Perkenalan 01 - Aran Nanjan dan Zea Bakena - Imago of Magnific Mahaka
Gadis dalam pakaian kulit ketat serba hitam melintasi pasir padat yang sesekali luruh, pasir yang mampu tenggelamkan sepatu botnya jika berhenti. Lebih jauh berlari, dia melompat ke tebing batu yang memangkas jalan penuh limbah plastik dan besi di sepanjang labuhan gelombang laut.
Salah! Jalan yang dipilihnya buntu, berakhir pada gelombang meninggi yang menghantam batuan tebing dengan keras. Rambut cokelat yang diikatnya tinggi berhenti mengayun bersama perhentian langkah mendadak.
Dadanya bergemuruh ketika berbalik menghadapi para replika manusia berpakaian serba kelabu. Gerombolan yang tidak mungkin dihitungnya dalam sekejap. Kedua tangan gadis itu mengepal ke hadapan wajah, menunggu salah satu dari para replika menyerangnya lebih dulu.
Pukulan yang hampir mendarat di pipi kirinya dengan mudah ditepis. Serangan lain hampir mengenai tungkai yang menahan berat tubuhnya. Sekali menutup mata dan membuka kepalan, panas memenuhi telapak tangannya, membentuk bola api yang terus dilemparkan. Dia bergidik tiap kali melirik ketinggian tebing yang memperlihatkan sapuan gelombang. Terlampau dekat. Keseimbangannya menghilang seketika karena salah pijak.
“Zea!”
Teriakan yang terdengar kemudian menyadarkan gadis itu. Namanya disebut bersama ricuhnya suara pertarungan, saling menjatuhkan dan sabetan senjata tajam di udara. Beberapa dari replika manusia telah jatuh lebih dulu di belakang Zea yang masih menggantung, memegangi sudut batuan tebing.
Tidak akan bertahan lama. Jemarinya menahan nyeri akibat goresan tajam batuan. Zea lepaskan satu per satu jari yang menahan bobot tubuhnya.
“Zea!” Sekali lagi, teriakan terdengar dari permukaan tebing. Suara robotik dari replika manusia yang dikendalikan seseorang di kejauhan menggema di antara bebatuan seiring cengkeraman pada pergelangan tangan Zea menahannya di udara. Gelang dari manik kayu milik Zea terlepas jatuh, memperlihatkan garis-garis sulur hitam yang menghiasi kulit. “Bertahanlah ....”
Zea mendongak, mendapati bayangan rupanya dalam lapisan cermin yang mengelilingi kepala si replika manusia. “Lepas, Aran!” perintah Zea, terdengar perih.
“Mengapa aku harus melepaskanmu?” Makhluk robotik serupa manusia sungguhan itu bertanya. Sosok asli yang mengendalikannya berada dalam kotak hitam, dikelilingi selubung kabel-kabel tua yang rumit. Helm yang melapisi kepalanya mengantarkan sensor otak pengendali tubuh besi di kejauhan berdasarkan misi acak permainan.
Aran, nama sesuai panggilannya, mengencangkan pegangan pada temali yang terhubung dengan sistem ruangan. Dia berusaha mengangkat Zea melalui perpanjangan tangannya meski teriakan dari luar kotak terus mengusiknya.
“Aran! Mereka semakin dekat!”
Aran sudah memperhitungkan kemungkinan dilacak karena menembus keamanan sistem permainan dan berpindah cepat dari satu misi ke misi lain hanya untuk menemukan Zea. Dia sangat khawatir setelah kehilangan komunikasi dengan para pejuang yang bersikeras menemukan batas Magnific Mahaka, negeri yang mereka pijak dan terpisah dari dunia sebenarnya.
“Aku tidak bisa!” geleng Aran. Pegangannya pada Zea melemah. Kesadaran yang tersambung dengan robot di sana semakin samar.
“Lepas, Aran!” Tangan Zea yang bebas melepaskan satu per satu jari Aran darinya.
Tepat di waktu yang sama, pandangan di depan mata Aran berubah gelap, lalu berganti tulisan, “Game Over”.
“Zea!” Aran berteriak. Amarah dan kecewa berpadu dalam desir aliran darahnya. Helm yang dilepaskan pun diempaskan pada layar di hadapan. Pecah. Bunga api memercik antara kabel-kabel terbuka karena tinjuan Aran.
Bukan ketukan yang terdengar dari pintu, tetapi dobrakan berulang hingga akses masuk kotak hitam terbuka dan menampilkan banyak manusia berpakaian serba putih. Percik darah tampak kentara di seragam mereka yang dikenal sebagai petugas keamanan Riverex, wilayah petarung yang bermain dalam dunia virtual. Kenyataannya, petarung di Riverex terhubung dengan robot-robot pembantai di perbatasan.
“Di mana imago yang lain?” tanya pria yang lebih dulu menghampiri sambil menarik kerah kaus hitam yang melapisi tubuh Aran. Tubuh yang lebih tinggi mampu mengintimidasi pergerakan, dia mendorong Aran pada para petugas. “Bawa dia!”
“Aku tidak akan pergi!” Aran melancarkan tinjunya ke sekeliling, menepis siapa pun yang berusaha menangkapnya tanpa membunuh. Pintu sempit yang dipenuhi manusia memaksanya melewati dinding yang terbakar meski kakinya sempat tersandung.
Tarikan pria berjas putih tadi pada belakang kaus Aran, memaksanya menoleh. Kata pria itu, “Kalian bisa jadi masa depan untuk dunia kita.”
Masa depan seperti apa yang ditawarkan untuk para pembunuh?
Aran menolak. Tekadnya jauh lebih kuat untuk membebaskan dunia mereka dari belenggu kematian. “Tidak semudah itu.” Memaksa diri terus menjauhi pengejar justru merobek belakang kaus Aran.
Garis-garis kelam di punggung Aran membentuk simbol yang terkenal dalam peradaban lampau, burung enggang. Garis yang dimilikinya semenjak bertarung secara nyata, bukan di dunia virtual, menggunakan kekuatan asing yang sulit dinalar.
Dari ruangan tua, pintu lain yang dilaluinya menghubungkan ruangan serba putih dipenuhi kapsul-kapsul raksasa tempat para pertarung bermain tanpa mendengar keributan. Sisi berseberangan diisi para peneliti yang terkejut dengan penampilan Aran--sepatu kets bertali yang sudah tidak lagi digunakan manusia masa kini, celana panjang penuh saku, dan punggung telanjang penuh tato. Tentu sangat langka, kecuali pernah bertualang dalam dunia bawah tanah Semlow.
Pintu lain yang urung dimasuki Aran terbuka, menampakkan sosok gadis berpakaian ketat serba hitam dan rambut dikucir tinggi. Aran takjub, hampir memeluk gadis itu jika tidak terhalang peluru yang melesat di antara mereka.
“Kau selamat, Zea?” Bagi Aran, kemunculan Zea berada di luar nalar. Jarak perbatasan dengan Riverex terlampau jauh. “Bagaimana kau--“
“Kita sepertinya bertemu teman baru.” Zea mengedikkan dagu ke samping, pada dua gadis yang sepertinya asing berada di dunia mereka. Setelah menarik lengan Aran melewati petugas keamanan di sekitar ilmuwan, Zea berhasil menjatuhkan beberapa orang dan mengambil persenjataan yang terjangkau.
“Tangkap para imago!” perintah dari pria penangkap Aran sebelumnya yang ternyata telah tiba di ujung koridor tempat mereka bertemu. Para petugas berseragam putih di sekitar semakin bergerombol mengejar.
“Tunda dulu perkenalannya,” gerutu si rambut karamel sambil menunjuk replika manusia berpelindung kepala serupa cermin yang mengikuti dari pintu lain.
Zea berbalik arah, menjadi penengah antara dua gadis itu dan pasukan tanpa kehidupan yang siap menyerang dengan berbagai senjata api. “Aran, kokang!” Dilemparkannya senapan runduk ke belakang tubuh dan langsung Aran tangkap.
“Makhluk apa mereka?” tanya gadis satunya yang sedikit lebih pendek dari si rambut karamel ketika melihat potongan besi yang saling terpisah dari tubuh-tubuh lawan tembakan pistol di tangan Zea.
Aran berjongkok, memastikan ruang peluru dalam patahan senapan dari Zea terisi penuh sambil menjawab, “Atzeng, robot-robot replika manusia.”
“Wow!” Si rambut karamel berseru kemudian ikut bertanya, “Apa kata mereka tadi tentang jenis kalian? Imago?”
“Imago, kloning dari manusia yang telah mati. Kami membawa kemampuan perang para panglima di masa lalu ketika dunia terancam.” Aran menarik kokangan senapan tanpa berdiri. Pergerakan siap menembak memberi isyarat pada kedua gadis di dekatnya untuk memberi jalan.
Setiap kokangan berlaku untuk sepuluh kali tembakan cepat, dan setiap tembakan yang mengarah pada kaki-kaki atzeng akan melukai para petarung yang mengendalikan tanpa tahu jika permainan itu nyata. Aran ikut memberontak setelah menyaksikan sendiri kematian salah satu petarung dan bagaimana dirinya dibuang antara mayat-mayat busuk karena melihat kecacatan permainan.
“Sial!” Hanya itu umpatan yang Aran tahu. Dia sangat kesal mendapati senapannya berhenti menembak karena kehabisan peluru dan membuang asal benda dari tangannya.
“Ada apa?” tanya si pendek.
“Pindah ke belakangku!” Aran maju selangkah dan menarik keduanya ke belakang tubuh berotot itu. Dia akan mengambil cara yang belum bisa dikendalikannya. Kedua telapak tangannya membuka ke atas, tepat di depan wajahnya, menampilkan pisau besar serupa golok secara samar.
Begitu petugas keamanan yang menyerang ke hadapan, tangan Aran seolah menggenggam udara. Benda samar itu menghilang dari pandangan mata, tetapi tebasannya ternyata menembus setiap leher di hadapan dalam sekejap. Tatapan Aran menajam pada sisa lawan yang ragu bergerak, cenderung melangkah mundur.
Tersisa Zea yang sempat melompat karena serangan acak Aran. Kaki kanannya terkilir saat mendarat. Dia tertatih berjalan menghampiri rekannya itu dan merosot di pelukan Aran. Zea sangat lelah.
“Apa itu tadi? Semacam sihir?” Si rambut karamel bertanya lagi ketika mengekori jejak Aran yang memapah Zea melintasi koridor.
“Sihir?” Aran mengernyit, lemparkan tatapan bertanya ke arah Zea.
“Maaf, Aran masih perlu banyak belajar tentang dunia, dia tidak tahu mengenai sihir.” Zea menjawab dengan suara lemahnya. “Kesadaran mutlak kami dimulai pada usia tujuh belas tahun. Aran baru ....”
“Tiga purnama lepas dari Riverex,” sambut Aran.
Kedua gadis asing itu saling berpandangan. Mereka berusaha menyusul langkah Aran yang semakin cepat.
“Kalian tidak tahu Riverex?” Aran meneleng, menatap dua gadis itu bergantian. “Apa kalian manusia sungguhan?”
Bagi Aran, dunia di luar Riverex saja sudah terlalu rumit untuk dipahami. Pembagian manusia berdasarkan kemampuan--Aigen pemegang kecerdasan, Faite yang paham taktik dan pertahanan diri, Ralis yang bergerak dalam bidang medis, dan Setra sebagai penghibur--ternyata menjadikan manusia lain termasuk kloning yang gagal sebagai petarung siap mati.
Zea merogoh saku celana Aran, mengeluarkan layar kotak sebesar kuku ibu jari dan mengarahkan pada dua gadis itu. “Mereka sungguhan, Aran. Tidak ada tanda robotik atau pelacak kloning. Kupikir, mereka juga bukan para ilmuwan gila.”
“Apa maksud kalian mengikuti kami?” tanya Zea berikutnya. Perjalanan terhenti karena curiga yang merambat dalam benak Zea mengundang rasa penasaran Aran.
“Mau katakan sesuatu, Clive?” Si rambut karamel menagih jawaban dari temannya.
“Carol ....” Gadis yang lebih pendek dan disebut Clive itu akhirnya mengulurkan sebuah amplop ke hadapan Zea setelah mendapat pelototan si rambut karamel. “Undangan yang mungkin bisa membantu masalah kalian. Sebuah turnamen.”
“Apa yang akan kami dapatkan?” Zea melepaskan pegangan Aran. Amplop yang telah berpindah ke tangannya menunjukkan surat bertakhtakan nama Zea Bakena dan Aran Nanjan. “Tunggu! Kami tidak punya nama belakang, dari mana ini ....”
“Mau cari tahu?” tantang Clive yang bersandar pada salah satu pintu di dekat mereka. Pinta yang dibukanya menunjukkan tempat asing, sangat berbeda dari dunia yang ditempati Aran dan Zea. “Tidak hanya kalian. Masih ada beberapa pasangan dari berbagai semesta yang harus kami jemput. Kalian bisa saling berbagi cerita.”
Jejak-jejak yang berdatangan mengalihkan atensi mereka. Bukan lagi atzeng atau petugas keamanan, tetapi petarung nyata yang bersiap dengan berbagai senjata menuju ke arah mereka.
“Apa kami sekarang punya pilihan?” Aran mendorong ketiga gadis di dekatnya itu masuk dalam pintu yang dibuka Clive.
Terima kasih.
ReplyDeleteSaya agak kebingungan dengan sistem kloning dan konsep "Gelud di dunia virtual tapi ada orang mati beneran"-nya.
ReplyDeleteJadi ketika Aran dan Zea kalah / mati di sebuah pertarungan virtual, sesungguhnya ada manusia real yang benar-benar mati di dunia nyata? Begitu?
Benar, Kak. Kalangan petarung virtual ini mengendalikan robot di dunia nyata dari jarak jauh, tetapi sistem tertentu memberi efek samping bagi saraf petarung ketika robot yang dikendalikan hancur.
DeleteSedangkan Zea dalam perkenalan di atas bukan robot replika, melainkan kloning manusia.
oooh..
Deletelalu feel di bagian, "Kalian adalah masa depan umat manusia."
Ini ngingetin saya sama Maze Runner :D
Woh, iya. Game virtualnya dari Ready Player One.
DeleteMenarik!
ReplyDeleteUntuk kepribadian, aye tertarik dengan zea yang baru brojol dan belajar hal-hal aneh di dunia perlahan-lahan.
Untuk konsep petarung virtual ini, perbandingannya kayak film Avatar (yang manusia biru) ya?
Mungkin karena ini bab perkenalan, rasanya penuh kalimat deskriptif dimana-mana yak.
Semoga nantinya bisa lebih banyak narasi dan penjelasan aksinya yang to the point biat makin mantep.
Jangan lupa mampir di tempat Usri dan Yusra yaaa.
Aku mampir di cerita round 1
Delete