Il Gran Duetto - Prolog
Perpustakaan Takdir bukanlah dunia, namun sebuah Perpustakaan yang terletak diantara dunia. Tempat ini terhubung ke siapapun yang haus akan pengetahuan dimanapun mereka berada.
Di pepustakaan ini, segala macam buku di dunia manapun tersimpan. Semua buku yang belum dan telah terbit. Yang masih ditulis dan yang sudah dihancurkan. Baik buku untuk anak-anak sampai buku yang bisa memakan anak-anak.
Di tempat ini segala macam pengetahuan berkumpul. Di tempat ini pulalah dua orang gadis kecil sedang bertengkar di tengah-tengah perpustakaan.
"Ha? Naif sekali anak kecil sepertimu? kamu pikir dua orang bisa bekerja sama dalam situasi hidup dan mati? mana bisa? Orang akan mengorbankan siapapun demi keselamatan dirinya."
"Lho? Kamu meremehkan kekuatan hubungan? taruh orang di situasi mendesak dan pasti mereka akan bekerja sama. Bahkan meski mereka orang asing sekalipun."
"Kalau dalam situasi mendesak, pasti mereka akan berusaha saling membunuh untuk bertahan hidup. Jangan terlalu naif."
"Carol! Clive! jangan berisik di perpustakaan!" sebuah suara menggelegar.
Keduanya terkejut dan melompat dari kursi mereka. Namun melihat ke kiri dan kanan, tak ada sumber suara.
"Siapa itu?" yang paling muda bertanya.
"Uh...Itu Perpustakaan takdir," jawab yang lebih tua, "Kalau ada yang melanggar peraturan, seisi bangunan akan memarahimu."
Nama dua gadis ini adalah Carol Lidell dan Clive Hangeru. Carol Lidell adalah pustakawan di Perpustakaan Takdir. Gadis berambut karamel itu tak sengaja bertemu dengan Clive Hangeru, seorang penjelajah semesta.
Sejak mereka bertemu, Clive selalu berkunjung dan mengobrol. Menjalin hubungan baik dan sering berdiskusi mengenai buku yang mereka baca.
Keduanya sering memiliki argumen berbeda, namun itulah yang membuat persahabatan mereka terjalin.
"Oke, aku tahu cara untuk menyelesaikan argumen kita," Clive akhirnya bangkit dari kursinya, "Mau ikut aku?"
Sebuah pintu tiba-tiba saja muncul di belakang Clive dan Clive membukanya, mengajak Carol untuk masuk.
Carol mengikuti gadis yang lebih pendek darinya dan ia kemudian masuk ke sebuah ruangan futuristik. banyak sekali meja dan kursi di ruangan itu, ditata layaknya cafe.
Di satu sisi ruangan, ada jendela besar menunjukkan kerlap kerlip bintang dan planet.
"Tunggu...itu kan..."
"Selamat datang di IRSS Chekov," Clive berkata dengan bangga, "Beberapa tahun yang lalu, penciptaku mengikuti sebuah turnamen. Mereka mengambil berbagai macam karakter dari berbagai semesta dan mengadunya."
"Ah...aku mengikuti salah satu turnamen itu," Carol berkata dengan nada sinis, "Dalam turnamen itu banyak pengkhianatan dan banyak sekali hubungan hancur. Yang tadinya teman jadi lawan dan bahkan ada yang mengorbankan temannya untuk selamat."
"Oh, justru karena pengalamanku dengan turnamen itu menunjukkan bahwa hubungan tak semudah itu dihancurkan," Clive tersenyum penuh percaya diri, "Satu tim berusaha bersama, menjalin hubungan untuk mengalahkan tim lawan. Bahkan ada sekelompok orang yang hubungannya amat erat, mereka membuat faksi sendiri. Keindahan kerjasama itulah yang aku percayai."
Dengan ayunan tangan, Enam belas surat tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Mari kita bangkitkan kembali turnamen itu," Clive melanjutkan, "Kita undang delapan pasang petarung dan taruh mereka dalam situasi mendesak, dua lawan dua. Kita uji hubungan mereka, apakah mereka akan bekerja sama atau malah bertikai?"
Carol tersenyum. Dengan gerakan tangan, ia menarik delapan amplop dari Clive.
"Setuju," Carol menjawab, "Apakah hubungan akan hancur?"
"Ataukah hubungan makin kuat?" Clive menyahut.
"Mari kita buktikan," keduanya berjabat tangan.
Dan begitulah Battle of Realms : Il Gran Duetto dimulai.
Comments
Post a Comment