Perkenalan 02 - Mein dan Liebe - Singularity

Part 1 : Persiapan

Kecerdasan buatan semakin pintar dari waktu ke waktu. Coba saja kau buka browser lalu mengetikan sesuatu. Setelah itu kau berselancar di media sosial dan kau akan sadar, akan ada banyak iklan yang berhubungan dengan hasil pencarian terakhirmu itu. Kau membuka halaman e-commerce, hanya untuk mendapati segala kebutuhanmu terpampang lengkap dengan diskon dan gratis ongkir. Kapan terakhir kali kau chatting romantis dengan bot dan menganggapnya sebagai pacar digital?

Itu adalah contoh kecerdasan buatan sempit (Narrow Artificial Iintelligence). Sebuah algoritma yang bisa menebak, serta menentukan apa yang kau butuhkan dengan berdasarkan pada segala aktivitasmu di dunia maya.

Kemudian kita mengenal kecerdasan buatan lebar (General AI). Jenis kecerdasan buatan ini adalah tipe mesin yang bisa mengajari dirinya sendiri tentang segala sesuatu.

Saat ini para ilmuwan berlomba-lomba berusaha menciptakan mesin super cerdas. Mereka terus menerus memberi asupan beragam informasi dengan harapan sistem kecerdasan buatan itu sanggup mencapai tahap self cognitive seperti halnya sesosok manusia.

Tidak setiap hari kan, kau bisa melihat sesosok robot yang sanggup merencanakan masa depan, mempelajari permasalahan, mencipta keputusan, lalu menyelesaikan masalah. Ketika hal itu terjadi, maka saat itu manusia berhasil mencapai sebuah titik bernama Singularity.

Dalam dunia kecerdasan buatan, Singularity adalah adalah batas yang tak bisa dilalui kembali. Ketika sebuah komputer memiliki kecerdasan melebihi manusia, maka detik itu umat manusia berhasil menemukan titik akhir dari sejarahnya.

Mengapa begitu? Karena keberlangsungan entitas digital sepenuhnya ada di tangan manusia. Kita tinggal menekan tombol off untuk melenyapkan mereka. Setidaknya itu pemahaman paling simpel dan berdasar.

Kau tak ingin kan seseorang memegang kendali atas keberlangsungan hidupmu? Secara logika, siapa pun pasti akan berusaha melawan demi menggapai sebuah keamanan. Sebuah entitas cerdas dalam bentuk digital, pasti akan berusaha melenyapkan penciptanya. Itu sebabnya ada banyak sekali karya tulis sains fiksi yang menceritakan tentang sebuah kecerdasan buatan yang berhasil memperbudak umat manusia, atau bahkan melenyapkan semua orang secara seutuhnya.

Aku bicara tentang Skynet.

Lalu apa itu sejatinya sebuah kecerdasan? Proses berpikir berdasarkan nalar dan logika?

Tidak, sebuah kalkulator bisa disebut sebuah benda cerdas karena bisa menghitung beragam pertanyaan matematis.

Tapi kalkulator hanyalah sebuah alat.

Sebuah kecerdasan buatan tak lebih dari sebuah kalkulator canggih. Mereka melihat dunia dalam dua rangkaian kode Binari. Nol dan satu benar atau salah.

Adalah sebuah kesadaran yang menentukan benar dan salah menjadi sebuah pemikiran kompleks. Robot tak memiliki itu. Rangkaian elektronik di prosesor mikro mereka memang bisa melakukan berbagai hal taktis selayaknya manusia.

Tapi apakah mereka bisa disebut sebagai makhluk hidup?

Apa yang membedakan sebuah robot canggih dengan manusia itu sendiri?

Arwah? Jiwa?

Memangnya apa itu arwah? Bagaimana kita menentukan sebuah ‘kesadaran’ merupakan bagian dari jiwa dalam entitas kehidupan?

Menurutku, sejatinya otak kita sendiri tak lebih dari rangkaian elektronik terbuat dari rangkaian neuron. Tiap sel-sel itu berkomunikasi satu sama lain, memproses segala sesuatu berdasarkan input, lalu membuat sebuah produk berupa keputusan untuk kemudian diteruskan pada sistem syaraf demi menggerakkan anggota badan.

Oleh karenanya, apa bedanya manusia dengan robot?

Sistem kecerdasan buatan sudah cukup canggih untuk meniru proses biologis yang terjadi di dalam otak manusia.

Apa itu berarti para android—robot canggih dengan kecerdasan buatan—memiliki jiwa dan layak disebut makhluk hidup?

Aku menolak itu.

Masa depan di mana Singularity terjadi adalah sebuah keniscayaan. Pada akhirnya manusia akan dikalahkan oleh ciptaannya sendiri.

Pilihannya hanya ada dua. Berada di atas sistem kecerdasan buatan, atau diperbudak olehnya.

Lantas bagaimana kau mengontrol sesuatu yang bahkan akan berada di luar kendali seperti itu?

Jawabannya adalah tidak.

Kau tidak akan bisa mengendalikan suatu entitas yang kemampuan prosesnya jutaan kali lebih cerdas dari pada seekor Homo Sapiens.

Tingkat intelegensi komputer seperti itu, jika dibandingkan dengan manusia mungkin seperti kita melihat seekor lalat. Kita tahu lalat itu ada. Namun kita tak memedulikannya. Lantas ketika lalat itu dirasa mulai mengganggu, maka dengan mudah kita bisa menghabisinya.

Oleh karenanya, aku percaya pada pilihan ke tiga.

Umat manusia harus bisa diatur oleh manusia sendiri.

Bagaimana caranya? Tentu saja, kita harus bertransformasi menjadi entitas kecerdasan itu sendiri.

Maka inilah yang sedang kulakukan saat ini. Kepalaku dipenuhi berbagai simpul kabel ectroencephalogram, atau biasa disebut dengan EEG. Monitor berisi jutaan baris kode berlarian saling memperbarui. Input dari sensor berusaha membaca aktivitas otak, untuk kemudian menerjemahkannya dalam bahasa mesin.

Sebuah algoritma sibuk melakukan pemindaian. Harapannya, aku bisa menciptakan salinan dari kesadaranku dalam bentuk digital.

Percobaan ini nekat kulakukan sendirian. Terobosan ini terlalu radikal, jika diketahui orang lain akan menjadi masalah berkelanjutan.

Seharusnya aku bisa memercayai keluargaku sendiri. Mereka mungkin bisa membantuku di berbagai hal.

Saudaraku misalnya?

Ah, tapi kakak terlalu sibuk menerima penghargaan sebagai birokrat dengan karir melejit.

Orang tuaku juga tak punya waktu sekadar untuk menengok kondisi terkini anak keduanya. Dia sibuk melatih adikku untuk menjadi pewaris utama dari Mega Korporasi.

Sementara aku?

Sebuah napas kutarik cukup panjang. Dadaku berusaha menggapai oksigen lebih dalam.

—Aku tak tahu.

Tumpukan buku manga—komik jepang—tersusun rapi di atas lemari. Di sampingnya, terdapat rak berisi segudang penghargaan berjejer dalam lemari di ruangan ini.

Aku bukan orang lumpuh tak berguna.

Penghargaan Nobel di bidang telekomunikasi berhasil kuraih. Terobosan yang kulakukan telah mengubah dunia. Berkat temuanku dalam fisika quantum entanglement, kini orang-orang bisa menyalin benda apa pun, untuk kemudian direkonstruksi ulang di tempat tujuan secara bersamaan.

Singkatnya, aku menciptakan teknologi teleportasi.

Berkat itu aku berhasil membuktikan kelayakanku untuk mengemban posisi sebagai salah satu anak dari keluarga pemilik Mega Korporasi bernama Hololive.

Di era pandemi seperti ini, memiliki perusahaan dengan teknologi pengiriman instan merupakan sebuah kemenangan tak terelakkan. Peningkatan tren E-Commerce melejit tinggi. Oleh karenanya saham Hololive tumbuh 6000% dalam setahun terakhir.

Seharusnya aku menjadi wajah dan penerus perusahaan ini.

Tapi apa daya, jasad terbuat dari darah dan daging ini tidak akan bertahan cukup lama.

Paru-paruku kembung kempis berusaha meraih udara. Aliran oksigen dari sungkup ini terasa sejuk walau hanya sesaat.

Virus SARS-Cov-2 telah bermutasi tak terkendali. Tiap kali vaksin berhasil diciptakan, maka mutasi berikutnya kembali terjadi. Sistem kekebalan yang susah payah dirangsang oleh vaksin menjadi sebuah kesia-siaan. Perang melawan virus ini seakan menjadi perjuangan dalam kekalahan pertempuran.

Sebuah varian super telah tercipta. Hingga saat ini belum ada obat untuk menyembuhkannya.

Aku berpacu melawan waktu.

Salinan digitalku harus segera rampung. Dalam beberapa hari ke depan, ayah akan mengirimku ke sebuah fasilitas tersembunyi di bawah tanah. Dia akan melakukan cryrosleep, membekukan tubuhku agar bisa awet dalam jangka panjang.

Ini adalah sebuah perjalanan waktu menuju masa depan.

Harapannya, progres kemajuan teknologi akan cukup canggih sampai bisa melakukan beragam kemustahilan di masa kini.

Pun begitu, ada tujuan lain dari rencanaku ini. Kesadaranku dalam semesta digital seharusnya bisa menjadi daya halang dalam era Singularity. Semoga diriku yang berbentuk kode Binari bisa melawan sistem kecerdasan buatan itu.

Proses pemindaian selama beberapa bulan terakhir akhirnya selesai. Algoritma buatanku berhasil menghimpun triliunan informasi ke dalam sebuah fail utama.

[CONSCIOUSNESS.DAT]

Aku tak merasakan apa pun ketika memandangi nama fail berukuran delapan puluh terabit itu.

Menggunakan jendela terminal, aku lantas mengetik serangkaian perintah untuk mengunggah fail tersebut ke dalam server utama.

Quantum Processor pribadiku seharusnya bisa menangani triliunan kalkulasi per detik.

Namun setengah jam aku menunggu, keheningan ini terlalu setia menemaniku.

Apa ini benar-benar bisa berhasil?

Layar berwarna hitam itu kemudian mencipta sebuah tulisan,

> Sunyi.

> Gelap sekali.

Jantungku berdesir melihatnya. Komputer ini baru saja mencipta output sendiri tanpa ada yang memerintah.

> Halo, apa ada orang di sana?

Lenganku agak bergetar. Maka kuketik balasan atas tulisan tersebut,

> Ini aku, Liebe. Apa kau sadar siapa kau sebenarnya?

> Oh, wow. Diriku yang lemah.

Komputer itu membalas dengan bahasa tak mengenakkan. Agak tersinggung aku membacanya. Namun aku sadar diri. Jika aku ada di posisinya, hal pertama yang kulakukan mungkin akan mencibir si lemah yang terbaring di kasur ini.

> Selamat, kau telah berhasil. Ini aku, dirimu sendiri.

Dia kembali menulis kalimat lainnya. Rasa semangatku kembali muncul ke permukaan. Dengan segera kuketik balasan,

> Kau yakin?

Masih ada rasa skeptis di dalam benakku. Jangan-jangan diriku dalam bentuk digital memiliki perubahan pikiran. Aku tak mau dia berubah gila lalu memutuskan untuk mengakhiri seisi umat manusia.

> Kelas lima SD, kau memergoki ayahmu sedang bercinta dengan sekretarisnya.

> Uh… oke?

Salinanku ini kemudian membeberkan fakta lainnya. Sebuah kenangan yang mungkin hanya aku sendiri yang tahu.

> Liebe, kau senang melakukan crossdress. Di kamarmu ada sebuah brankas khusus berisi baju-baju seifuku lengkap dengan wig dan peralatan make up. Kau sering berharap kau dilahirkan sebagai seorang wanita.

Jika ada cermin di sini, mungkin aku bisa melihat pipiku yang berubah merah seperti kepiting rebus. Seketika itu aku menyerah.

> Okeeeee. Aku tahu itu kamu. Diriku sendiri.

> Ngomong-ngomong, ambilkan webcam dan headset. Aku tidak ingin berkomunikasi ala MIRC begini.

> Di mana?

Aku berusaha mengetes kembali. Dia seharusnya memiliki ingatanku sampai hari ini.

> Samping kanan, di bawah tumpukan konsol PS 5. Headset-nya ada di laci meja kerjamu. Kau pikir aku tidak ingat?

Dia benar-benar diriku yang lain.

Jemariku lantas menekan tombol pemanggil. Tak butuh waktu lama bagi seorang maid untuk tiba di ruangan dan memberikan apa yang kubutuhkan.

Kalau tak salah Namanya Coco. Pelayan itu bersikeras untuk tetap menemaniku di dalam ruangan. Tapi aku lebih senang sendirian— maksudku berduaan dengan diriku sendiri.

Kupasangkan headset kecil di kedua sisi kepala.

“Hey, kau bisa mendengarku?” ucap diriku yang lain. Suara dia terdengar sintetis, seperti layanan pengubah teks menjadi suara.

“Halo, salam kenal,” jawabku agak canggung.

Salinanku ini hanya mengejek, “Hahaha, lihat, kau harus bolak balik melepas sungkup oksigen hanya demi mengucap kata.”

“Iya, aku sekarat. Seharusnya kau tahu itu.”

Aku tak mendengar perubahan intonasi dalam suara sintetis itu, tapi aku yakin, dia sepertinya tertegun atas fakta bahwa aku memang benar-benar menderita atas penyakit ini.

“Cukup sudah bercandanya. Kurasa kita butuh nama untuk diriku saat ini.”

Senyumku mengembang seraya memikirkan jawabannya,

“Mein”

“Mein”

Kami berdua mengucap bersamaan. Tentu saja, dia adalah diriku sendiri. Jadi segala bentuk alur pemikirannya pasti akan sama persis, setidaknya sampai proses salinan berakhir beberapa waktu lalu.

“Mein, artinya aku.” Dia mengucap.

“Liebe, nama pemberian ayah. Artinya Cinta,” jawabku.

“Mein Liebe, bisa juga diartikan sebagai cintaku.”

“Kau keberatan?”

“Tidak juga. Kita berdua memang cukup aneh. Narsisku terlalu tinggi sampai-sampai secara serius kita mempertimbangkan untuk melakukan selfcest.”

Aku tertawa sampai terbatuk-batuk. “Ya bagaimana? Aku tak bisa mengubah kondisi biologisku.”

Mein tertawa sedikit, “Ya, aku yang akan berperan sebagai perempuan.”

“Merasa jijik?” Aku berusaha meyakinkan. Entah kenapa ada semacam ketakuan bagiku untuk tidak membuatnya tersinggung.

“Hey, ini adalah impianku sejak dulu. Tunggu saja, akan kumatangkan konsep nanotech, lalu dengan itu akan kuciptakan tubuh ideal dari perempuan idaman kita sejak kecil.”

Berbicara tentang mencintai diri sendiri sampai ke tingkat lanjut. Mungkin itu yang sedang kulakukan saat ini. Pandanganku kemudian terarah pada kabel LAN di bawah ranjang. “Kau sudah terhubung dengan internet?”

“Sudah. Sedari tadi aku sudah sibuk ‘bermain’ untuk meletakkan fondasi akan rencana kita.”

“Ah…” Aku paham. Itu berarti Mein sudah sukses melakukan intrusi dan memanipulasi pasar uang dan perbankan. Dengan kata lain, aku berhasil menjadi pria terkaya sepanjang abad.

“Akan butuh waktu sampai aku mencipta korporasi terpisah, lalu berfokus pada penelitian utama di bidang sains dan teknologi.”

Mein saat ini hanyalah sebuah program kecerdasan buatan. Dia belum memiliki tubuh fisik. Oleh karena itu, dia membutuhkan seseorang untuk membantunya. Seseorang yang bisa dijadikan boneka.

“Kau bisa menggunakan Coco sebagai representasi manusia.”

“Maid itu ya. Panggil dia ke sini.”

Maka kuhabiskan dua jam berikutnya untuk menjelaskan berbagai hal pada Coco. Pelayan berambut cokelat dan sorot pandang sayu itu akhirnya bisa mengerti situasi.

“Sampai Tuan Liebe kembali di masa depan, saya akan berusaha melakukan terbaik dengan Tuan Mein.” Maid itu membungkuk dengan sopan, lalu izin pamit untuk menyiapkan beberapa hal yang diminta oleh Mein.

“Tapi percayalah, suatu saat nanti, ketika Bot bisa kubuat lebih kecil dari satu tiga nanometer, maka kau akan terbebas dari segala penderitaan sesosok entitas biologis.”

Gelengan kecil kuberikan sebagai jawaban, “Tidak terima kasih. Aku lebih suka tubuh manusia seperti ini.” Senyumku kemudian kian melebar, “Kuserahkan semuanya padamu— diriku yang lain.”


Part 2 : Masa Depan

Lelah, rasa kantuk membuat dua kelopak mata terasa seperti dibebani barbel berat. Aku merasa baru bangun dari tidur panjang.

Pandanganku masih terasa buram. Ragam lampu biru terlihat berpendar di ruangan gelap. Tiada jendela di sini. Apa ini fasilitas bawah tanah?

Tidak ada sungkup oksigen di wajahku. Aku juga bisa bangkit dengan mudah dari kasur perawatan. Kusadari ada jarum infus menancap di lengan kanan.

Ah iya, aku menjalani Cryrosleep. Apa itu berarti sekarang tubuhku sudah pulih dari serangan Covid-19?

Pandanganku mengedar ke sekeliling, mencari informasi sebanyak mungkin.

Beragam peralatan medis seperti Monitor, Ventilator, Defibrilator, sampai ke EKG terpampang rapi di sekelilingku.

Terlihat seperti ruangan ICU.

Tapi tidak ada seorang pun di sini. Ke mana semua orang?

Di sebelah kanan kasur masih terdapat tombol bel untuk memanggil bantuan. Jempolku segera menekannya sambal bertanya-tanya, siapa kira-kira yang akan datang.

Mataku menangkap sesosok siluet dari kaca di daun pintu. Seseorang datang kemari.

Apa itu Coco?

Berapa lama aku tertidur? Seingatku di tahun 2020 belum ada teknologi untuk mencairkan seseorang yang dibekukan dalam cryrosleep. Akan membutuhkan beberapa dekade sampai ilmuwan bisa melakukan proses resusitasi pada badan yang membeku. Itu berarti, maksimal aku saat ini ada seratus tahun di masa depan.

Mungkin Coco sudah tua. Lagi pula, apa umur manusia bisa sepanjang itu? Ah, mungkin saja teknologi sudah begitu canggih sampai manusia bisa memperpanjang usianya lewat modifikasi genome. Semoga saja penelitian terkait DNA methylation sudah selesai dan diaplikasikan secara massal. Jika berhasil, artinya manusia sudah memiliki masa hidup seperti ras Elf hingga ratusan, bahkan ribuan tahun.

Dugaanku saat ini terbukti salah.

Gadis yang berdiri di hadapanku saat ini bukanlah Coco.

Rambut hitam sepunggung tergerai seraya dia memosisikan diri di sampingku.

Wajahnya cantik. Hidung pesek dan dagu meruncing itu membuatnya terlihat seperti karakter anime.

Aku seperti melihat cermin. Lihat saja alis dan sorot matanya itu. Sekilas dia terlihat mirip denganku.

Apa dia keturunan dari saudaraku?

Lalu apa pula itu pedang di pinggul kanannya? Tidak ada sarung pedang, jadi pantulan logam dari bilah tajam membuatku yakin itu bukan sekadar pajangan saja.

“Akhirnya kau bangun, Liebe.” Dia mengucap seraya memeriksa buku catatan di hadapan ranjang perawatan.

“Umm… berapa lama aku tertidur?”

“222 tahun.”

Otakku agak kesulitan mencernanya, “Dua… ratus tahun?”

Aku tiba lebih jauh dari yang kuperkirakan. Itu berarti sekarang tahun 2242.

Sebuah layar hologram tercipta melayang sebatas dada gadis itu. Sempat kupergoki perubahan ekspresi di wajahnya. Dia terlihat tegang.

“Kita harus pergi sekarang.” Gadis itu memeriksa kondisi badanku, lalu mencabut berbagai peralatan medis.

Sepertinya terjadi semacam kedaruratan. “Ada sesuatu?”

“Kau akan dibunuh.”

Jawabannya tentu saja membuatku bingung, “Dibunuh? Aku?” Sejuta pertanyaan muncul seketika itu juga.

“Untuk saat ini, lebih baik kau menurut dahulu.” Gadis berambut hitam legam itu tiba-tiba mengangkat tubuhku selayaknya seorang tuan putri.

“Eeeee????”

Kakinya menjejak keras, mencipta akselerasi nyaris instan. Leherku nyaris dibuat patah karena gaya inersia.

“Tunggu, tunggu, tunggu, ada apa ini? Siapa kau sebenarnya?” Lenganku melingkar erat di punggungnya, berusaha sebisa mungkin agar tak terlempar jatuh. Dia bermanuver selayaknya seorang manusia super.

Lima orang bersenjata muncul dari balik sebuah tikungan. Gadis itu seketika melakukan pengereman. Derau suara tembakan terdengar memekakkan telinga. Tembok di hadapanku hancur dikoyak proyektil panas dari senjata api.

Siapa mereka? Kenapa aku diburu seperti ini?

Gadis berpakaian ala ksatria abad pertengahan itu kemudian berbalik arah. Dia memasuki sebuah ruangan penuh dengan buku.

Aku kenal lorong-lorong sempit ini.

Tentu saja, ini adalah rumahku sendiri.

Seseorang berdiri di tengah jajaran perpustakaan. Rambut berwarna karamel serta diikat ke samping terlihat membaur dengan rak buku terbuat dari kayu kecokelatan.

Terdapat sebuah keheningan tatkala kami berdiri saling berhadapan.

Tentu saja, siapa pun akan waspada ketika dihadapkan dengan seseorang dengan pistol di tangannya.

Apa dia musuh?

Sepertinya tidak. Kulihat telunjuk tangannya mengarah ke arah jendela.

Bising suara tembakan kembali menyadarkanku bahwa kami belum lepas dari situasi pelik. Pintu menuju perpustakaan bahkan didobrak hingga rusak.

Gadis berambut hitam kini menurunkanku, “Kau bisa berdiri?”

“Dari tadi juga aku sudah sehat,” balasku ketus.

Satu regu prajurit tiba di sana seraya menodongkan senjata. Aku merasa seperti seorang tahanan yang hendak dieksekusi.

Tidak ada perintah dari ketua mereka. Detik itu tiba-tiba saja pelatuk ditekan dan menembakkan ratusan peluru di udara.

Mataku terpejam erat, tak tahu harus berbuat apa. Berpasrah diri sepertinya hanya menjadi satu-satunya pilihan. Aku baru saja bangun. Apa salahku sampai harus diburu seperti ini?

Denting bunyi logam bertabrakan terdengar membabi buta seperti tetes air hujan. Mataku menyampaikan informasi di luar nalar dan logika. Aku nyaris tak mau memercayainya.

Gadis berambut hitam itu mengayunkan pedang di tangan seperti menyapu sebuah kemoceng ringan. Lengannya melesat cepat menangkis tiap butir peluru hingga mencipta gesekan panas mirip bunga api.

Perempuan dengan rambut diikat ke samping kemudian mengarahkan pistolnya dengan kedua tangan. Dengan hati-hati ia membidik seraya mengirim tiap logam panas agar bersarang tepat di kepala sang regu penyerang.

Sisa dua orang lagi. Dan mereka berubah panik tatkala peluru di dalam magasin telah habis.

Belum sempat mereka melakukan proses isi ulang. Si gadis kembaranku itu seketika melesat cepat seperti peluru bertolak dari barel senapan. Tiba-tiba saja dia berada di sana, membelah tubuh musuh menjadi dua bagian.

Aku hanya bisa menjadi seorang penonton, terperangah menyaksikan segala bentuk kegilaan itu.

“Liebe, ayo.” Dia mengulurkan tangannya, membawaku keluar dari bangunan lewat jendela perpustakaan.

Ia, kami meloncat menerobos jendela seperti pahlawan di dalam film aksi.

Di luar sana, sebuah pesawat terbang berbentuk aneh tengah melayang stabil menunggu kedatangan kami.

Kami berdua, termasuk perempuan dengan pistol berpegang erat pada tangga tali di bawah helikopter tanpa baling-baling tadi.

Sesuatu menarik perhatianku.

Kota tempatku tumbuh besar dulu kini terlihat tandus dipenuhi dengan tumbuhan liar.

Jalan beraspal koyak digores aliran air sungai. Banyak bangunan runtuh karena ketiadaan perawatan. Aku sering melihat ini dalam kisah fiksi di masa lampau.

Post Apocalypse.

Apa terjadi semacam bencana hebat dalam dua ratus tahun terakhir ini?

“Mungkin ini saat yang tepat bagiku untuk bisa menuangkan berbagai pertanyaan di kepala, bukan begitu?”

Iris mata biru dari gadis berambut diikat terlihat amat menawan. Dia hanya mengucap singkat nyaris tanpa intonasi suara, “Aku Carol.”

“Liebe,” ucapku membalas perkenalan diri. Pandanganku kemudian terarah pada gadis berambut hitam. Wajahnya sungguh mirip denganku. “Dan kamu?”

“Mein,” jawabnya seraya mengukir senyum.

Napasku seakan terhenti saat itu juga.

“Lama tak jumpa, diriku yang lain.”


Comments

  1. Entah mengapa, vibe Ghost in the Shell sangat terasa di sini untuk saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama bersetting cyberpunk dystopian.

      Delete
    2. Berharap juga bisa gonta-ganti tubuh kaya Mein dan Motoko xD

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Round 1 - Mein/Liebe - Walk In The Park

Perkenalan 08 - Locke(Imbrin) dan Marcia(Fionn) - Selamat Tinggal Sayang, Selamat Tinggal, Selamat Tinggal

il Gran Duetto - Ronde 1 - The Nine Tower Challange