Round 1 - Aran/zea - Pengorbanan Para Petarung
“Si pendek itu meminta kita melewati semua ini?” Aran menyeringai sesaat, lalu mengacak rambutnya dengan penuh kesal dan penyesalan sambil berjongkok. Dia merasa bodoh karena mengambil tawaran Clive dan Carol demi sebuah permohonan yang mustahil.
“Kau lihat sendiri bagaimana aku—sebagian makhluk yang mereka bawa
ke tempat seperti ini mati.” Zea menyisirkan jemarinya pada helai rambut yang
dikucir setelah melihat pintu berat di belakang mereka menutup. Matanya beralih
pada tujuan di depan, tiga menara batu menjulang hingga puncaknya tertutup
gumpalan awan. Jendela-jendela setiap lantainya sesekali menampakkan kelebat
bayang. Dia menunjuk lurus setelah memaksa Aran berdiri. “Lihat! Apa yang bisa
kita lakukan? Punya ide?”
“Zea ..., mereka terlalu tinggi. Kita bisa memutar lewat sana.” Kedikan
dagu Aran ketika berkacak pinggang mengarah pada jeda luas di sebelah kanan
jalan.
“Batu itu tidak lebih dari dua kali lipat tinggi badanku, Aran.
Jarak antara menara dengan lebar batu memberi celah yang muat untuk kita.”
Aran hampir berjongkok lagi jika Zea tidak menendangnya maju. “Kau
menjadikanku tumbal?”
“Cobalah!” Zea menendang lagi belakang Aran, dua kali hingga Aran berjalan
ragu ke arah dua menara di sisi kiri.
Cemas dengan kemungkinan di hadapan, kelebat bayang di balik
jendela pada menara pertengahan berganti seiring tembakan horizontal sekaligus
hingga Aran harus berguling ke sisi kiri.
“Aw!” Aran menyadari dingin menyerempet pinggang kanannya dan
langsung terbaring. Dia mendapati garis perih kemerahan membekas di sana.
Zea berlari menyusul, lebih mudah menghindari es serupa panah yang
sebelumnya menyerang Aran. Beruntun. Tidak hanya dari deretan jendela baris
pertama, tetapi juga baris kedua turut tembakkan es ketika lompatan Zea
menyamai tinggi jendela.
“Apa itu tadi?” tanya Aran setelah Zea bertelungkup di sampingnya.
“Panah? Es?” Isyarat dari Zea mengarahkan mereka untuk merangkak,
lebih dekat dengan menara mencapai ujung jalan yang tidak tertutupi menara atau
batu. “Mungkin kita bisa mencoba idemu tadi. Di ujung sana ada jeda. Kita tidak
bisa merangkak di bawah sela batu, tetapi menyusup antara batu dan dinding
menara sama dengan bunuh diri.”
“Waktu yang kita miliki 120 menit.” Aran menahan nyeri di samping
perut kanannya. Tidak seberapa dibanding luka-luka saat pertarungan nyata.
Namun, dia spontan berdiri karena api yang mendadak menyelimuti menara. “Wow!”
“Aran, menghindar!” Zea menarik lengan Aran, membawanya ke sudut
Arena yang dibatasi dinding-dinding batu putih. Napas yang terengah berusaha
dinormalkannya dengan mengembuskan dari mulut berkali-kali. “Kau tahu cara
menghitung menit?” tanya Zea kemudian.
“Tidak.” Aran membungkuk, memegangi lututnya yang mengencang.
“Terlalu banyak waktu yang kita habiskan di sini. Seharian pun tidak akan cukup dengan sembilan
menara yang bisa membunuh kita sejak awal.” Zea berkacak pinggang, menatap
keseluruhan tampilan arena tantangan dari tempatnya berdiri. “Api, es, yang di
ujung tadi ... belum tahu. Lima langkah lebar antara menara, sepuluh dari
tempat mulai.”
“Kalau jalannya berbelok seperti ini dengan arena kotak,
kemungkinan menara yang bisa kita hadapi hanya ini.” Zea menunjuk batu di baris
menara berikutnya. “Kita hanya akan menghadapi satu kali serangan.”
“Mulai saja, Zea!” Aran maju lebih dulu. Tanpa perhitungan seperti
biasa, lemparan bola api yang mengenai tembok di sampingnya, membuat Aran
berjongkok lebih rendah. Dia memegangi kepala dan terpejam. Bola api berikutnya
yang jatuh membakar sekeliling pusat bola, hampir mengenai kaki Aran.
Bola api yang lebih kecil terlempar dari belakang Aran dan menabrak
sosok yang muncul di hadapan ketika Aran membuka mata. Perempuan tinggi dengan
rambut pendek cokelat kekuningan itu terus mundur sambil menangkis bola-bola
api yang datang dari telapak tangan Zea.
Zea meninggalkan sudut arena dan berjalan pelan menghampiri Aran
dengan sesekali menunduk. Dia menghindari tembakan api yang berasal dari
menara. “Dasar ceroboh! Pakai perhitungan!”
“Kita kehabisan waktu, Zea!” Aran mengekor di belakang Zea hingga
lepas dari tembakan menara.
“Api tadi memiliki titik buta. Mungkin pelontar. Setiap tembakan
jatuhnya membentuk jarak yang sama dengan ketinggian jendela.” Zea sempat
menunduk, menutup mata, membayangkan perhitungannya untuk tembakan es yang
kembali menyapa dan hampir mengenai musuh mereka. “Tembakan horizontal
membentuk setengah lingkaran. Titik pusatnya mengenai manusia terdekat. Aran!
Kau masih menyimpan berapa senjata?”
Di belakang Zea, suara kokangan menegaskan pergerakan Aran setelah
mengeluarkan senjata api dari salah satu saku celananya. “Sepuluh peluru.”
Zea menadahkan tangan kirinya ke belakang, sementara musuh
melompati batu di seberang mereka untuk menghindari tembakan panah es, semakin
dekat. Aran segera meletakkan pistol siap tembak di telapak tangan Zea.
Dor!
Satu tembakan yang terlontar mengenai permukaan bola tepat di bawah
sepatu gadis tinggi itu. Tembakan berikutnya ternyata mampu ditangkis pedang bermata
ganda dalam genggaman si gadis berwajah asing.
“Aku tidak ingin mati di sini. Kita masih harus menyelamatkan para
kloning.” Zea turut melompat dalam tembakan panah-panah es yang keluar dari
tiga lantai menara sekaligus. Peluru dari pistolnya terus berusaha menggapai
lawan yang semakin dekat, menaiki batu yang tingginya hampir dua kali tinggi
Zea melalui pantulan tembok arena.
Zea berkali-kali harus menghindari tebasan benda panjang mengilat
itu dari lehernya di antara tembakan panah es yang mengharuskan mereka melompat
sekaligus menjaga keseimbangan di ketinggian terbatas.
Kaki Zea sesekali menendang pijakan lawan, berusaha menjatuhkan
meski gadis tinggi itu selalu mampu bangkit kembali meski harus bertopang
sebelah tangan ketika menendang balik.
Saat mulut pistol tepat melekat pada pelipis lawan, ternyata pemicunya
tidak melontarkan peluru. Zea melotot lebar. Pergelangan tangannya ditangkap.
“Kau akan mati di sini.” Seringai mencuat dari bibir si gadis
berkulit sawo matang itu ketika mengayunkan pedangnya ke udara.
Srettt ....
Sisi tajam menancap, menembus tubuh si pemegang pedang.
Ganti Zea yang menyeringai. Dia menendang tubuh lemah dari
ketinggian batu dan segera bertelungkup menghindari panah es yang kembali
terlontar dari menara. Zea menoleh pada Aran dan mengacungkan ibu jarinya.
“Kerja bagus!”
Aran menutup telapak tangan yang sebelumnya menampilkan benda tajam
serupa golok. “Parang maya,” sebutnya pelan seraya merapal kalimat sambil
berlari melompati batu.
Ketika panah es terlontar, di saat yang sama Aran melemparkan golok
dari tangannya. Tampilan yang sempat muncul, menghilang ditelan udara, lalu
teriakan dalam menara menggema.
“Kau akan menghabiskan tenaga sebelum sampai musuh utama,” protes
Zea. “Berapa kapsul yang kau bawa dari Rivereks?”
“Entahlah.” Aran mengambil kotak dari salah satu saku celananya dan
mengambil kapsul merah seukuran ujung kelingking untuk ditelan. “Kau mau?”
Zea menolak kotak Aran dan kembali melompat menuruni batu hingga
temukan belokan lain. Dia berseru takjub, “Sudah kubilang! Arena kotak ini
menunjukkan belokan yang sama dengan sebelumnya. Telunjuk Zea mengarah pada
ruang kosong di samping menara.
Tidak benar-benar kosong ketika mendapati dua beruang putih yang
ternyata lebih tinggi dari ukuran batu menghadang.
“Sial!” Aran mendesis.
Zea mengamati sambaran dari menara berikutnya. “Listrik?”
Sengatan sesekali mengenai para beruang, tetapi tidak banyak
berpengaruh. Mereka terus maju dan melayangkan cakarnya hingga mengenai bahu
Zea. Pakaian kulit yang melindungi lengannya robek seketika.
“Zea!” teriak Aran karena jarak mereka terbentang karena dipisahkan
serangan beruang.
Zea kembali mundur, terkendala batu di belakang punggungnya dan
menyadari keberadaan panah-panah es yang mulai mencair. “Aran! Arahkan ke
sini!” titah Zea yang langsung dikabulkan pemuda lebih muda tiga tahun darinya
itu.
Aran mencoba memukul beruang, tetapi tenaganya tidak terlalu
banyak. Dibanding melawan tulang manusia, ini lebih seperti memukul ketebalan
yang tidak bisa dipatahkan. Dia terus mundur hingga berada tepat di samping
Zea.
“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Aran mendapati Zea menghindari
tiap cakaran sambil memanaskan panah-panah es yang berjatuhan di permukaan
lantai.
“Memandikan mereka.” Zea naik melalui pinggiran batu dan terus
mencairkan es yang membasahi para beruang.
“Aku juga basah, Zea!” protes Aran karena beruang di dekatnya
mengibaskan bulu.
“Kau akan berterima kasih padaku.” Zea melompat turun dan
menggunakan lengannya yang tidak terluka untuk mengait pegangan Aran. “Pancing
mereka mendekati menara. Listriknya menembak setiap hitungan sepuluh.”
“Pakai caraku?” Aran lepaskan pegangannya dari lengan Zea dan
merobek bagian lengan pakaian yang berdarah untuk menekan bahu Zea, menyerap
darah sementara dia merobek lengan pakaian sebelahnya sebagai penekan luka
setelah bagian kain berdarah dilepaskan. “Aku akan menggunakan ini.”
Aran memanggil para beruang basah dari dekat dengan kain beraroma
darah di tangannya. Perlahan dengan sesekali menghindar, Aran berhasil membawa
mereka mendekati menara yang menembakkan aliran listrik seperti petir menyambar
kala hujan. Sambil menghitung perlahan, ketinggian beruang berhasil menjadi
tameng dari sambaran.
“Ya!” Aran melompat-lompat di tempat setelah berhasil menjatuhkan
kedua makhluk berbulu putih itu. Salahnya, dia sekali memegangi mereka dan
rasakan aliran menyengat di ujung-ujung jari. “Untung saja tidak lama.”
“Dasar ceroboh! Kau bisa mati karena disetrum saat basah,” celetuk
Zea ketika melewatinya seraya menunduk lebih rendah dari ketinggian si beruang.
“Zea?” Kabut seolah menelan penglihatan hingga Aran perlu mengusap
kedua matanya dengan kuat. Bukan Zea yang berada di depannya, melainkan sosok
yang menyerang mereka sebelumnya. Si pirang-cokelat bertubuh tinggi yang harus
dikalahkan.
“Aran?” Zea berbalik setelah menghindari tendangan yang bisa saja
memutus kepalanya. Dia melihat musuh kembali bangkit dan bersiap menebas.
Tidak ada jawaban dari Zea atau Aran. Keduanya sibuk melihat sosok
musuh yang terus menyerang di antara kabut. Menghindar dan melawan. Mereka
saling menyerang di antara halusinasi yang mengacaukan pemikiran dalam
pencarian, sampai pada satu titik.
Zea mengenali cara bertarung Aran yang tidak mungkin dikuasai si
wajah asing. “Aran? Apa itu kau?” tanya Zea sambil menghindari sosok gadis yang
bertarung menggunakan sisi telapak tangan sebagai pemukul dan tendangan tinggi.
“Kau mengenali namaku?”
“Aku Zea?”
“Jangan berdusta!”
“Aran! Aku Zea. Kita bertemu di antara mayat-mayat buangan
Rivereks!”
Serangan Aran berhenti tepat ketika telapak tangannya telah
lemparkan parang maya. Sekali lagi, nyawa Zea terancam jika saja parang itu
mengenai lehernya. Aran berhasil memeluk Zea dan menjatuhkannya ke permukaan
lantai arena.
“Kau selamat ....” Aran embuskan napas lega. Tatapannya tertuju
pada Zea yang terperangah dan mengalirkan cairan dari sudut matanya.
Tampilan mereka kembali pada sosok semula setelah lepas dari kabut
pekat dan menoleh, mendapati gadis lain telah menunggu di ujung arena.
Zea menjatuhkan Aran ke samping dan lebih dulu berdiri, mengamati
gadis setinggi Aran dengan rambut pendek berwarna biru muda. Kulit pucatnya
seperti tidak dialiri darah. Gaun yang dikenakan menegaskan jika gadis itu
bukan dari kalangan petarung.
“Kalian sudah sampai di sini?” Kedua tangan si gadis pucat bergerak
di udara. Kedua mata yang berbeda warna itu menegas seiring munculnya tiga
prajurit dari kabut gelap.
“Apa lagi ini?” Aran di belakang Zea turut memucat melihat prajurit
berpakaian besi yang menutupi keseluruhan tubuh hingga kepala melindungi si
pucat.
“Kalian telah menjatuhkan Nicol?” Getir dalam suaranya menegaskan
kedukaan. “Harusnya dia menurut padaku dan tetap menunggu di sini. Kalian harus
mati.”
Penekanan kalimat si gadis pucat mengawali pergerakan prajurit
gelap. Salah satu dari mereka menguarkan angin besar seperti badai disertai
es-es tajam ke arah Aran dan Zea.
Zea menguarkan bola apinya sebesar serangan menara pertama,
melelehkan setiap es-es menjadi putaran air di antara badai.
Prajurit lain maju membawa pedang di kedua tangan dan mulai menebas
udara di sekitar Aran.
“Zea! Parangku teralihkan karena angin!” keluh Aran, merasa tidak
berguna jika terus menghindar dan berisiko terluka, sementara dia ingat bahu
Zea sedang terluka.
“Berikan padaku!” Zea melemparkan bola apinya pada si pemegang
pedang dan berhasil mengalihkan perhatian. Dia bergerak cepat melalui sela di
antara prajurit dengan menguarkan percikan-percikan api. Jarak yang sangat
pendek di antara sepuluh langkah menuju garis akhir.
Prajurit pedang berhasil menebas selain angin. Dua pelindung kepala
dari besi berguling menuju kaki sang pemanggil berkulit pucat.
Seketika angin dan es berhenti, menyisakan prajurit pemegang pedang
yang lengah karena pemanggilnya terperangah.
“Kalian telah membunuh Nicol?” Pertanyaan yang diulang.
Zea sudah terengah dan pasrah karena kehabisan tenaga setelah
mengeluarkan banyak bola api. Dia melihat duka yang terpancar di balik warna
mata berbeda gadis di sana, serupa dengan kesedihan para pemberontak yang telah
banyak kehilangan.
Prajurit pemegang pedang ganda bersiap menebas di belakangnya.
“Kami tidak boleh mati di sini.” Zea menggeleng. “Kau tahu? Kami
berkali-kali menghadapi kematian dari orang-orang penting di sekitar kami.
Perjuangan kami akan sia-sia jika harus kalah sekarang.” Dia berjalan maju
meski harus terseok.
“Kau? Apa yang kau pertahankan?” tanya Zea kemudian setelah berada
tepat di hadapan si gadis berkulit pucat.
“Aku hanya inginkan Nicol. Berada di sisi Nicol.”
“Bodoh! Hidupmu lebih luas daripada seseorang.”
“Kau tahu apa?” Teriakan histeris dari si gadis pucat menggelegar.
Prajurit di belakangnya melayangkan pedang ke udara. Di saat
bersamaan, Aran menarik Zea menjauh dari kemungkinan serangan. Tepat mengenai
si gadis pucat berambut biru.
Darah mengaliri permukaan arena seiring menghilangnya para
prajurit, seperti debu beterbangan.
Zea terisak, menangis, menarik Aran untuk memeluknya lebih dalam.
Aran melakukannya, menepuk pelan punggung Zea sambil berkata, “Sudah berakhir.”
“Aran .... Kematian lagi ....” Zea menyadarinya. Untuk tujuan lebih
besar, akan selalu ada pengorbanan. Baik dari pihak musuh, atau mungkin dari
pihaknya.
“Tenanglah, Zea. Inilah kehidupan kita. Para petarung akan selalu
menghadapi kematian.”
Altar yang mereka pijak sebagai garis akhir mulai menerangi
keseluruhan arena. Kilapnya menyilaukan mata. Di satu sisi, mereka berharap
tidak akan ada yang harus dikorbankan lagi.
***
Comments
Post a Comment