengar kata-kata Chris yang… terdengar seperti dialog karakter kisah-kisah romantis itu. Chris, di sisi lain, tampaknya juga menyadarinya, karena wajahnya langsung merona merah. 


Anu..maksudku…”


Nicol terkekeh pelan melihat Chris salah tingkah. Setengah sadar, dia menggenggam, lalu mencium punggung tangan Chris. 


Siap laksanakan, Tuan Putri.”


Chris terdiam, lupa untuk mengoreksi panggilan ‘Tuan Putri’ Nicol, kemudian berdehem. 


Snow bilang, dia akan mengurung diri sebentar bersama...Sigurdr? Pokoknya, anak merah yang di dalam Nicol itu. “


Ha? Snow? Membiarkan kita berduaan??” Nicol spontan menegakkan tubuh kembali. “Kau yakin kepalanya tidak terbentur atau semacamnya!?” Snow yang seperti induk ayam melindungi piyik itu, mengizinkan Nicol berduaan dengan Chris… Belasan prasangka (mulai dari yang masuk akal bahwa ini cuma perangkap, sampai sangat bodoh seperti Snow baru memakan Cendawan Ajaib) terlintas di benaknya. 


Hush, jangan begitu, dong.” Chris tertawa melihat wajah penuh kecurigaan Nicol. “Tapi, dia memang terlihat agak gelisah tadi…” Chris teringat ekspresi Snow yang tampak… tidak nyaman waktu pemilik kedai ini berbicara dengan mereka. Kalau saja Nicol tidak tumbang, mungkin Snow sudah menyuruh mereka bergegas mencari penginapan, jauh-jauh dari perempuan berambut magenta tersebut. 


Snow gelisah?” Nicol mengulang. Itu bukan sesuatu yang bagus. Lalu dia teringat mimpinya tadi - suara yang terdengar saat dia hendak melanjutkan obrolan dengan Sigurdr. 


Itukah sebabnya dia meninggalkan kami berduaan? Karena Sigurdr? 


Nicol menyentuh dadanya, mencoba merasakan keberadaan Sigurdr di dalam jiwanya. Sayangnya, tak ada respon berarti. Nicol hanya tahu, dia ada di dalam sana. Kalau mencari kata paling tepat untuk menggambarkannya… Sigurdr selalu terasa seperti orang yang mengantuk. Ini membuat Nicol jadi kepikiran tentang Snow untuk alasan lain. 


Apa mereka nggak akan duel di dalam sana? 


Sesaat, Nicol jadi mencemaskan keselamatan alam bawah sadarnya. Yang satu agak kurang paham kalau dirinya menumpang, yang satunya tiada ampun kalau berurusan dengan Nicol. Ya. Ini jelas bau masalah baru. 


Masih terbayang jelas dalam benak Nicol, apa yang dilakukan Sigurdr - dirinya - ketika menghadapi Legion prajurit yang menghadang mereka tempo hari. Jumlah lawan memang banyak, tapi Nicol beruntung karena mereka bukan pemilik Legion yang terlalu kuat.  Situasi tampak cukup menguntungkan baginya.  Tapi, siapa menduga kalau ada Sagitta lawan yang bersembunyi di kejauhan, dan berhasil menghujamkan panah ke dadanya. 


Setelahnya… 


Dunia dipenuhi warna merah. Nicol seperti menyaksikan semua yang terjadi melalui mata orang lain. Dia melihat dirinya, dengan rantai melilit leher dan kedua belah tangannya, mengalahkan semua Legion yang ada. 


Bukan… Itu lebih cocok disebut pembantaian


Sekalipun Legion bukan makhluk hidup, melihat mereka ditebas, ditusuk, dipukuli dengan tangan kosong hingga hancur berkeping-keping bukanlah pemandangan yang menyenangkan sama sekali. Satu-satunya yang Nicol syukuri hanyalah, membuat Legion babak-belur tidak menyebabkan pengendalinya tewas.


Yah, oke, mereka memang tidak akan bisa bangun dari tempat tidur selama beberapa waktu, tapi setidaknya masih hidup, kan? 


Nicol?”


Ah, maaf…”


Chris duduk di sebelah, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Nicol. “Pemilik tempat ini bilang, kita boleh menginap. Persyaratannya cuma, jangan menggoda para gadis karyawan yang tinggal di sini…” katanya. 


Persyaratan macam apa itu…” 


Para gadis itu semuanya menarik, lho?” Chris tersenyum jahil. 


Aku sudah jadi milikmu.” balas Nicol tegas. “Sekalipun bukan begitu, aku tak berminat pada orang selain Chris.” 


Chris sesaat meragukan telinganya sendiri mendengar pengakuan Nicol yang sangat blak-blakan itu. Dia mengangkat kepalanya, menatap Nicol yang malah langsung memalingkan wajah. Tapi, tak ada kesan Nicol bercanda. Sebaliknya malah, wajah Knight-nya merah padam, sampai ke telinga. 


Nicol…” Chris menyentuh tangan Nicol. “Bisa...ulangi lagi?” 


Nicol membisu. Keheningan janggal menyelimuti keduanya selama beberapa puluh detik. Chris baru hendak mengulang permintaannya ketika Nicol berbalik badan dan menciumnya.


Ah.”


Oh?” 


Sontak, ciuman Nicol dan Chris terputus. Nicol langsung berdiri dan menempatkan dirinya di antara Chris dan pemilik dua suara tak diundang itu. 


Ada dua orang gadis, yang jelas-jelas bukan pegawai kedai ini. Nicol malah punya firasat kuat bahwa keduanya bukan manusia biasa. Masalah baru - Nicol mulai merasa kesal pada Dewa dunia ini, siapapun dia.


Maaf menyela waktu berharga kalian,” 


Tapi, jika berkenan, kami bisa memberi kalian tempat pelarian yang bagus.”


Salah satu tamu tak diundang - seorang gadis berambut karamel - menyodorkan sepucuk amplop pada Nicol.




Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Round 1 - Mein/Liebe - Walk In The Park

Perkenalan 08 - Locke(Imbrin) dan Marcia(Fionn) - Selamat Tinggal Sayang, Selamat Tinggal, Selamat Tinggal

il Gran Duetto - Ronde 1 - The Nine Tower Challange